Sunday, 10 March 2019

BUDIDAYA BELUT YANG MENYENANGKAN DAN MUDAH

Belut adalah binatang air yang dapat digolongkan dalam kelompok ikan, berbeda dengan kebanyakan jenis ikan lainnya, belut bisa hidup dalam lumpur dengan sedikit air. Binatang ini mempunyai dua sistem pernapasan yang bisa membuatnya bertahan dalam kondisi tersebut.

Jenis belut yang paling banyak dikenal di Indonesia adalah belut sawah (Monopterus albus). Di beberapa tempat dikenal juga belut rawa (Synbranchus bengalensis). Perbedaan belut sawah dan belut rawa yang paling mencolok adalah postur tubuhnya. Belut sawah tubuhnya pendek dan gemuk, sedangkan belut rawa lebih panjang dan ramping.

Terdapat dua segmen usaha budidaya belut yaitu pembibitan dan pembesaran. Pembibitan bertujuan untuk menghasilkan anakan. Sedangkan pembesaran bertujuan untuk menghasilkan belut hingga ukuran siap konsumsi.

Kali ini alamtani akan menguraikan tentang budidaya pembesaran belut di kolam tembok. Mulai dari pemilihan bibit hingga pemanenan. Semoga bermanfaat.

Memilih bibit belut

Bibit untuk budidaya belut bisa didapatkan dari hasil tangkapan atau hasil budidaya. Keduanya memiliki kekurangan dan keunggulan masing-masing.

Bibit hasil tangkapan memiliki beberapa kekurangan, seperti ukuran yang tidak seragam dan adanya kemungkinan trauma karena metode penangkapan. Kelebihan bibit hasil tangkapan adalah rasanya lebih gurih sehingga harga jualnya lebih baik.

Kekurangan bibit hasil budidaya harga jualnya biasanya lebih rendah dari belut tangkapan. Sedangkan kelebihannya ukuran bibit lebih seragam, bisa tersedia dalam jumlah banyak, dan kontinuitasnya terjamin. Selain itu, bibit hasil budidaya memiliki daya tumbuh yang relatif sama karena biasanya berasal dari induk yang seragam.

Bibit belut hasil budidaya diperoleh dengan cara memijahkan belut jantan dengan betina secara alami. Sejauh ini di Indonesia belum ada pemijahan buatan (seperti suntik hormon) untuk belut. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pembibitan, silahkan baca kiat sukses pembibitan belut.

Bibit yang baik untuk budidaya belut hendaknya memiliki kriteria berikut:

Ukurannya seragam. Ukuran bibit yang seragam dimaksudkan untuk memudahkan pemeliharaan dan menekan risiko kanibalisme atau saling memangsa.

Gerakannya aktif dan lincah, tidak loyo.

Tidak cacat atau luka secara fisik.

Bebas dari penyakit.

Budidaya belut untuk segmen pembesaran biasanya menggunakan bibit belut berukuran panjang 10-12 cm. Bibit sebesar ini memerlukan waktu pemeliharaan sekitar 3-4 bulan, hingga siap konsumsi. Untuk pasar ekspor yang menghendaki ukuran lebih besar, waktu pemeliharaan bisa mencapai 6 bulan.

Menyiapkan kolam budidaya belut

Budidaya belut bisa dilakukan dalam kolam permanen maupun semi permanen. Kolam permanen yang sering dipakai antara lain kolam tanah, sawah, dan kolam tembok. Sedangkan kolam semi permanen antara lain kolam terpal, drum, tong, kontainer plastik dan jaring.

Kali ini kita akan membahas budidya belut di kola tembok. Kolam tembok relatif lebih kuat, umur ekonomisnya bisa bertahan hingga 5 tahun.

Bentuk dan luas kolam tembok bisa dibuat berbagai macam, disesuaikan dengan keadaan ruang dan kebutuhan. Ketinggian kolam berkisar 1-1,25 meter. Lubang pengeluaran dibuat dengan pipa yang agak besar untuk memudahkan penggantian media tumbuh.

Untuk kolam tembok yang masih baru, sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu selama beberapa minggu. Kemudian direndam dengan air dan tambahkan daun pisang, sabut kelapa, atau pelepah pisang. Lakukan pencucian minimal tiga kali atau sampai bau semennya hilang.

Media tumbuh untuk budidaya belut

Di alam bebas belut sering dijumpai dalam perairan berlumpur. Lumpur merupakan tempat perlindungan bagi belut. Dalam kolam budidaya pun, belut membutuhkan media tumbuh berupa lumpur.

Beberapa material yang bisa dijadikan bahan membuat lumpur/media tumbuh antara lain, lumpur sawah, kompos, humus, pupuk kandang, sekam padi, jerami padi, pelepah pisang, dedak, tanaman air, dan mikroba dekomposer.

Komposisi material organik dalam media tumbuh budidaya belut tidak ada patokannya. Sangat tergantung dengan kebiasaan dan pengalaman. Pembudidaya bisa meramu sendiri media tumbuh dari bahan-bahan yang mudah didapatkan.

Berikut ini salah satu alternatif langkah-langkah membuat media tumbuh untuk budididaya belut:

Bersihkan dan keringkan kolam. Kemudian letakkan jerami padi yang telah dirajang pada dasar kolam setebal kurang lebih 20 cm.

Letakkan pelepah pisang yang telah dirajang setebal 6 cm, di atas lapisan jerami.

Tambahkan campuran pupuk kandang (kotoran kerbau atau sapi), kompos atau tanah humus setebal 20-25 cm, di atas pelepah pisang. Pupuk organik berguna untuk memicu pertumbuhan biota yang bisa menjadi penyedia makanan alami bagi belut.

Siram lapisan media tumbuh tersebut dengan cairan bioaktivator atau mikroba dekomposer, misalnya larutan EM4.

Timbun dengan lumpur sawah atau rawa setebal 10-15 cm. Biarkan media tumbuh selama 1-2 minggu agar terfermentasi sempurna.

Alirkan air bersih selama 3-4 hari pada media tumbuh yang telah terfermentasi tersebut untuk membersihkan racun. Setel besar debit air, jangan terlalu deras agar tidak erosi.

Langkah terakhir, genangi media tumbuh tersebut dengan air bersih. Kedalaman air 5 cm dari permukaan. Pada kolam tersebut bisa diberikan tanaman air seperti eceng gondok. Jangan terlalu padat

Penebaran bibit dan pengaturan air

Belut merupakan hewan yang bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi. Kepadatan tebar untuk bibit belut berukuran panjang 10-12 cm berkisar 50-100 ekor/m2.

Lakukan penebaran bibit pada pagi atau sore hari, agar belut tidak stres. Bibit yang berasal dari tangkapan alam sebaiknya dikarantina terlebih dahulu selama 1-2 hari. Proses karantina dilakukan dengan meletakkan bibit dalam air bersih yang mengalir. Berikan pakan berupa kocokan telur selama dalam proses karantina.

Aturlah sirkulasi air dengan seksama. Jangan terlalu deras (air seperti genangan sawah) yang penting terjadi sirkulasi air. Atur juga kedalaman air, hal ini berpengaruh pada postur tubuh belut. Air yang terlalu dalam akan membuat belut banyak bergerak untuk mengambil oksigen dari permukaan, sehingga belut akan lebih kurus.

Pemberian pakan

Belut merupakan hewan yang rakus. Keterlambatan dalam memberikan pakan bisa berakibat fatal. Terutama pada belut yang baru ditebar.

Takaran pakan harus disesuaikan dengan berat populasi belut. Secara umum belut membutuhkan jumlah pakan sebanyak 5-20% dari bobot tubuhnya setiap hari.

Berikut kebutuhan pakan harian untuk bobot populasi belut 10 kg:

Umur 0-1 bulan: 0,5 kg

Umur 1-2 bulan: 1 kg

Umur 2-3 bulan: 1,5 kg

Umur 3-4 bulan: 2 kg

Pakan budidaya belut bisa berupa pakan hidup atau pakan mati. Pakan hidup bagi belut yang masih kecil (larva) antara lain zooplankton, cacing, kutu air (daphnia/moina), cacing, kecebong, larva ikan, dan larva serangga. Sedangkan belut yang telah dewasa bisa diberi makanan berupa ikan, katak, serangga, kepiting yuyu, bekicot, belatung, dan keong. Frekuensi pemberian pakan hidup dapat dilakukan 3 hari sekali.

Untuk pakan mati bisa diberikan bangkai ayam, cincangan bekicot, ikan rucah, cincangan kepiting yuyu, atau pelet. Pakan mati untuk budidaya belut sebaiknya diberikan setelah direbus terlebih dahulu. Frekuensi pemberian pakan mati bisa 1-2 kali setiap hari.

Karena belut binatang nokturnal, pemberian pakan akan lebih efektif pada sore atau malam hari. Kecuali pada tempat budidaya yang ternaungi, pemberian pakan bisa dilakukan sepanjang hari.

Pemanenan

Tidak ada patokan seberapa besar ukuran belut dikatakan siap konsumsi. Tapi secara umum pasar domestik biasanya menghendaki belut berukuran lebih kecil, sedangkan pasar ekspor menghendaki ukuran yang lebih besar. Untuk pasar domestik, lama pemeliharaan pembesaran berkisar 3-4 bulan, sedangkan untuk pasar ekspor 3-6 bulan, bahkan bisa lebih, terhitung sejak bibit ditebar.

Terdapat dua cara memanen budidaya belut, panen sebagian dan panen total. Panen sebagian dilakukan dengan cara memanen semua populasi belut, kemudian belut yang masih kecil dipisahkan untuk dipelihara kembali.

Sedangkan pemanenan total biasanya dilakukan pada budidaya belut intensif, dimana pemberian pakan dan metode budidaya dilakukan secara cermat. Sehingga belut yang dihasilkan memiliki ukuran yang lebih seragam.

Pustaka

Alamtani. 2019. Panduan Praktis Budidaya Mesjid. Didownload dari laman https://www.youtube.com/watch?v=p0GFHzOsD2I

Saturday, 9 March 2019

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA KUDA LAUT

Di Indonesia kuda laut dikenal dengan nama tangkur kuda. Ikan ini sangat unik karena mempunyai morfologi yang berbeda dibandingkan dengan ikan-ikan lain. Disamping bentuk morfologinya yang khas yaitu bentuk kepalanya menyerupai kepala kuda ikan jantan mempunyai kantung pengeraman telur yang tidak di jumpai pada jenis ikan yang lain.

Namun, ada beberapa kasus kematian pada tiap spesies yang menyebabkan kondisi tubuh ikan melemah antara lain cara perawatan yang kurang baik, pemberian pakan yang tidak mencukupi atau komposisi pakan yang tidak baik. Pengendalian penyakit ikan akan semakin penting dibandingkan sebelumnya karena usaha budidaya akan menguntungkan bila penyakit ikan dikendalikan

Panduan ini disusun agar pembaca dapat mengetahui gambaran umum penyakit ikan khususnya kuda laut. Harapan kami, panduan ini dapat menjadi petunjuk yang bermanfaat bagi siapa yang melakukan budidaya dan pengendalian penyakit pada budidaya ikan air laut.

DESKRIPSI KUDA LAUT

Morfologi Kuda Laut

Kuda laut merupakan anggota genus Hippocampus spp merupakan salah satu dari 35 spesies anggota famili Syngnathidae dan ordo Gasterosteiformes. Taksonomi kuda laut menurut Borton dan Maurice (1983) sebagai berikut :

 Philum : Chordata

 Sub Phylum : Vertebrata

 Sub Kelas : Teleostomi

 Ordo : Gasterosteiformes

 Famili : Syngnathidae

 Genus : Hippocampus

 Spesies : Hippocampus spp

Kuda laut mempunyai ciri-ciri, tubuh agak pipih dan melengkung, sepanjang permukaan perut kasar mempunyai moncong. Ekor lebih panjang dari pada kepala dan tubuh serta dapat memegang. Mata kecil, sirip dada pendek dan lebar. Sirip punggung cukup besar, kepala mempunyai mahkota. Sirip ekor tidak ada dan ekor prehenslide (dapat dilipat) yang berguna untuk berpegangan. Pada kuda laut jantan mempunyai kantung pengeraman yang terletak dibawah perut. Seluruh tubuh terbungkus dengan semacam baju baja yang terdiri atas lempengan-lempengan tulang atau cincin-cincin.

Habitat dan Penyebaran

Sebagian besar ikan-ikan famili Sygnathidae hidup di perairan dangkal yang banyak terdapat rumput laut, mangrove, dan karang. Kuda laut terdiri dari 20 spesies, sebagian besar hidup didaerah Indo Australia, lainnya hidup dipantai-pantai Atlantik Eropa, Afrika, dan Amerika Utara, dengan 2 spesies hidup dipantai Pasifik Amerika.

Kebiasaan Makan dan Reproduksi

Kuda laut termasuk hewan karnivora, memakan segala jenis hewan kecil mulai dari anggota kelompok crustacea sampai larva ikan. Kuda laut adalah pemangsa yang pasif yaitu menunggu makanan yang lewat dan menyerang mangsanya dengan cara menghisap sampai masuk moncongnya yang panjang. Kuda laut mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan warna lingkungan sekitar sehingga susah dikenali oleh pemangsanya.

Proses perkembengan kuda laut cukup menarik yaitu dengan melalui male brooding dalam hal ini betina memindahkan telur-telurnya kedalam kantung pengeraman jantan yang kemudian akan dibuahi sehingga dapat dikatakan bahwa induk jantan yang mengandung, umumnya terjadi mulai bulan Oktober¬–Februari.

BUDIDAYA KUDA LAUT

Kegiatan budidaya kuda laut terdiri atas serangkaian kegiatan yang saling berhubungan. Mata rantai pertama merupakan pemeliharaan calon induk guna mendapatkan induk matang gonad. Selanjutnya merupakan kegiatan pemijahan, pemeliharaan juwana, penggelondongan, dan pengandaan pakan alami.

Salah satu tujuan pemeliharaan induk adalah mendapatkan induk yang matang gonad. Kegiatan pematangan gonad merupakan tahap awal dari serangkain kegiatan pembenihan, dengan pemeliharaan induk yang baik diharapkan induk-induk kuda laut yang matang gonad selalu ada dan menghasilkan telur yang banyak serta siap di buahi baik kualitas maupun kuantitas.

Kematangan gonad pada induk kuda laut tidak seperti ikan-ikan lain pada umumya, yaitu tergantung musim maupun pengaruh rangsangan hormonal. Sepanjang hidupnya kuda laut yang telah memijah dapat memijah kembali setelah 10-12 hari, dengan demikian proses pematangan gonad pada kuda laut termasuk sangat cepat yaitu hanya 10-12 hari saja. Sebagian spesies kuda laut jantan menghasilkan 100-200 kuda laut muda per masa kehamilan, oleh karena itu pemeliharaan induk kuda laut harus dilakukan secermat mungkin agar tidak terserang penyakit yaitu dengan pemberian pakan yang cukup baik kualitas maupun kuantitasnya.

Pada tahap pemeliharaan juwana, sebelum juwana di masukkan ke dalam bak pemeliharaan, juwana terlebih dahulu diadaptasi dengan air media pemeliharaan karena biasanya penyakit sering kali menyerang pada saat juwana berumur 20-90 hari. Juwana kuda laut yang telah berumur 30 hari sudah dapat dikatakan benih. Penyakit yang menyerang benih kuda laut yang berumur >20 hari biasanya disebabkan oleh bakteri sehingga benih kuda laut tersebut cenderung berkurang nafsu makannya, menyendiri, terjadi pembengkakan pada ekor dan menyebabkan juwana ini mati.

Selain itu penyakit umum yang sering menyerang benih juwana yang berumur >20 hari ditandai dengan adanya noda putih, kulit terasa lembut seperti sponge/kapas. Penyakit yang disebabkan oleh jamur ini sekali satu individu terinfeksi maka penyakit ini mudah menyebar.

Untuk mengatasi penyakit yang menyerang pada saat pemeliharaan juwana kuda laut yaitu harus menjaga lingkungan pemeliharaan agar selalu dalam kondisi baik dan pemberian pakan yang cukup. Jika juwana kuda laut tersebut terserang penyakit maka harus dilakukan pengobatan secara realistis jika tidak juwana kuda laut tersebut akan mati. Selain itu kuda laut yang terinfeksi tersebut harus dilihat serta diamati, jka bisa dilakukan pengobatan maka obati tapi jika serangan sudah parah dan tidak mungkin lagi untuk dilakukan pengobatan maka kuda laut tersebut lebih baik disingkirkan.

PENYAKIT KUDA LAUT

Penyakit dan Gejala Umum yang Menyerang Kuda Laut

Penyakit dengan Pengobatan Alami

DAFTAR PUSTAKA

AnoniM., 2002. Obat Tradisional Indonesia. http://www.iptek.net.id.

Borton dan Maurice. 1993. Taksonomi dan Morfologi. Pembenihan Kuda Laut. Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perikanan Balai Budidaya Laut lampung.

Nagaring C.F. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Kuda Laut Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor

Sudjiharno. 1998. Pembenihan Kuda Laut. Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perikanan Balai Budidaya Laut lampung. .

Friday, 8 March 2019

MUDAHNYA MEMBUAT PAKAN MANDIRI

Pakan ikan adalah komponen paling penting dalam usaha budidaya ikan, termasuk ikan lele, soalnya, harga pakan lele tidak murah. Sebagian besar bahan bakunya diimpor. Hal ini banyak dikeluhkan para peternak ikan.

Untuk menjawab kendala di atas, ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara membuat pakan lele alternatif dan sebagai subtitusi pelet buatan pabrik. Terdapat dua tipe pakan alternatif yang akan dipaparkan di sini, yakni pakan dari bahan-bahan utama dan pakan yang memanfaatkan bahan sisa-sisa.

Pakan dari bahan utama dibuat dari bahan-bahan yang memiliki kandungan nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan lele. Sedangan pakan tambahan didapatkan dari bahan-bahan organik sisa atau yang harganya murah dan ketersediaanya melimpah.

Kandungan nutrisi pakan

Pakan lele yang baik harus memenuhi rasio pemberian pakan dengan penambahan bobot tubuh kurang dari satu (Feed Conversion Ratio/FCR>1). Artinya, setiap pemberian pakan sebanyak 1 kg akan menambah bobot tubuh sebanyak 1 kg. Jadi semakin kecil rasio FCR-nya, semakin baik pakannya.

Penyediaan pakan lele untuk pakan utama harus memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Pakan tersebut harus mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Protein berfungsi sebagai sumber energi utama. Jenis ikan karnivora semacam lele membutuhkan protein yang tinggi yaitu lebih dari 35% dari berat pakan.

Lemak dibutuhkan sebagai sumber energi tambahan penting. Selain sebagai sumber energi, lemak sangat penting untuk kelangsungan hidup ikan, melarutkan beberapa jenis vitamin dan menjaga keseimbangan daya apung ikan dalam air. Penambahan lemak pada pakan juga mempengaruhi rasa dan mutu pakan. Lele membutuhkan lemak dengan kadar 4-5 persen dari berat pakan. Kadar lemak tidak boleh berlebihan karena bisa menyebabkan penimbunan lemak pada usus dan hati ikan, sehingga ikan jadi kurang nafsu makannya.

Karbohidrat terdiri dari senyawa serat kasar dan bahan bebas tanpa nitrogen. Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi. Selain berfungsi sebagai nutrisi, karbohidrat juga bisa menjadi bahan perekat dalam pembuatan pakan lele. Kandungan karbohidrat pada pakan lele sebaiknya ada pada kisaran 4-6 persen.

Vitamin merupakan zat organik yang dibutuhkan ikan dalam jumlah kecil, namun peranannya sangat vital. Perannya untuk mempertahankan kondisi dan daya tahan tubuh. Vitamin umumnya tidak dapat disintesis oleh tubuh ikan, jadi harus dipenuhi dari luar atau pakan. Kebutuhan vitamin akan menurun seiring dengan pertumbuhan besar ikan.

Satu lagi yang dibutuhkan dalam jumlah kecil namun penting, yakni mineral. Mineral ini memainkan peran penting dalam membangun struktur tulang ikan dan dalam fungsi metabolisme. Mineral terdiri dari makromineral dan mikromineral. Makromineral yang terkandung dalam tubuh ikan diantaranya kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K), fosfor (K), klorida (Cl) dan sulfur (S). Sedangkan mikromineral antara lain besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), iodium (I), kobalt (Co), nikel (Ni) fluor (F), krom (Cr), silikon (Si) dan selenium (Se).

Membuat pakan lele alternatif

Pakan alternatif pengganti pelet bisa kita buat dari berbagai bahan. Kandungan utama pelet yang paling dominan adalah tepung ikan. Tepung ikan digunakan karena kandungan proteinnya yang tinggi dan gizi lainnya. Namun harga tepung ikan ini mahal, oleh karena itu kita bisa mencampurnya dengan bahan-bahan lain yang lebih murah tanpa mengurangi kandungan protein yang ada.

Pakan lele alternatif yang kita buat harus disesuaikan dengan kebutuhan standar ikan lele untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dan cepat (lihat kembali tabel di atas). Untuk itu, ada banyak bahan alternatif yang bisa kita dapatkan, sebaiknya yang menjadi acuan adalah kandungan protein. Berikut tabel berbagai bahan beserta kandungannya dalam satuan persen (%):

Bahan Protein Lemak Tepung Ikan 62.99 8.4 Tepung Kedelai 36,6 14.30 Bungkil Kelapa 18.46 15.73 Tepung Jagung 10.40 0.53 Dedak Halus 15.58 6.8 Tepung Tapioka 2.6 2.6

Misalnya, kita ingin membuat pakan lele dari campuran 50 kg tepung ikan (kandungan protein 62,9%) dengan 50 kg dedak halus (15,58%), apakah campuran tersebut memenuhi kebutuhan protein ikan lele?

Jumlah protein dalam tepung ikan = 62,9% x 50 kg = 31,45 kg

Jumlah protein dalam dedak halus = 15,58 x 50 kg = 7,79 kg

Jumlah total protein dari tepung ikan dan dedak halus = 39,24 kg

Artinya dari total berat bahan baku 100 kg didapat protein 39,24 kg atau 39,24% dari adonan tersebut adalah protein. Hal ini mencukupi untuk pakan lele dimana minimal tersedia kandungan protein kasar sebanyak 30%.

Untuk memperkaya kandungan nutrisi, kita bisa menambahkannya dengan berbagai vitamin ikan yang tersedia di pasaran.

Membuat pakan lele tambahan

Disebut pakan tambahan karena tujuannya untuk melengkapi pemberian pakan utama. Kandungan nutrisi pada pakan lele tambahan tidak bisa ditakar dengan tepat. Namun kandungannya masih bisa kita kira-kira. Pemberian pakan lele tambahan dalam budidaya lele intensif bisa menekan biaya pengeluaran pakan, sehingga peternak bisa menikmati keuntungan yang lebih besar. Bahan-bahan berikut disarikan dari pengalaman-pengalaman para peternak lele.

a. Limbah peternakan unggas

Beruntung bagi peternak yang lokasinya dekat dengan peternakan unggas (ayam atau puyuh). Peternakan unggas biasanya menghasilkan limbah berupa ayam mati dalam jumlah yang kontinyu. Limbah tersebut bisa kita gunakan untuk pakan lele. Karena ikan lele pada hakikatnya adalan hewan karnivora.

Bangkai ayam atau puyuh sebaiknya tidak diberikan begitu saja untuk menghindari terjangkitnya penyakit pada ikan. Bangkai harus dibersihkan terlebih dahulu bulu dengan cara direbus. Selain menghilangkan bulu, proses perebusan berfungsi untuk membunuh bibit penyakit yang mungkin terkandung dalam bangkai. Perebusan bisa dilakukan dalam drum-drum besar.

Setelah direbus diamkan bangkai tersebut sampai dingin, lalu berikan pada ikan lele pada hari yang sama. Pakan diberikan dengan cara digantung dan celupkan pakan dalam air kolam. Setelah habis angkat kerangka yang tersisa jangan sampai menjadi residu dalam kolam.

b. Keong mas atau bekicot

Disebagian tempat, keong mas merupakan hama bagi petani padi. Kita bisa memanfaatkan daging keong yang kaya protein untuk pakan lele tambahan. Keong mas mudah ditemukan di daerah pesawahan. Cara mengumpulkannya pun mudah, apalagi kalau tempat kita ada di pedesaan. Tinggal pasang plang, terima keong mas lalu nego, beres urusan.

Sama seperti bangkai unggas, keog mas hendaknya tidak diberikan secara langsung. Rebus terlebih dahulu keong mas atau bekicot dalam air mendidih selama beberapa menit. Perebusan ini fungsinya untuk mengempukan daging, memudahkan pelepasan cangkang, dan membunuh bibit penyakit yang tidak dikehendaki. Setelah direbus, lepaskan cangkangnya dengan cara dicukil menggunakan garpu. Kemudian, daging keong didinginkan dan dicincang kecil-kecil.

c. Belatung

Belatung (maggot) merupakan sumber protein yang baik buat ikan lele. Belatung dihasilkan dari lalat. Ada beberapa jenis belatung yang cocok untuk dijadikan, salah satunya dari lalat black soldier fly (Hermetia illucens). Mengapa black soldier fly? Karena belatung ini memiliki kandungan protein kasar hingga 40% dan menurut penelitan BBPBAT cocok untuk pakan lele tambahan.

Untuk membiakkan belatung ini cukup sediakan ember, daun pisang, ampas tahu, sisa ikan asin dan bisa ditambahkan kotoran ayam. Caranya masukkan ampas tahu sebagai bahan utama kedalam ember, lalu tambahkan air bersih dan aduk hingga rata. Kemudian tambahkan ikan asin dan kotoran ayam, lalu tutup permukaannya dengan daun pisang kering agar lalat black soldier fly mau bertelur. Tempatkan ember ditempat teduh dan terlindung dari air hujan.

Setelah kira-kira 3 minggu atau bisa saja kurang dari itu, belatung sudah siap dipanen. Caranya campurkan air pada media kultur, lalu saring untuk memisahkan media kultur dari belatung. Belatung siap diberikan sebagai pakan lele. Untuk bahan baku media kultur sebanyak 100 kg kira-kira akan dihasilkan belatung 60 kg. Perhatikan, jangan menyimpan belatung segar terlalu lama karena bisa berubah menjadi lalat.

d. Ikan rucah

Bagi para peternak yang lokasinya berdekatan dengan tempat pelelangan ikan, opsi ini bisa menjadi pilihan yang efektif. Ikan rucah atau ikan sisa tangkaapan yang kecil-kecil yang tidak dikonsumsi manusia biasanya dijual dengan harga murah. Ikan ini bisa kita manfaatkan untuk pakan lele tambahan.

Ikan rucah biasanya tidak banyak mengandung tulang atau duri. Bagi ikan rucah seperti ini tidak memerlukan pengolahan terlebih dahulu. Bisa langsung dicincang dan diberikan pada lele. Namun bagi ikan yang banyak mengandung tulang atau duri, sebaiknya direbus dahulu.

Pustaka

Kurniawan P.S., 2019. Membuat sendiri pakan lele alternatif. Didownload dari laman https://alamtani.com/pakan-lele-alternatif/

Thursday, 7 March 2019

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN KERAPU BEBEK

Ikan kerapu merupakan ikan bernilai ekonomis tinggi dan permintaan kerapu hidup untuk konsumsi semakin meningkat. Selama ini kebutuhan akan ikan kerapu ukuran konsumsi diperoleh dari penangkapan di alam, yaitu di perairan karang.

Dalam budidaya, keberhasilan di bidang produksi sangat ditentukan oleh beberapa faktor antara lain penyediaan benih, kualitas air, pengelolaan dan sebagainya. Penyakit merupakan salah satu kendala utama dalam keberhasilan produksi yang sangat merugikan. Timbulnya penyakit adalah suatu proses yang dinamis dan merupakan interaksi antara inang (host), jasad penyakit (patogen) dan lingkungan. Lingkungan terutama sifat fisik, kimia dan biologi perairan akan sangat mempengaruhi keseimbangan ikan sebagai inang dan organisme penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stress dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan patogen.

Tingkat keberhasilan usaha budidaya ikan selain ditentukan oleh pemberian pakan yang tepat juga sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan tempat hidupnya. Dinamika kondisinya sangat mudah terpengaruh oleh bahan kimia terlarut, iklim mikro dan perlakuan yang dilakukan. Oleh karena itu kita harus memahami kualitas air dan interaksinya.

DESKRIPSI IKAN KERAPU

KLASIFIKASI

Klasifikasi Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) digolongkan pada :

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Osteichtyes

Sub class : Actinopterigi

Ordo : Percomorphi

Sub ordo : Percoidae

Family : Sarraanidae

Genus : Cromileptes

Species : Cromileptes altivelis

MORFOLOGI

Kerapu bebek memiliki sirip dorsal (punggung), sirip anal (perut), sirip pektoral (dada), sirip garis lateral (gurat sisi),dan sirip caundal (ekor). Selain sirip, di bagian tubuhnya terdapat sisik yang berbentuk sikloid.

Bentuk tubuh bagian punggung meninggi dengan bentuk cembung (concane) ketebalan tubuh sekitar 6,6-7,6 cm dari panjang spesifik. Sementara panjang tubuh maksimal mencapai 70 cm. Lobang hidungnya besar berbentuk bulan sabit vertikal kulit berwarna terang abu-abu kehijauan dAn bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan dan sirip,pada kerapu muda bintik-bintik hitamnya lebih besar dan sedikit.

HABITAT

Ikan kerapu bebek banyak di jumpai di perairan batu karang atau daerah karang kapur, hidup dalam kedalaman 7-40 meter. Dalam siklus hidupnya ikan kerapu bebek muda hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5-3 meter, selanjutnya menginjak dewasa menuju ke perairan yang lebih dalam,dan biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan senja hari. Telur larva kerapu bebek bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat domesal. 3

BUDIDAYA IKAN KERAPU

Ikan kerapu yang telah berhasil dibenihkan diantaranya adalah ikan kerapu bebek, kerapu macan, kerapu lumpur dan kerapu malabar. Sedangkan kerapu alis/Napoleon dan kerapu sunu masih dalam penelitian. Dalam teknik pembenihan untuk ikan kerapu tikus, macan, malabar dan lumpur pada prinsipnya sama.

TEKNIK PEMBENIHAN

Pemijahan induk

Keberhasilan pemijahan induk ikan kerapu merupakan kunci awal dari seluruh mata rantai kegiatan produksi benih ikan kerapu. Dengan pengelolaan induk yang baik akan dihasilkan produksi telur dengan mutu yang baik sehingga pada akhirnya akan diharapkan produksi benih ikan kerapu dengan sintasan yang tinggi.

a. Pengelolaan induk

Induk ikan kerapu berasal dari hasil penangkapan di alam. Induk dipelihara dalam bak beton berbentuk bulat ( 10 meter dan kedalaman 3 meter). Bak pemeliharaan induk juga sekaligus merupakan bak pemijahan. Sirkulasi air dalam bak pemeliharaan induk dilakukan terus menerus sebanyak 200 - 300% setiap harinya dengan menggunakan pompa elektromotor 20 PK ( pipa 8”) kemudian dilengkapi pipa distribusi ke dalam bak induk dengan  4”. Dalam bak diberi aerasi sebanyak 20 titik dengan jarak titik satu dengan yang lainnya kurang lebih 2 meter. Untuk menjaga kualitas air dalam bak induk tetap prima dilakukan dengan mengatur pembuangan air atas dan air bawah. Siang hari dilakukan pembuangan air bawah dan malam hari dilakukan pembuangan air atas. Selama masa pemeliharaan induk, dilakukan pemberian pakan berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah. Jenis-jenis ikan yang biasa diberikan pada induk ikan kerapu adalah ikan layang, ikan selar, ikan teri, ikan belanak dan cumi-cumi. Dosis pemberian pakan adalah 3-5 % dari total berat induk Pemberian pakan dilakukan pagi hari antara jam 07.00-08.00 setiap harinya. Induk juga diberikan tambahan vitamin E @ tocopherol (Nature E) dengan dosis 100 IU per kg induk per minggu yang bertujuan untuk memacu perkembangan gonade ikan. Sedangkan untuk menambah daya tahan induk terhadap serangan penyakit diberikan vitamin C dengan dosis 50 mg/kg induk setiap 2 minggu sekali. Induk juga diberikan vitamin B-Compleks dengan dosis 50 mg/kg induk per 2 minggu sekali dengan tujuan untuk menambah nafsu makan ikan.

b. Pemijahan induk

Metoda pemijahan ikan kerapu pada dasarnya dapat dilakukan dengan manipulasi hormonal (aplikasi hormon steroid) dan manipulasi lingkungan. Pemijahan alami dengan manipulasi lingkungan. Setiap pagi, setelah induk kerapu diberi makan, air dalam bak pemijahan diturunkan sampai kedalaman ± 50 cm diatas sirip punggung. Kondisi ini dibiarkan selama 5-7 jam dan air masuk (inlet) tetap dibiarkan mengalir. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air + 1-3oC. Kemudian pada sore hari mulai jam 15.00 dilakukan penambahan air laut segar sampai mencapai ketinggian optimal (3 meter) dan dilakukan sirkulasi sepanjang malam hari. Perlakuan ini dilakukan secara terus menerus sampai terlihat tanda-tanda birahi. Ciri-ciri induk ikan kerapu betina yang siap memijah adalah perut gendut dan lubang genital kemerahan. Sedangkan untuk induk jantan yang matang gonade mempunyai ciri-ciri kulit lebih terang, agresif (selalu mengejar betina) dan lubang genital kemerahan. Pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan gelap (bulan lunar) yaitu antara tanggal 20-10 bulan lunar dan terjadi pada malam hari antara jam 20.00-02.00

c. Panen telur

Telur ikan kerapu hasil pemijahan yang baik mempunyai ciri-ciri berbentuk bulat,  850-950 mikron, melayang di permukaan air dan transparan. Sedangkan telur yang jelek atau tidak berkembang selnya dengan sempurna mempunyai kenampakan keruh dan setelah beberapa saat ditampung akan mengendap. Setiap kali terjadi pemijahan induk, telur ditampung dalam bak penampungan telur yang dilengkapi jaring hapa (egg collector). Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara jam 06.00-07.00. Telur hasil panenan ditampung dalam akuarium dan dilakukan seleksi dan penghitungan jumlah telur dengan metoda volumetri. Setelah 18-25 jam dari saat pembuahan, pada suhu 27-28o C telur ikan kerapu akan menetas.

Pemeliharaan larva

Kegiatan pemeliharaan larva dimulai dari persiapan bak, penebaran dan penetasan telur, perkembangan larva, pakan dan pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, penanggulangan penyakit dan panen benih.

a. Persiapan bak

- Bak pemeliharaan larva berbentuk segi empat dengan volume 12,5 ton (5 x 2 x 1,25 meter).

- Sebelum diisi bak dibersihkan dengan kaporit (100-150 ppm), dibilas dengan air tawar dan sabun serta kemudian dikeringkan.

- Aerasi yang digunakan untuk mensuplai oksigen dipasang dengan jarak antar titik sekitar 50 cm.

- bak diisi dengan air laut. Air laut disaring melalui filter pasir. Salinitas air laut berkisar 30-32 ppt. Pengisian dilakukan - sehari sebelum penebaran telur serta diberi aerasi kuat selama 24 jam. Hal ini dimaksudkan untuk mempertinggi kadar oksigen terlarut yang berguna untuk penetasan telur.

b. Penebaran telur

- Setelah persiapan bak selesai, telur ditebar dengan kepadatan telur yang ditebar antara 10 – 20 butir/lite. Penebaran telur dilakukan setelah perkembangan embrio mencapai stadia neurola akhir, karena dari hasil pengamatan pada stadia ini perkembangan embrio sampai menetas memerlukan waktu relatif lama. Telur yang ditebarkan sebelum stadia neurola sering terjadi kerusakan karena perkembangan stadia sebelumnya (blastula dan gastrula) sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan perkembangan embrio pada stadia tersebut berjalan relatif cepat.

- Telur menetas antara 18-20 jam setelah pemijahan pada suhu 27-190C.

- Larva ikan kerapu baru menetas disebut sebagai D-0. Untuk menjaga kualitas air, cangkang-cangkang telur dan telur yang tidak menetas segera disiphon.

c. Perkembangan larva

- Pada saat awal penetasan, aerasi dikecilkan. Hal ini dimaksudkan agar larva kerapu yang baru menetas tidak teraduk oleh arus yang ditimbulkan aerasi.

- Pada saat menetas (D-0) sampai D-2, larva kerapu belum memanfaatkan pakan dari luar karena masih memiliki cadangan pakan berupa kuning telur.

- larva mulai membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Brachionus plicatilis).

- Pada umur D-8, bakal sirip punggung dan sirip perut mulai tampak berupa tonjolan. Pada D-10 tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina berlangsung sampai D-20 s/d D-21 dan selanjutnya akan berubah bentuk menjadi duri keras pertama pada sirip punggung dan sirip perut.

- Pada D-25 mulai muncul bintik-bintik hitam dipermukaan tubuhnya secara merata, larva ikan kerapu sudah mulai menjadi ikan muda.

d. Pakan dan pemberian pakan

- Pakan yang dipersiapkan untuk larva ikan kerapu terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang dipersiapkan melalui kultur massal secara terpisah seperti Chlorella Sp. ; rotifera (Brachionus plicatilis); Artemia dan jambret (Mysidaceae).

- Sedangkan pakan buatan diberikan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi larva jika pakan alami tidak mencukupi.

e. Pengelolaan kualitas air

- Dilakukan penyiponan dasar bak bila terlihat dasar bak kotor, larva juga diberikan Chlorella Sp. dengan kepadatan

- 250 – 300 ribu sel/ml. Pemberian Chlorella Sp. ini terus dilakukan sampai larva berumr D-30.

- Pergantian air juga dilakukan sesuai dengan umur larva. Pada D-5 sampai D-9 pergantian air 5 % per hari. Pada D-10 sampai D-19 pergantian air 10-15 % per hari. D-20 sampai D-30 pergantian air 20-30 % per hari dan mulai D-30 pergantian air dilakukan 50 % per hari. Panen dan pasca panen

- Pemanenan dapat dilakukan setelah larva berumur 50-90 hari atau telah mencapai ukuran panjang 4-5 cm (2”).

TEKNIK PEMBESARAN IKAN KERAPU

Kegiatan budidaya ikan kerapu yang sudah mulai berkembang adalah pembesaran dalam karamba jaring apung (KJA) di laut. Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan untuk budidaya ikan kerapu di bak terkontrol secara intensif maupun di kolam air laut (tambak).

Pembesaran di KJA

a. Pemilihan lokasi

faktor yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan kegiatan budidaya ikan kerapu di KJA adalah pemilihan lokasi. Parameter yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi tersebut adalah:

• Lokasi terlindung dari gangguan angin dan gelombang yang kuat.

• Kedalaman air minimal 15 m,

• Lokasi harus terhindar dari pengaruh pencemaran, mudah diperoleh sarana dan prasarana yang diperlukan. Selain itu lokasi tersebut memenuhi persyaratan fisika dan kimia air seperti : - Salinitas 20-35 ppt

- Suhu 27-32oC

- DO > 5 ppm

- PH 7,5-9,0

- Ammonia dan nitrit < 0,1 ppm

b. Sarana budidaya

• Kerangka/rakit : berfungsi untuk menempatkan kurungan (jaring), terbuat dari bahan bambu, kayu atau pipa galvanis yang telah dicat anti karat. Bentuk dan ukuran kerangka/rakit bervariasi tergantung dari ukuran yang digunakan, sebuah rakit biasanya terdiri dari empat buah kurungan (jaring).

• Pelampung : berfungsi untuk mengapungkan keseluruhan sarana budidaya, dapat digunakan pelampung dari bahan drum oplastik, drum besi atau pelampung styrofoam. Ukuran dan jumlah pelampung yang dipergunakan disesuaikan dengan besarnya beban dan daya apung dari pelampung, Pelampung diikatkan pada rakit dengan tali polyethylene (PE)  0,8-1,0 cm.

• Kurungan atau wadah untuk memelihara ikan : terbuat dari bahan polyethylene (PE). Pemilihan bahan-bahan ini didasarkan atas daya tahannya terhadap pengaruh lingkungan dan harganya relatif lebih murah jika dibandingkan degan bahan-bahan yang lain. Bentuk dan ukuran kurungan bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan serta faktor kemudahan dalam pengelolaannya. Ukuran kurungan ummnya adalah (2 x 2 x 2) m3; (3 x 3 x 3)m3 atau (3 x 3 x 5) m3. Lebar mata (mesh size) kurunga disesuaika degan ukuran ikan yang dibudidayakan, misalnya untuk ikan panjang kurang dari 10 cm lebar mata digunakan adalah 8 mm (5/16 “), panjang ikan 10-15 cm lebar mata 25 mm (1”) serta apabila panjang ikan > 15 cm lebar mata adalah 25-50 mm (1-2”)

• Jangkar : berfungsi untuk menahan keseluruhan sarana budidaya agar tetap pada tempatnya. Jangkar yang dipergunakan harus mampu menahan sarana budidaya dari pengaruh arus, angin dan gelombang. Jangkar dapat terbuat dari besi, karung berisi pasir atau balok semen/beton. Jangkar diikat dengan tali PE dan panjangnya tergantung kedalaman perairan, biasanya 3 kali kedalaman perairan pada saat pasang tinggi.

Tehnik Pembesaran

Penebaran Benih : Benih ikan kerapu ukuran panjang 4-5 cm (2”) dari hasil tangkapan di alam maupun dari hasil produksi di tempat pembenihan (hatchery) biasanya didederkan terlebih dahulu dalam bak beton atau waring nylon sampai mencapai ukuran glondongan (10 cm) untuk kemudian ditransfer ke karamba jaring apung di laut sampai mencapai ukuran konsumsi. Padat penebaran untuk benih yang beratnya 20-50 gram/ekor adalah 10 ekor/m3 .

• Pakan : Pakan yang biasanya diberikan dalam pembesaran ikan kerapu adalah ikan rucah (trash fish) dalam bentuk segar, seperti ikan selar, tamban atau layang. Jenis ikan ini mengandung protein tinggi dan kadar lemaknya rendah. Rasio konversi pakan biasanya berkisar antara 7-8, artinya untuk mendapatkan daging ikan 1 kg diperlukan 7-8 kg ikan rucah. Pakan yang diberikan sebaiknya dalam keadaan segar dengan dosis 5-10 % dari bobot biomas setiap harinya.

• Pengelolaan ikan : Kurungan apung sebagai tempat untuk membudidayakan ikan kerapu merupakan lingkungan yang terbatas, sehinga kebebasan ikan terbatas pula. Akibat dari keadaan ini terjadi pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan, ruang gerak maupun perbedaan aktivitas ikan. • Untuk itu dilakukan penjarangan dengan jalan mengurangi kepadatan dipindah ke jaring lainnya.

• Pengelolaan sarana budidaya : Sarana budidaya berupa rakit, kurungan apung, pelampung dan sarana lainya harus mendapat perawatan secara berkala.

• Pengendalian Penyakit : Penyakit yang banyak menyerang ikan kerapu yang dibudidayakan dalam karamba jaring apung adalah disebabkan oleh krustacea, trematoda, protozoa, jamur, bakteri dan virus. Krustacea dan trematoda biasanya menyerang insang, sedangkan protozoa, jamur, bakteri dan virus menyerang bagian tubuh yang luka. Gejala ikan kerapu yang sakit berbeda-beda tergantung penyakit yang menyerangnya serta daya tahan tubuh ikan yang diserang. Gejala tersebut harus diketahui untuk menentukan cara pengendalian yang tepat dan efisien.

• Panen : Ukuran panen dapat disesuaikan dengan permintaan pasar. Biasanya ukuran yang dikehendaki pasar (ukuran konsumsi) adalah 0,5-1 kg per ekor ikan. Untuk mencapai ukuran 500-1000 gram, ikan kerapu tikus berbobot tebar 20-50 gram harus dipelihara selama 10-12 bulan.. Selama masa pemeliharaan diperlukan seleksi ukuran (grading) setetah bulan kelima untuk mengurangi variasi ukuran yang terlalu tajam sehingga diharapkan ukuran panen pada bulan ke-12 adalah relatif seragam. Ikan kerapu tikus mempunyai harga jual yang tinggi biasanya dalam keadaan hidup. Untuk itu penanganan pasca panen juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

PENANGANAN PENYAKIT IKAN

Jenis- jenis parasit yang sering menyerang ikan kerapu bebek dan cara pengobatannya dengan menggunakan bahan kimia dan alami sebagai berikut :

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kelautan dan Perikanan Derektorat Jenderal Perikanan Budidaya Balai Budidaya Laut Lampung (2001 ) Pembesaran kerap macan (epinephelus fuscoqutattus) dan kerapu bebek (cromileptes altivelis)

http://www.google.com/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com/_n-7fOeq--8s/S-IkcaoqipI/AAAAAAAAAEo/DBWiaIpqzgk/s320/BEBEK.jpg&imgrefurl=http://tipspetani.blogspot.com/2010/05/pembesaran-ikan-kerapu-bebek.html&h=198&w=320&sz=17&tbnid=JhrgPYpcf5Yy7M:&tbnh=90&tbnw=145&zoom=1&usg=__rRlf658huJZgwJA9X97j5ytp-e0=&docid=PSvJkBCfCa3siM&hl=id&sa=X&ei=XfiGUa2LPMfqrAeCw4HQCg&ved=0CDMQ9QEwAg&dur=37

Johanis dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Kerapu Bebek Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol.III No.4 Tahun 1997. Parasit Pada Ikan Kerapu Di Panti Benih Dan Upaya Penanggulangannya. Zafran*), Isti Koesharyani**) , dan Kei Yuasa

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol.III No.4 Tahun 1997. Studi Tentang Penyakit Bakterial Pada Ikan Kerapu Isti Koesharyani*) dan Zrafran*)

Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma, et. al. 1998, Tanaman berkhasiat Obat di Indonesia, hal 133-136, Penerbit Pustaka Kartini.

Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma dan Dr. Setiawan Dalimartha., 1997 Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah Tinggi. Hal 80-82, Penebar Swadaya, Jakarta.

Syamsul Akbar, Pg D ip, Drs Sudaryanto Pembenihan dan Pembesaran Kerape Bebek, Penebar Swadaya 2002

Zufran et.al.,Parasit pada Ikan Kerapu Di Panti Benih dan Upaya Penanggulangannya,Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia vol.III No.4 Tahun 1997

Tuesday, 5 March 2019

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN KERAPU SUNU

Kerapu sunu (Plectropomus maculatus) merupakan salah satu ikan konsumsi air laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Keistimewaan lainnya adalah rasa dagingnya yang gurih dan lezat. Untuk pasar ikan kerapu sunu sendiri tidak hanya pasar lokal melainkan juga pasar luar negri seperti: Jepang, Singapura, Hongkong, dll.

Sampai saat ini yang dapat dipenuhi pasar baru sebagian kecilnya saja dari permintaan yang ada. Hal ini disebabkan produksinya hanya dari tangkapan alam saja, sehingga tidak kontinu.

Ikan ini sangat berpotensi sekali untuk dikembangkan dan telah terbukti dapat dibudidayakan secara optimal baik di (Karamba Jaring Apung) KJA, tambak, maupun bak-bak budidaya. Peluang pembudidayaannya masih sangat terbuka, karena potensi lahan untuk KJA, tambak, dan bak budidaya masih banyak tersedia dan belum dimanfaatkan dengan optimal. Disamping itu teknologi budidaya kerapu sunu sudah dikuasai , namun ada sedikit kendala pada tahap (stadia) larva. Namun sudah dapat teratasi dengan penggunaan teknologi yang semakin canggih. Untuk pembenihan, pendederan, penggelondongan, hingga pembesaran dapat digunakan teknologi yang ada.

Namun dalam proses budidaya banyak ditemukan kendala –kendala mulai dari kualitas air, padat tebar, wadah budidaya, paka, penyakit, dll. sedangkan budidaya sendiri mempunyai tujuan akhir adalah produksi. Bagaimana bisa berproduksi apabila kendala-kendala ini tidak teratasi?

Kendala utama yang merugikan pembudidaya adalah penyakit. Sebab apabila ikan yang dibudidayakan sudah terserang penyakit otomatis ikan tersebut pertumbuhannya kerdil, proses pemeliharaannya menjadi lebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat padat tebar yang rendah, dan yang sangat ditakutkan adalah kematian.

Salah satu usaha penanggulangan dan pencegahan adalah dengan pengobatan. Pengobatan lebih ditekankan pada penggunanan pendekatan alami, dengan pendekatan alami diharapkan mampu memberikan hasil yang maksimal dan tidak mengakibatkan adanya efek samping.

Bahan alami yang digunakan antara lain umbi kunyit, daun sirih, dan buah mahkota dewa. Tidak diragukan lagi khasiat penggunaannya sudah terbukti dari dahulu kala banyak digunkan oleh nenek moyang.

MENGENAL IKAN KERAPU SUNU

Morfologi Ikan Kerapu Sunu

Kerapu sunu memiliki sirip dorsal, sirip anal, sirip pektoral,sirip garis lateral, dan sirip caudal. Kerapu sunu tubuhnya memanjang agak gilik dan sering berwarna merah atau kecoklatan. Bintik-bintik berwarna biru dengan tepi berwarna gelap dan enam pita berwarna gelap pada tubuhnya. Class : Teleostei Ordo : Perciformes Famili : Serranidae Genus : Plectropomus

Spesies : plectropomus maculatus

Ikan kerapu sunu hidupnya di perairan karang antara 7-40 meter. Di Indonesia sendiri penyebarannya di daerah perairan Karimunjawa, Kepulauan Seribu, Lampung, Kepulauan Riau, dan hampir seluruh perairan karang Indonesia.

Tingkah Laku ikan ikan kerapu sunu

Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5-3,0 m. kerapu muda dan larva banyak terdapat di perairan pantai dekat muara sungai. Menginjak masa dewasa, ikan ini bermigrasi ke perairan lebih dalam, antara 7-40 m.

PEMELIHARAAN IKAN KERAPU SUNU

Pemeliharaan ikan kerapu sunu dalam budidaya umunya dilakukan di perairan umum seperti dalam Karamba Jaring Apung dan tambak. Sedangkan fase pembenihan banyak dibudidayakan di bak-bak pembenihan seperti panti benih.

Pembenihan

Keberhasilan pemijahan induk ikan kerapu merupakan kunci awal dari seluruh mata rantai kegiatan produksi benih ikan kerapu. Dengan pengelolaan induk yang baik akan dihasilkan produksi telur dengan mutu yang baik sehingga pada akhirnya akan diharapkan produksi benih ikan kerapu dengan sintasan yang tinggi.

Induk ikan kerapu berasal dari hasil penangkapan di alam. Induk dipelihara dalam bak beton berbentuk bulat ( 10 meter dan kedalaman 3 meter). Bak pemeliharaan induk juga sekaligus merupakan bak pemijahan

Metoda pemijahan ikan kerapu pada dasarnya dapat dilakukan dengan manipulasi hormonal (aplikasi hormon steroid) dan manipulasi lingkungan. Pemijahan alami dengan manipulasi lingkungan.

Telur ikan kerapu hasil pemijahan yang baik mempunyai ciri-ciri berbentuk bulat,  850-950 mikron, melayang di permukaan air dan transparan. Sedangkan telur yang jelek atau tidak berkembang selnya dengan sempurna mempunyai kenampakan keruh dan setelah beberapa saat ditampung akan mengendap.

Pembesaran

Penebaran Benih : Benih ikan kerapu ukuran panjang 4-5 cm (2”) dari hasil tangkapan di alam maupun dari hasil produksi di tempat pembenihan (hatchery) biasanya didederkan terlebih dahulu dalam bak beton atau waring nylon sampai mencapai ukuran glondongan (10 cm) untuk kemudian ditransfer ke karamba jaring apung di laut sampai mencapai ukuran konsumsi. Padat penebaran untuk benih yang beratnya 20-50 gram/ekor adalah 10 ekor/m3 .

Kepadatan tebar sangat menentukan pemacuaan pertumbuhan dan kehidupan ikan. Bila terlalu padat, kecepatan pertumbuhannya berkurang akibat adanya persaingan ruang, oksigen, dan pakan. Padat tebar yang terlalu padat dapat mengakibatkan ikan mudah terserang penyakit

Dalam fase pembesaran ini ikan kerapu sunu gampang sekali terserang penyakit. Untuk itu pada tahap ini dibutuhkan keterampilan dalam mengelola kelangsungan budidaya sampai pada pemanenan.

PENYAKIT PADA IKAN KERAPU SUNU

Penyakit pada ikan kerapu umumnya menyerang pada fase pembesaran, tapi bukan tidak mungkin selain fase pembesaran ikan kerapu dapat terserang penyakit

Sumber penyakit

Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan, kondisiinang, dan adanya jasad patogen.

Dengan demikian timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan, dan jasad patogen. Penyakit pada ikan dapat dibedakan menjadi penyakit yang bersifat infeksi, dan non-infeksi.

Penyakit dapat ditimbulkan oleh satu atau berbagai macam penyakit. Ada penyakit yang disebabkan oleh satu faktor, tetapi kemudian dibarengi oleh faktor lain. Bila terjadi semacam ini, berarti penyakit kedua (sekunder) memanfaatkan kondisi yang disebabkan oleh penyakit pertama (penyakit primer).

Penyebab penyakit infeksi antara lain jamur, bakteri, parasit ,dan virus. Sumber penyakit ini umumnya banyak terjadi pada ikan kerapu sunu dan serangannya bersifat ganas dan menyebabkan kematian.

Penyebab penyakit non-infeksi antara lain: stres, kekurangan gizi, pemberian pakan yang berlebihan, keracunan, memar karna luka, cacat, dll.

Penyakit yang menyerang ikan kerapu sunu

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, S,Sudaryanto.2004. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek. Penerbit, Penebar Swadaya, Jakarta.

Ghufron, M.2004. Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta.

http://www.google.com/imgres?imgurl=http://202.67.224.134/pdimage/31/614931_sujiara.jpg&imgrefurl=http://naturalresources.indonetwork.co.id/614931&h=283&w=640&sz=65&tbnid=vzyCQ-DHMxHvqM:&tbnh=56&tbnw=126&zoom=1&usg=__fj-knPqy_q6o6xGaKiyf5g-tZVI=&docid=_WvasqTFOLS6qM&hl=id&sa=X&ei=g_eGUdu2OIT9rAei5IHwBg&ved=0CDMQ9QEwAg&dur=1074

Ignatius dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Kerapu Sunu Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Siswoyo, P.2004. Tumbuhan Berkhasiat Obat. Penerbit, Absolut, Yogyakarta.

Sunday, 3 March 2019

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN KERAPU MACAN

Ikan kerapu merupakan ikan bernilai ekonomis tinggi dan permintaan kerapu hidup untuk konsumsi semakin meningkat. Selama ini kebutuhan akan ikan kerapu ukuran konsumsi diperoleh dari penangkapan di alam, yaitu di perairan karang.

Dalam budidaya, keberhasilan di bidang produksi sangat ditentukan oleh beberapa faktor antara lain penyediaan benih, kualitas air, pengelolaan dan sebagainya. Penyakit merupakan salah satu kendala utama dalam keberhasilan produksi yang sangat merugikan. Timbulnya penyakit adalah suatu proses yang dinamis dan merupakan interaksi antara inang (host), jasad penyakit (patogen) dan lingkungan. Lingkungan terutama sifat fisik, kimia dan biologi perairan akan sangat mempengaruhi keseimbangan ikan sebagai inang dan organisme penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stress dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan patogen.

Tingkat keberhasilan usaha budidaya ikan selain ditentukan oleh pemberian pakan yang tepat juga sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan tempat hidupnya. Dinamika kondisinya sangat mudah terpengaruh oleh bahan kimia terlarut, iklim mikro dan perlakuan yang dilakukan. Oleh karena itu kita harus memahami kualitas air dan interaksinya.

KLASIFIKASI

Klasifikasi Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) digolongkan pada :

Class : Chondrichthyes

Sub class : Ellasmobranchii

Ordo : Percomorphi

Divisi : Perciformes

Famili : Serranidae

Genus : Epinephelus

Species : Epinepheus sp

MORFOLOGI

Ikan kerapu bentuk tubuhnya agak rendah, moncong panjang memipih dan menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4 baris, terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam pada bagian dorsal dan poterior.

HABITAT DAN KEBIASAAN MAKAN

benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya "mencaplok" satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai kenis krustaceae (rebon, dogol dan krosok), selain itu jenis ikan-ikan (tembang, teri dan belanak).

CARA BERKEMBANG BIAK

Di dalam tangki percobaan ikan betina yang telah dewasa bila akan memijah mendekati jantan. Bila waktu memijah tiba, ikan jantan dan betina akan berenang bersama-sama dipermukaan air. Pemijahan terjadi pada malam hari, antara pukul 18.00 sampai pukul 22.00. jumlah telur yang dihasilkan tergantung dari berat tubuh betina, contoh betina berat 8 kg dapat menghasilkan telur 1.500.000 butir. Telur yang telah dibuahi bersifat "non adhesive" yaitu telur yang satu tidak melekat pada telur yang lainnya. Bentuk telur adalah bulat dan transparan dengan garis tengah sekitar 0,80 -0,85 mm. Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi benih yang aktif berenang. Benih inilah yang umum tertangkap oleh nelayan. Kelimpahan benih ikan kerapu ini sepanjang tahun tidak sama. Kelimpahan yang paling tinggi disekitar Teluk Banten terjadi pada bulan Februari sampai April.

BUDIDAYA IKAN KERAPU

Ikan kerapu yang telah berhasil dibenihkan diantaranya adalah ikan kerapu tikus, kerapu macan, kerapu lumpur dan kerapu malabar. Sedangkan kerapu alis/Napoleon dan kerapu sunu masih dalam penelitian. Dalam teknik pembenihan untuk ikan kerapu tikus, macan, malabar dan lumpur pada prinsipnya sama.

TEKNIK PEMBENIHAN

Pemijahan induk

Keberhasilan pemijahan induk ikan kerapu merupakan kunci awal dari seluruh mata rantai kegiatan produksi benih ikan kerapu. Dengan pengelolaan induk yang baik akan dihasilkan produksi telur dengan mutu yang baik sehingga pada akhirnya akan diharapkan produksi benih ikan kerapu dengan sintasan yang tinggi.

a. Pengelolaan induk

Induk ikan kerapu berasal dari hasil penangkapan di alam. Induk dipelihara dalam bak beton berbentuk bulat ( 10 meter dan kedalaman 3 meter). Bak pemeliharaan induk juga sekaligus merupakan bak pemijahan. Sirkulasi air dalam bak pemeliharaan induk dilakukan terus menerus sebanyak 200 - 300 % setiap harinya dengan menggunakan pompa elektromotor 20 PK ( pipa 8”) kemudian dilengkapi pipa distribusi ke dalam bak induk dengan  4”. Dalam bak diberi aerasi sebanyak 20 titik dengan jarak titik satu dengan yang lainnya kurang lebih 2 meter. Untuk menjaga kualitas air dalam bak induk tetap prima dilakukan dengan mengatur pembuangan air atas dan air bawah. Siang hari dilakukan pembuangan air bawah dan malam hari dilakukan pembuangan air atas. Selama masa pemeliharaan induk, dilakukan pemberian pakan berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah. Jenis-jenis ikan yang biasa diberikan pada induk ikan kerapu adalah ikan layang, ikan selar, ikan teri, ikan belanak dan cumi-cumi. Dosis pemberian pakan adalah 3-5 % dari total berat induk Pemberian pakan dilakukan pagi hari antara jam 07.00 – 08.00 I setiap harinya. Induk juga diberikan tambahan vitamin E @ tocopherol (Nature E) dengan dosis 100 IU per kg induk per minggu yang bertujuan untuk memacu perkembangan gonade ikan. Sedangkan untuk menambah daya tahan induk terhadap serangan penyakit diberikan vitamin C dengan dosis 50 mg/kg induk setiap 2 minggu sekali. Induk juga diberikan vitamin B-Compleks dengan dosis 50 mg/kg induk per 2 minggu sekali dengan tujuan untuk menambah nafsu makan ikan.

b. Pemijahan induk

Metoda pemijahan ikan kerapu pada dasarnya dapat dilakukan dengan manipulasi hormonal (aplikasi hormon steroid) dan manipulasi lingkungan. Pemijahan alami dengan manipulasi lingkungan. Setiap pagi, setelah induk kerapu diberi makan, air dalam bak pemijahan diturunkan sampai kedalaman ± 50 cm diatas sirip punggung. Kondisi ini dibiarkan selama 5-7 jam dan air masuk (inlet) tetap dibiarkan mengalir. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air + 1-3o C. Kemudian pada sore hari mulai jam 15.00, dilakukan penambahan air laut segar sampai mencapai ketinggian optimal (3 meter) dan dilakukan sirkulasi sepanjang malam hari. Perlakuan ini dilakukan secara terus menerus sampai terlihat tanda-tanda birahi. Ciri-ciri induk ikan kerapu betina yang siap memijah adalah perut gendut dan lubang genital kemerahan. Sedangkan untuk induk jantan yang matang gonade mempunyai ciri-ciri kulit lebih terang, agresif (selalu mengejar betina) dan lubang genital kemerahan. Pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan gelap (bulan lunar) yaitu antara tanggal 20 – 10 bulan lunar dan terjadi pada malam hari antara jam 20.00 – 02.00

c. Panen telur

Telur ikan kerapu hasil pemijahan yang baik mempunyai ciri-ciri berbentuk bulat,  700-800 mikron, melayang di permukaan air dan transparan. Sedangkan telur yang jelek atau tidak berkembang selnya dengan sempurna mempunyai kenampakan keruh dan setelah beberapa saat ditampung akan mengendap. Setiap kali terjadi pemijahan induk, telur ditampung dalam bak penampungan telur yang dilengkapi jaring hapa (egg collector). Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara jam 06.00 – 07.00. Telur hasil panenan ditampung dalam akuarium dan dilakukan seleksi dan penghitungan jumlah telur dengan metoda volumetri. Setelah 18 – 25 jam dari saat pembuahan, pada suhu 27 – 28o C telur ikan kerapu akan menetas.

Pemeliharaan larva

Kegiatan pemeliharaan larva dimulai dari persiapan bak, penebaran dan penetasan telur, perkembangan larva, pakan dan pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, penanggulangan penyakit dan panen benih.

a. Persiapan bak

- Bak pemeliharaan larva berbentuk segi empat dengan volume 12,5 ton (5 x 2 x 1,25 meter).

- Sebelum diisi bak dibersihkan dengan kaporit (100-150 ppm), dibilas dengan air tawar dan sabun serta kemudian dikeringkan.

- Aerasi yang digunakan untuk mensuplai oksigen dipasang dengan jarak antar titik sekitar 50 cm.

- bak diisi dengan air laut. Air laut disaring melalui filter pasir. Salinitas air laut berkisar 30 – 32 ppt. Pengisian dilakukan sehari sebelum penebaran telur serta diberi aerasi kuat selama 24 jam. Hal ini dimaksudkan untuk mempertinggi kadar oksigen terlarut yang berguna untuk penetasan telur.

b. Penebaran telur

- Setelah persiapan bak selesai, telur ditebar dengan kepadatan telur yang ditebar antara 10-20 butir/lite. Penebaran telur dilakukan setelah perkembangan embrio mencapai stadia neurola akhir, karena dari hasil pengamatan pada stadia ini perkembangan embrio sampai menetas memerlukan waktu relatif lama. Telur yang ditebarkan sebelum stadia neurola sering terjadi kerusakan karena perkembangan stadia sebelumnya (blastula dan gastrula) sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan perkembangan embrio pada stadia tersebut berjalan relatif cepat.

- Telur menetas antara 18-20 jam setelah pemijahan pada suhu 27-190C.

- Larva ikan kerapu baru menetas disebut sebagai D-0. Untuk menjaga kualitas air, cangkang-cangkang telur dan telur yang tidak menetas segera disiphon.

c. Perkembangan larva

- Pada saat awal penetasan, aerasi dikecilkan. Hal ini dimaksudkan agar larva kerapu yang baru menetas tidak teraduk oleh arus yang ditimbulkan aerasi.

- Pada saat menetas (D-0) sampai D-2, larva kerapu belum memanfaatkan pakan dari luar karena masih memiliki cadangan pakan berupa kuning telur.

- larva mulai membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Brachionus plicatilis).

- Pada umur D-8, bakal sirip punggung dan sirip perut mulai tampak berupa tonjolan. Pada D-10 tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina berlangsung sampai D-30 s/d D-35 dan selanjutnya akan berubah bentuk menjadi duri keras pertama pada sirip punggung dan sirip perut.

- Pada D-40, larva ikan kerapu sudah mulai menjadi ikan muda, hal ini ditandai dengan timbulnya pigmentasi warna putih transparan sampai coklat muda (krem) seperti ikan dewasa.

d. Pakan dan pemberian pakan

- Pakan yang dipersiapkan untuk larva ikan kerapu terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang dipersiapkan melalui kultur massal secara terpisah seperti Chlorella Sp. ; rotifera (Brachionus plicatilis); Artemia dan jambret (Mysidaceae).

- Sedangkan pakan buatan diberikan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi larva jika pakan alami tidak mencukupi.

e. Pengelolaan kualitas air

- Dilakukan penyiponan dasar bak bila terlihat dasar bak kotor, larva juga diberikan Chlorella Sp. dengan kepadatan 250-300 ribu sel/ml. Pemberian Chlorella Sp. ini terus dilakukan sampai larva berumr D-30.

- Pergantian air juga dilakukan sesuai dengan umur larva. Pada D-5 sampai D-9 pergantian air 5 % per hari. Pada D-10 sampai D-19 pergantian air 10-15 % per hari. D-20 sampai D-30 pergantian air 20-30 % per hari dan mulai D-30 pergantian air dilakukan 50 % per hari.

- Pemanenan dapat dilakukan setelah larva berumur 50 - 90 hari atau telah mencapai ukuran panjang 4-5 cm (2”).

TEKNIK PEMBESARAN IKAN KERAPU

Kegiatan budidaya ikan kerapu yang sudah mulai berkembang adalah pembesaran dalam karamba jaring apung (KJA) di laut. Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan untuk budidaya ikan kerapu di bak terkontrol secara intensif maupun di kolam air laut (tambak).

Pembesaran di KJA

a. Pemilihan lokasi

faktor yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan kegiatan budidaya ikan kerapu di KJA adalah pemilihan lokasi. Parameter yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi tersebut adalah:

• Lokasi terlindung dari gangguan angin dan gelombang yang kuat. Kedalaman air minimal 15 m,

• Lokasi harus terhindar dari pengaruh pencemaran, mudah diperoleh sarana dan prasarana yang diperlukan. Selain itu lokasi tersebut memenuhi persyaratan fisika dan kimia air seperti :

- Salinitas 20-35 ppt

- Suhu 27-32oC

- DO > 5 ppm

- PH 7,5-9,0

- Ammonia dan nitrit < 0,1 ppm

b. Sarana budidaya

• Kerangka/rakit : berfungsi untuk menempatkan kurungan (jaring), terbuat dari bahan bambu, kayu atau pipa galvanis yang telah dicat anti karat. Bentuk dan ukuran kerangka/rakit bervariasi tergantung dari ukuran yang digunakan, sebuah rakit biasanya terdiri dari empat buah kurungan (jaring).

• Pelampung : berfungsi untuk mengapungkan keseluruhan sarana budidaya, dapat digunakan pelampung dari bahan drum oplastik, drum besi atau pelampung styrofoam. Ukuran dan jumlah pelampung yang dipergunakan disesuaikan dengan besarnya beban dan daya apung dari pelampung, Pelampung diikatkan pada rakit dengan tali polyethylene (PE)  0,8-1,0 cm.

• Kurungan atau wadah untuk memelihara ikan : terbuat dari bahan polyethylene (PE). Pemilihan bahan-bahan ini didasarkan atas daya tahannya terhadap pengaruh lingkungan dan harganya relatif lebih murah jika dibandingkan degan bahan-bahan yang lain. Bentuk dan ukuran kurungan bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan serta faktor kemudahan dalam pengelolaannya. Ukuran kurungan ummnya adalah (2 x 2 x 2) m3; (3 x 3 x 3)m3 atau (3 x 3 x 5) m3. Lebar mata (mesh size) kurunga disesuaika degan ukuran ikan yang dibudidayakan, misalnya untuk ikan panjang kurang dari 10 cm lebar mata digunakan adalah 8 mm (5/16 “), panjang ikan 10-15 cm lebar mata 25 mm (1”) serta apabila panjang ikan > 15 cm lebar mata adalah 25-50 mm (1-2”)

Jangkar : berfungsi untuk menahan keseluruhan sarana budidaya agar tetap pada tempatnya. Jangkar yang dipergunakan harus mampu menahan sarana budidaya dari pengaruh arus, angin dan gelombang. Jangkar dapat terbuat dari besi, karungberisi pasir atau balok semen/beton. Jangkar diikat dengan tali PE dan panjangnya tergantung kedalaman perairan, biasanya 3 kali kedalaman perairan pada saat pasang tinggi.

Tehnik Pembesaran

• Penebaran Benih : Benih ikan kerapu ukuran panjang 4-5 cm (2”) dari hasil tangkapan di alam maupun dari hasil produksi di tempat pembenihan (hatchery) biasanya didederkan terlebih dahulu dalam bak beton atau waring nylon sampai mencapai ukuran glondongan (10 cm) untuk kemudian ditransfer ke karamba jaring apung di laut sampai mencapai ukuran konsumsi. Padat penebaran untuk benih yang beratnya 20-50 gram/ekor adalah 100 ekor/m3 .

• Pakan : Pakan yang biasanya diberikan dalam pembesaran ikan kerapu adalah ikan rucah (trash fish) dalam bentuk segar, seperti ikan selar, tamban atau layang. Jenis ikan ini mengandung protein tinggi dan kadar lemaknya rendah. Rasio konversi pakan biasanya berkisar antara 7-8, artinya untuk mendapatkan daging ikan 1 kg diperlukan 7-8 kg ikan rucah. Pakan yang diberikan sebaiknya dalam keadaan segar dengan dosis 5-10 % dari bobot biomas setiap harinya.

Pengelolaan ikan : Kurungan apung sebagai tempat untuk membudidayakan ikan kerapu merupakan lingkungan yang terbatas, sehinga kebebasan ikan terbatas pula. Akibat dari keadaan ini terjadi pertumbuhan yang tidak

• seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan, ruang gerak maupun perbedaan aktivitas ikan.

• Untuk itu dilakukan penjarangan dengan jalan mengurangi kepadatan dipindah ke jaring lainnya.

• Pengelolaan sarana budidaya : Sarana budidaya berupa rakit, kurungan apung, pelampung dan sarana lainya harus mendapat perawatan secara berkala.

• Pengendalian Penyakit : Penyakit yang banyak menyerang ikan kerapu yang dibudidayakan dalam karamba jaring apung adalah disebabkan oleh krustacea, trematoda, protozoa, jamur, bakteri dan virus. Krustacea dan trematoda biasanya menyerang insang, sedangkan protozoa, jamur, bakteri dan virus menyerang bagian tubuh yang luka. Gejala ikan kerapu yang sakit berbeda-beda tergantung penyakit yang menyerangnya serta daya tahan tubuh ikan yang diserang. Gejala tersebut harus diketahui untuk menentukan cara pengendalian yang tepat dan efisien.

Panen : Ukuran panen dapat disesuaikan dengan permintaan pasar. Biasanya ukuran yang dikehendaki pasar (ukuran konsumsi) adalah 0,5-1,5 kg per ekor ikan. Untuk mencapai ukuran 500-800 gram, ikan kerapu tikus berbobot tebar 20-50 gram harus dipelihara selama 10-12 bulan. Sedang untuk kerapu macan membutuhkan waktu 6-8 bulan.

• Selama masa pemeliharaan diperlukan seleksi ukuran (grading) setetah bulan kelima untuk mengurangi variasi ukuran yang terlalu tajam sehingga diharapkan ukuran panen pada bulan ke-12 adalah relatif seragam. Ikan kerapu tikus mempunyai harga jual yang tinggi biasanya dalam keadaan hidup. Untuk itu penanganan pasca panen juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

PENANGANAN PENYAKIT IKAN

Pengobatan Dengan Bahan Kimia dan Bahan Alami

Tanaman Saga (Abrus preccatorius L.)

Saga dapat ditemukan pada daerah tropis dan subtropis, tumbuh liar di hutan berupa belukar liar atau ditanam di pekarangan sebagai tanaman obat. Asalnya ada yang mengatakan dari Asia dan Afrika serta dapat ditemukan dari 1-1.000 m dpl. Tanaman perdu yang memanjat dan membelit pada pagar atau tanaman lain. Pokok batangnya kecil, daunnya berupa daun majemuk menyirip genap yang tumbuh berseling, panjang 4-11 cm. Anak daun 8-17 pasang, helai daun bentuknya jorong melebar. Bunga kecil-kecil dengan mahkota bunga berbentuk kupu-kupu, warna ungu muda tumbuh mengumpul dalam tandan yang keluar dari ketiak daun. Buahnya buah polong berwarna hijau kuning, gepeng persegi empat memanjang. Buah bila masak menjadi kering berwarna hitam dan pecah sendiri, berisi 3-6 butir biji yang bentuknya bulat lonjong warna merah mengkilap berbecak hitam.

C. Sifat Kimia dan Efek farmologis

• Biji ; pedas, pahit, netral, sangat beracun, membunuh parasit (parasiticide), anti radang, melancarkan pengeluaran nanah. Tidak dianjurkan untuk pemakaian dalam (diminum/dimakan).

• Akar, batang, dan daun ; manis, netral, membersihkan panas, anti radang, peluruh kencing (diuretik).

Akar ; perangsang muntah (emetikum).

• Daun ; penyejuk (demulcent) pada kulit dan selaput lendir.

 Kandungan Kimia

• Biji ; Abrine, Abraline, L (+)-hypaphorine, choline, trigoneline, squalene, betaamyrin, Abrussic dan asam gallat.

• Akar,batang dan daun ; Glycyrrhisic acid. Abrinee (jequiritin) suatu albumin tumbuhan, senyawa ini sangat toksit, larut dalam larutan natrium klorida, mempunyai titik lebur 295oC dan dapat menghambat pertumbuhan Ehrlich ascites pada mencit.

 Bagian Yang Dipakai

• Biji, pemakaian luar untuk kudis, kurap, radang kulit bernanah, ekzema, bisul, memar. Bercak putih dikulit (leucoderma), sakit pinggangSebagai obat tetes untuk pengobatan penyakit mata kronis seperti trachoma da kerusakan pada kornea.

• Daun, Bengkak (memar), Sakit otot (rhematism), Bercak-bercak berwarna pada kulit yang terpapar (freckies)

 Cara pemakaian

Bercak putih dikulit (Leucoderma) ; biji saga dan daun ditumbuk halus , lalu ditambahkan sedikit air sampai menjadi adonan seperti bubur pekat. Dipakai untuk menurap bercak putih dikulit.

Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata)

Tanaman semak banyak cabangnya, tinggi mencapai 90 cm , buanga berwarna putih dengan daun berwarna hijau tua. Daun mengandung minyak atsiri yang bermanfaat sebagaianti radang. Selain itu juga mengandung zat andrographolid yang pahit rasanya, alkaloid, dan kalium.

Kandungan ilmiah yang dimiliki antara lain flavonoid, alkane, keton, aldehid, asam kersik dan andrografolid (pahit) dan mineral. Kandungan aktif andrografolid merupakan pelindung untuk sel hati dari kandungan racun.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1993. Petunjuk Pelaksanaan Penangulangan Penyakit Ikan. Direktorat Sumber Hayati. Ditjen Perikanan. Jakarta.

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. III No. 4 Tahub 1997

Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma, et. al. 1998, Tanaman berkhasiat Obat di Indonesia, hal 133-136, Penerbit Pustaka Kartini.

Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma dan Dr. Setiawan Dalimartha., 1997 Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah Tinggi. Hal 80-82, Penebar Swadaya, Jakarta.

Resmiyati Purba, Waspada, Mustahal dan Susanti Diani. 1993.Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Umur Sampai 35 Hari Dengan Padat Tebar Yang Berbeda. Jurnal Penelitan Budidaya Pantai. Vol. 9. No. 5.1993. Bojonegoro-Serang.

Santoso B dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Kerapu Macan Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Susanti Diani dan Akhmad Rukyani. 1989. Pengendalian Penyakit Dalam Kurungan Apung di Laut. Makalah temu tugas pemanfaatan sumberdaya hayati lautan bagi budidaya, Serang. 23 – 24 Mei 1989.

Zufran et.al.,Parasit pada Ikan Kerapu Di Panti Benih dan Upaya Penanggulangannya,Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia vol.III No.4 Tahun 1997

Friday, 1 March 2019

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN KERAPU BATIK

Ikan kerapu merupakan mata dagangan internasional yang harganya mahal, dan permintaannya semakin meningkat sehingga dimasukkan dalam komoditas unggulan yang ditekankan dalam program intensifikasi budidaya perikanan. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan benih kerapu masih mengandalkan dari hasil tangkapan di alam. Hal ini menyebabkan ketersediaannya tidak berkesinambungan.

Namun sejak tahun 1990 budidaya laut di Indonesia terlihat semakin meningkat seiring dengan adanya keberhasilan dalam kegiatan pembenihan benih dan berbagai jenis ikan laut ekonomis penting telah berhasil diproduksi secara massal, tidak terlalu banyak lagi mengandalkan di alam. Berbagai jenis ikan yang telah dikuasai tekniloginya, ikan kerapu batik masih merupakan salah satu andalan dalam budidaya laut di Indonesia.

Kerapu batik merupakan jenis ikan kerapu yang harganya mahal terutama yang mempunyai prospek pemasaran yang cukup baik akan komoditas ini stabil bahkan cenderung meningkat. Namun demikian yang masih menjadi perhatian utama adalah ketersediaan benih yang belum dapat tepenuhi baik jumlah, mutu maupun kesinambungannya.

Ikan kerapu secara umum dikenal sebagai hewan karnivora yang buasa dan rakus, memakan berbagai jenis ikan, crustacean dan kadang – kadang juga memakan cepalopoda (cumi-cumi). Seringkali hidup menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat sembunyi. Ikan kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung, kecuali sewaktu mencari makan dan saat memijah.

Ikan kerapu adalah jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah sub tropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Kebanyakan species ini tinggal didaerah karang, karang mati atau berlumpur. Ikan kerapu ini sering pula ditemukan di daerah pasang dan laut dengan kedalaman sekitar 40 m (Heemstra & Randall, 1993).

Distribusi geografis ikan kerapu di mulai dari Pasifik Selatan hingga Pulau Guam, New Caledonia dan Selatan Australia. Pada bagian Timur Samudra Hindia dimulai dari Barat Austalia dan Nicobars, sedangkan pada Kepulauan Indonesia tersebar Di Riau, Jawa, Bali, NTB dan Maluku.

Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan laut yang semakin digemari oleh masyarakat. Kebutuhan ikan kerapu ini masih mengandalkan tangkapan dari alam sehingga lambat laun memungkinkan terjadinya penagkapan yang berlebihan (over fishing) baik dari segi ukuran maupun jumlah. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut maka diperlukan upaya budidaya. Adapun kendala utama yang dihadapi di dalam budidaya ikan kerapu adalah sering terjadi kematian massal yang diduga disebabkan oleh penyakit, baik itu penyakit akibat jamur, bakteri maupun yang disebabkan oleh virus.

Penyakit didefenisikan sebagai suatu ketidaknormalan pada struktur atau fungsi tubuh yang ditunjukkan dengan gejala yang spesifik atau non spesifik. Kesalahan managemen dan lingkungan yang bermasalah dapat menimbulkan penyakit pada usaha budidaya ikan kerapu. Jaringan atau organ yang rusak, penurunan berat badan dan adanya kematian merupakan indikasi timbulnya penyakit. Dampak yang ditimbulkan adalah penurunan produk perikanan / budidaya, oleh karena itu pnyakit dan lingkungan perlu mendapatkan perhatian khusus sehingga kerugian dari segi ekonomi dapat ditekan.

Beberapa factor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit yaitu adanya interaksi antara inang (Host), penybab penyakit (Pathogen) dan lingkungan. Penyakit yang akan timbul apabila ikan yang dipelihara rentang terhadap penyakit

dan kondisi lingkungan yang buruk yang menyebabkan peningkatan serangan penyakit serta penurunan kekebalan dari inang.

Factor – factor yang dapat menimbulkan penyakit adalah perubahan / fluktuasi suhu yang sangat tinggi, adanya radiasi sinar ultra violet dari matahari. Sedangkan factor – factor kimia seperti kontaminasi lingkungan dengan obat – obatan, racun, penggunaan bahan kimia yang berlebihan dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Keberadaan virus, bakteri jamur maupun parasit diperairan merupakan factor biologi fluktuasi suhu, kelarutan gas, pH dan ketersediaan makanan.

Kestabilan lingkungan terutama parameter fisika dan kimia air pada media pemeliharaan akan menentukan kesehatan ikan yang kita pelihara. Fluktuasi suhu, pH, salinitas atau oksigen terlarut yang melebihi batas optimum dapat menimbulkan stress dan pada akhirnya akan menimbulkan penyakit. Kunci sukses dalam upaya pemeliharaan ikan adalah mampu memahami dan mengelola lingkungan dalam hal ini air sebagai media pemeliharaan. Pemahaman terhadap pentingnya peranan lingkungan dan mengetahui penyebab penyakit adalah pentingnya dalam upaya pengendalian dan control penyakit.

Virus

Penyakit virus yang menyerang pada ikan kerapu adalah VNN (Viral Nervous necrosis) yang disebabkan oleh Iridovirus. Virus ini menyerang secara meluas sejak tahun 1998. virus ini menyebabkan kematian massal pada juvenile/larva. Larva yang terserang mula-mula tenggelam didasar bak kemudian akan mengapung di permukaan air dengan kondisi perut mengembang.

Bakteri

Penyakit bakteri yang menyerang ikan kerapu adalah kerusakan pada sirip, sehingga serangan bakteri ini sering disebut juga dengan Bacterial fin rot Diseases.

Jamur

Penyakit jamur yang menyerang ikan kerapu dapat menyebabkan sakit apabila tumbuh pada suatu organisme. Ada dua macam penyakit kerapu yang disebabkan oleh jamur, yaitu Saprolegniasis yang disebabkan oleh jamur Saprolegnia Sp., dan Ichthyosporidosis yang disebabkan oleh jamur Ichtyosporidium Sp. Serangan Saprolegniasis ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi putih keabu-abuan, sedangkan tanda adanya serangan Ichthyosporidosis ditandai dengan luka berlubang

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Pada Ikan Kerapu

DAFTAR PUSTAKA

Dwiyanto febriko Sapto, 2004. Budidaya Ikan Kerapu Dalam Keramba Jaring Apung. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Budidaya Air Payau Sitobondo.

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 2004. Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kalautan dan Perikanan. Gondo Bali.

Triastutik Gemi, 2004. Pengendalian Penyakit Ikan dan Udang. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Budidaya Air Payau Sitobondo

Purwanti A. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Keparu Batik Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN PENYULUHAN PERIKANAN: PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA IKAN BAWAL AIR TAWAR DENGAN MEDIA KOLAM TERPAL BUNDAR PADA KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN (POKDAKAN) JUARA BERSAMA

RINGKASAN EKSEKUTIF Percontohan penyuluhan perikanan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menguji efektivitas penerapan teknologi budida...