Loading...

Jumat, 12 Juni 2015

MEMAHAMI TEKNIK PENEBARAN BENIH PADA PEMBESARAN IKAN LELE

A. Memilih Benih

Benih yang siap tebar adalah benih yang berukuran 3-5 cm dan 5-8 cm, benih ditebarkan dengan kepadatan per m2 bervariasi tergantung jenis biota yang akan dipelihara. Agar hasil dari kegiatan pembesaran memuaskan maka benih yang dipilih adalah benih yang unggul.
Ciri-ciri benih yang baik yaitu :

1. Mempunyai ukuran yang seragam

2. Sehat dan tidak cacat atau luka

3. Bergerak aktif dan lincah

Cara menguji respon benih yang sehat yaitu:

1. Alirkan  air  ke  wadah  pemeliharaan  atau  penampungan kemudian amati, benih yang sehat akan bergerak melawan arus
2. Saat pemberian pakan benih yang sehat akan responsive yaitu dengan menghampiri pakan dengan cepat saat pakan diberikan
3. Benih yang sehat akan menyebar atau menjauhi sumber gangguan jika ada gangguan


Tabel 1. Kriteria Benih lele yang baik menurut SNI: 01-6484.2-
2000

Kriteria
Satuan
Pendederan
I
Pendederan
II
Pendederan
III
Pendederan
IV
Lama pemeliharaan

Hari

20

40

54

75
Panjang Total
Cm
0,75-1
1-3
3-5
5-8
Bobot Minimal
Gram
1
2,5
5
10
Keseragaman
Ukuran

%

>75

>75

>75

>75
Keseragaman
Warna

%

100

>90

>90

>90


B. Aklimatisasi

Sebelum benih ditebar ke dalam kolam maka perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu. Tujuannya yaitu untuk menyesuaikan suhu dalam kantong dengan suhu kolam pemeliharaan agar benih ikan yang ditebar tidak stress karena terjadi perbedaan suhu yang mendadak. Proses aklimatisasi suhu adalah sebagai berikut:
1. Meletakkan kantong packing yang berisi benih ke dalam kolam tempat benih akan ditebar.
2. Biarkan  kantong  packing  mengapung  di  permukaan  air selama 10-15 menit atau sampai kantong berembun.
3. Jika kantong sudah berembun itu merupakan tanda bahwa suhu kantong dan suhu kolam relatif sama dan tutup kantong dapat dibuka.


C.  Penebaran Benih

Penebaran benih dilakukan saat suhu air rendah kolam masih rendah yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00 – 07.00 atau pada sore hari di atas pukul 16.00. Tujuannya agar benih


tidak stres akibat suhu tinggi. Benih yang ditebar terlalu siang dapat menjadi stres akibat kepanasan. Berikut adalah cara benebaran benih;
1. Membuka   tutup   kantong   packing   benih   yang   sudah berembun
2. menggulung  kantong  plastik  packing  sampai  mendekati permukaan air kantong
3. Percikkan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam kantong dengan menggunakan tangan
4. Miringkan   kantong   packing   sampai   sebagian   kantong tenggelam
5. Biarkan benih keluar dengan sendirinya. Setelah terlihat benih       berani   berenang   keluar   kantong   sendiri      itu merupakan tanda bahwa kondisi air pada kantong sudah relative sama dengan air pada kolam.
Pada awal pemeliharaan, ketinggian air dipertahankan minimal 70 cm, dan bila masa pemeliharaan telah telah mencapai dua bulan ketinggian air dinaikan, sehingga menjelang pemeliharaan empat bulan ketinggian diusahakan mencapai 1,5 m.
Khusus penebaran benih di KJA benih di tebar di dalam hapa untuk memudahkan pengontrolan dan pada umumnya mata jaring KJA berukuran besar sehingga jika langsung dilepas maka ikan akan lolos dari jaring.
Tabel 2. Standar penebaran ikan lele

Padat
Tebar
Satuan
P I
P II
P III
P  IV
PB 1
PB 2
Lele
ekor/m2
100
50
25
20
10-15
3-5
Ukuran minimum
cm
0,75-1
1-3
3-5
5-8
10-15
100-150


Cara mengukur  panjang  total  ikan  menurut SNI: 01-

6484.4-2000 yaitu dengan membentangkan tubuh ikan kemudian ukur ikan mulai dari ujung mulut sampai ujung ekor menggunakan jangka sorong atau penggaris yang dinyatakan dalam satua centimater atau millimeter.


SUMBER:
http//pusdik.kkp.go.id
PusdikKP, 2012. Modul Teaching Factory "Pembesaran Ikan Air Tawar". Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

TEKNIK PRODUKSI TELUR PADA PEMBENIHAN IKAN LELE

A. Menyeleksi Induk

Tujuan  dari  seleksi  induk  adalah  mendapatkan  induk yang sehat, tidak cacat dan memiliki pertumbuhan yang baik sehingga layak untuk dijadikan induk dan siap untuk dipijahkan.
Prosedur kerja untuk menyeleksi induk :

1. Keringkan kolam pemeliharaan induk.

2. Tangkap   induk   jantan   maupun   betina   dari   kolam pemeliharaan secara hati - hati dengan menggunakan seser induk (berbahan halus).
3. Siapkan wadah sementara untuk meletakkan induk yang ditangkap seperti tong, bak fiberglass, drum dan sebagainya yang sudah diisi air.
4. Letakkan induk jantan dan betina ke dalam wadah yang sudah disiapkan secara terpisah.
5. Seleksi  tingkat  kematangan  gonad  induk  dengan  cara melihat urogenitalnya dan meraba bagian perut induk, dengan kondisi induk sehat, tidak cacat dan badan secara


keseluruhan mulai dari ujung mulut sampai ujung sirip ekor harus mulus (tidak ada luka) sesuai dengan persyaratan SNI.

Tabel  4.  Ciri  -  ciri  induk  ikan  lele  yang  matang  gonad sesuai SNI

No
Induk lele
1.
Jantan : urogenital berwarna merah dan meruncing serta panjangnya sudah melampaui pangkal sirip ekor
2.
Betina  :  perut  membesar  dan  terasa  lunak  serta  bila diurut ke arah anus akan mengeluarkan telur berwarna hijau kekuningan


Ciri - ciri induk lele yang matang gonad adalah sebagai berikut :
a. Bentuk tubuh : bagian kepala pipih horisontal, bagian badan bulat memanjang dan bagian ekor pipih vertikal.
b. Kesehatan : anggota atau organ tubuh lengkap, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, alat kelamin tidak cacat (rusak), tubuh tidak ditempeli jasad patogen, insang bersih, tubuh tidak bengkak/memar dan tidak berlumut, tutup insang normal dan tubuh berlendir.
c.  Induk jantan yang matang gonad :

1) Alat  kelamin  tampak  jelas,  meruncing,  berwarna kemerahan terletak di dekat lubang anus.
2) Jika   perut   diurut   akan   keluar   cairan   sperma berwarna keputih - putihan.
3) Tulang kepala lebih pipih dan ukurannya lebih kecil.

4) Warna tubuh lebih gelap.


d. Induk betina yang matang gonad :

1) Alat     kelaminnya     membulat     dan     berwarna kemerahan terletak di dekat lubang anus, lubangnya agak membesar sebagai jalan keluarnya telur.
2) Bentuk perut membesar, jika diraba terasa lembek.

3) Bila perut diurut ke arah anus akan keluar telur.

4) Tulang kepala agak cembung dan ukurannya lebih besar.
5) Warna tubuh lebih terang, gerakannya lamban dan jinak.
6) Ambil sampel telur dengan cara memasukkan selang kanulasi < 8 cm kedalam lubang urogenital induk betina untuk mengambil sampel telur dengan cara menyedot   dengan   menggunakan   mulut   sampai sampel telur keluar.



7) Ambil 30 butir sampel telur, amati sampel telur yang diambil  sesuaikan  dengan  warna  dan  fase telur yang siap dipijahkan (lihat tabel 5).
Tabel 5. Kriteria telur induk betina lele















No
Warna
Telur
Fase
Keterangan
1.

Telur muda
Telur muda cenderung ukuran kurang seragam
2.

Telur yang siap dipijahkan
Ukuran seragam dan tidak mudah pecah
3.

Telur tua
Telur mudah pecah bila disentuh

 
S

8) Selanjutnya, ukur diameternya menggunakan mikroskop yang  dilengkapi  mikrometer,  sesuaikan  diameter hasil pengukuran dengan kriteria diameter telur yang sesuai SNI (lihat tabel 6).
9) Timbang induk jantan dan betina yang terseleksi dengan menggunakan timbangan.


10) Ukur panjang induk menggunakan penggaris. Cara mengukur panjang standar induk sesuai dengan SNI, yaitu : mengukur panjang standar dilakukan dengan mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan pangkal ekor.

Tabel 6. Kriteria induk sesuai SNI


No

Kriteria

Satuan
Jenis kelamin
Jantan
Betina
1.
Umur
bulan
8 - 12
12 15
2.
Panjang standar
cm
40 - 45
38 40
3.
Bobot matang
pertama
g/ekor
500 - 750
400 500
4.
Fekunditas
butir/kg
-
50.000 -
100.000
5.
Diameter telur
mm
-
1,4 - 1,5


B. Memijahkan Induk Ikan Lele

Pemijahan induk ikan lele umumnya dilakukan secara alami dan semi alami. Pemijahan alami biasanya dilakukan pada jenis - jenis ikan tertentu saja yaitu ikan yang mudah dipijahkan sepanjang tahun seperti ikan mas, tawes, gurame,  lele  dan  lain  sebagainya.  Sebaliknya  pemijahan ikan semi buatan umumnya dilakukan terhadap ikan yang dipelihara  dalam  lingkungan  yang  tidak  sesuai  dengan faktor lingkungannya di alam.
Prosedur kerja untuk memijahkan induk :

1. Siapkan wadah pemijahan

a. Wadah pemijahan sesuai dengan SNI, yaitu wadah pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva dapat berupa bak, baik dengan menggunakan hapa atau tidak.
b. Mengeringkan  wadah  pemijahan  dengan  menutup saluran        pemasukan   air   dan   membuka   saluran pengeluaran air.
c. Membersihkan  kotoran  yang  ada  didasar  maupun dinding wadah dengan cara menyikat dengan sikat dan         spon      pembersih.      Bersihkan      dengan pencampuran desinfektan : kaporit 100 ppm atau diterjen 30 ppm.
d. Membilas  dengan  air  bersih  sampai  kotoran  yang menempel pada dasar dan dinding wadah hilang.
e. Membiarkan air sampai habis dan bilas dengan air bersih.


f. Mengeringkan kolam selama 1 hari agar terbebas dari bau kaporit atau diterjen.
2. Isi air ke dalam wadah pemijahan dengan menggunakan air yang sudah diendapkan dalam tandon air minimal selama 24 jam.
Tahap-tahap   mengisi   air   dalam   wadah   pemijahan adalah:
a. Menutup saluran pengeluaran air.

b. Mengisi    air    dengan    cara    membuka    saluran pemasukan air atau dengan bantuan pompa air ke dalam wadah pemijahan dengan ketinggian air sesuai dengan  SNI.  Ketinggian  air  pemijahan  yang  sesuai SNI untuk ikan lele adalah 25 - 40 cm.
c. Menutup   saluran   pemasukan   air   bila   air   telah mencapai sesuai yang diiinginkan.
d. Memeriksa     saluran     pengeluaran     air     untuk memastikan tidak ada kebocoran.
3. Tempatkan  titik  aerasi  secara  merata  kedalam  media pemijahan.
4. Lakukan pemijahan induk yang terseleksi baik secara alami maupun semi alami, caranya sebagai berikut :
a. Pemijahan alami

Memijahkan ikan secara alami dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan tanpa perlakuan perangsangan hormon. Persiapan wadah pemijahan yang telah dilakukan merupakan manipulasi lingkungan.


Langkah - langkah melakukan pemijahan alami :

1) Memasukkan       kakaban       sebagai       tempat menempelnya telur    dengan    jumlah    cukup menutupi 75 % dasar kolam.
2) Meletakkan kakaban 5 diatas dasar kolam dan diberikan pemberat berupa batu.
3) Menyusun   kakaban   berjajar   memenuhi   dan mengikuti  panjang  kolam  agar  tidak  ada  telur yang tidak menempel.
4) Memasukkan   induk   jantan   dan   betina   yang terseleksi pada sore hari pukul 15.00 - 17.00 ke dalam       wadah  pemijahan  dengan  padat  tebar sesuai SNI (lihat tabel 7).
5) Menutup wadah pemijahan.

6) Membiarkan proses pemijahan selama ± 24 jam.

7) Melakukan pengecekan pada pagi harinya.

8) Selanjutnya,  memindahkan  indukan  yang  telah memijah dari kolam pemijahan ke dalam wadah pemeliharaan induk.
b. Pemijahan semi alami

Langkah - langkah dalam melakukan pemijahan semi alami, yaitu :
1) Memasukkan       kakaban       sebagai       tempat menempelnya  telur    dengan    jumlah    cukup menutupi 75 % dasar kolam.
2) Meletakkan kakaban 5 cm diatas dasar kolam dan diberikan pemberat berupa batu.
3) Menyusun   kakaban   berjajar   memenuhi   dan mengikuti panjang kolam agar tidak ada telur yang tidak menempel.
4) Menyiapkan     peralatan     dan     bahan     untuk pemijahan semi alami seperti : spuit, HCG (human chorionic gonadotropin), aquades atau larutan garam fisiologis 0,7 %. Gunakan alat suntik yang sudah dibersihkan/dicuci dengan air panas atau gunakan alat yang baru.
5) Menimbang induk betina dengan timbangan dan tentukan dosis ovaprim.
a) Dosis hormon buatan 0,3 - 0,5 cc per 1 kg berat induk.
b) Menyedot hormon dengan spuit sebanyak dosis yang diperlukan.


c) Setelah itu, menyedot aquades atau larutan garam fisiologis 0,7 % dengan jarum yang sama sebanyak dosis hormon yang disedot tadi.
6) Induk   yang   terseleksi   disuntik   dengan   cara sebagai berikut :
a) Menyuntik  induk  yang  akan  dipijahkan pada sore hari jam 16.00 - 17.00.
b) Mengambil induk yang akan disuntik kemudian pada bagian kepala ditutup menggunakan kain basah.
c) Melakukan penyuntikan secara hati - hati disekitar sirip punggung kedalam daging induk (intramuscular) dengan memasukkan jarum suntik dengan kemiringan 30 - 45° sedalam ± 2
- 2,5 cm.

d) Setelah  hormon  didorong  masuk,  lalu  jarum dicabut dan     bekas     suntikan     tersebut ditekan/ditutup dengan jari beberapa saat agar hormon tidak keluar.

7) Memasukkan induk jantan dan betina yang telah disuntik pada sore hari pukul 15.00 - 17.00 ke dalam wadah pemijahan dengan padat tebar harus sesuai dengan SNI (lihat tabel 7).

Tabel 7. Padat tebar untuk pemijahan induk lele sesuai
SNI

No
Induk lele
1.
Padat tebar induk 1 kg induk betina/m² dengan perbandingan bobot  jantan : betina 1 : 2
2.
Perbandingan jumlah jantan : betina adalah

1 : 1 - 3


8)  Menutup wadah pemijahan.

9)  Membiarkan proses pemijahan selama ± 24 jam.

10)  Melakukan pengecekan pada pagi harinya.

11)  Memasukkan kembali induk yang telah memijah ke dalam wadah pemeliharaan induk.


C. Menghitung Derajat Pembuahan (Fertilisasi Rate)

Derajat   pembuahan   (fertilisas rate adalah   derajat tingkat pembuahan telur yang telah dihasilkan. Langkah - langkah perhitungannya, sebagai berikut :
1. Ambil sampel telur hasil pemijahan secara acak sebanyak

5 titik.

2. Hitung jumlah telur dari sampel yang diambil.

3. Amati telur sampel secara visual atau secara mikroskopik satu persatu untuk mengetahui apakah telur dibuahi atau


tidak. Telur yang tidak dibuahi bercirikan dengan warna putih susu atau sedikit keruh dan terkadang ditumbuhi jamur, sedangkan telur yang dibuahi berwarna terang dan bersih.
4. Hitung jumlah telur yang dibuahi.

SUMBER:
http//pusdik.kkp.go.id
PusdikKP, 2012. Modul Teaching Factory "Pembenihan Ikan Air Tawar". Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Jakarta.