Loading...

Kamis, 15 Mei 2014

Keripik Ikan Nila Balita (Baby Fish Chips)

Ikan balita merupakan anak-anak ikan nila yang berukuran kecil (kira-kira sebesar kelingking) yang digoreng kering sehingga bisa dimakan beserta tulang-tulangnya. Salah satunya adalah keripik ikan (Baby Fish Chips) merupakan suatu produk yang dapat digunakan sebagai usaha baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi.Pembuatan keripik ikan dapat digunakan sebagai suatu peluang wirausaha yang sangat menguntungkan. Selain sebagai lauk, ikan balita juga bisa dijadikan buah tangan.Hal ini disebabkan belum adanya keseriusan dalam mengolah sumberdaya ikan yang ada.Oleh sebab itu, diperlukan adanya suatu pengolahan yang baik sehingga mendapatkan suatu produk yang berkualitas memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Untuk meningkatkan konsumsi ikan, perlu upaya diversifikasi pengolahan ikan terutama pada produk-produk yang biasa dikonsumsi masyarakat sehingga peluang keterjangkauan dan penerimaan produk lebih besar.Salah satu produk olahan yang biasa dikonsumsi masyarakat yaitu keripik ikan.Keripik ikan ( Baby Fish Chips) adalah salah satu bentuk olahan pangan dari ikan yang dibalut oleh tepung krispi yang banyak dikonsumsi dan digemari oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan keripik ikan dapat disajikan secara cepat, mudah, renyah dan bercita-rasa tinggi, juga dapat disajikan sebagai makanan camilan dalam kehidupan sehari-hari.Keripik ikan merupakan salah satu produk makanan yang sangat digemari oleh masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penjualan produk ditujukan kepada seluruh kalangan masyarakat secara umum dan masyarakat golongan menengah keatas secara khusus yang selalu menginginkan suatu produk makanan bercita rasa lezat, renyah dan sehat yang dapat mencukupi kebutuhan akan kalsium tulang mereka.

a. Alat:
§  - Penggorengan
§  - Kompor
§  - dll

b. Bahan :
§   250 gram ikan balita (ikan nila ukuran kecil), cuci bersih
§   3 siung bawang putih, haluskan
§   Garam, merica bubuk secukupnya

c. Proses pembuatan Keripik Ikan Mas Balita (Baby Fish Chips)
Tahapan proses pengolahan:
1. Pilih bahan baku yang segar dan berkualitas
2. Ikan dicuci sampai bersih, hilangkan kotoran dalam perut
3. Beri perasan jeruk untuk mengurangi bau amis pada ikan
4. Haluskan berbagai bumbu yang telah disiapkan
5. Campurkan kedalam baskom yang telah berisi tepung beras, tepung terigu dan telur
6. Tambahkan larutan santan
7. Aduk sampai tidak menggumpal, tambahkan air jika terlalu menggumpal
8. Masukkan ikan kedalam campuran adonan tepung
9. Panaskan minyak kemudian goreng ikan hingga matang dan krispi
10. Kemas dalam wadah plastik.

SUMBER:
Permadi A. dan Dharmayanti N., 2011. Modul Pengolahan Ikan Nila. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan: Kelompok Modul Pengolahan Ikan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Pengolahan Kerupuk Kemplang Ikan Lele

Kerupuk adalah suatu makanan kecil yang bersifat kering, ringan dan porous yang terbuat dari bahan-bahan yang mengandung pati cukup tinggi yang merupakan makanan khas Indonesia dan banyak digemari oleh masyarakat luas.
Biasanya kerupuk dikonsumsi sebagai makanan selingan atau sebagai variasi dalam lauk-pauk. Kerupuk adalah sejenis makanan kecil yang mengalami pengembangan volume membentuk produk yang porous dan memiliki densitas rendah selama penggorengan sehingga memiliki kerenyahan (Siaw. et al, 1985).
Kerupuk dapat berfungsi sebagai media simpan, media distribusi dan media saji pangan dan sekaligus merupakan produk budaya pangan masyarakat Indonesia. Bila dipandang sebagai media simpan potensinya sangatlah besar karena produk kerupuk adalah produk yang memiliki daya awet yang tinggi. Kerupuk sebagai media simpan ikan, hal ini dapat dilihat dari 30% hasil tangkapan ikan segar di Jawa adalah ikan dengan produk ikan asin, surimi, dan kerupuk (Rohimah, 1997).
Dalam proses pembuatan kerupuk ikan memiliki tahapan-tahapan berupa persiapan bahan baku, pencucian, penyiangan, pengambilan daging, pencucian II, pelumatan daging, pencampuran dengan bahan dasar, pembentukan, pengukusan, pendinginan, pengeringan, dan pengemasan (SNI 2713.1.2009).
Proses produksi kerupuk lele tidaklah sulit untuk dikerjakan. Membutuhkan waktu kurang lebih dua hari untuk menghasilkan kerupuk mentah kering yang berkualitas. Lamanya waktu produksi juga ditentukan dengan proses pengeringan apakah dengan menggunakan tenaga matahari yaitu dengan dijemur atau dengan mesin pengering.
Salah satu keunggulan dari kerupuk ikan lele ini adalah mengandung kalsium yang lebih tinggi dibanding kerupuk ikan lainnya karena semua bagian dari lele digunakan sebagai bahan termasuk duri dan kepala. Kandungan kalsium yang tinggi ini sangat cocok dikonsumsi ibu hamil, balita, hingga lansia karena kandungan kalsium di dalamnya bisa mengurangi resiko terkena osteoporosis.
Kerenyahan kerupuk dapat dipengaruhi oleh volume pengembangan kerupuk, sedangkan volume pengembangan kerupuk dapat dipengaruhi oleh kadar amilopektin dan kandungan protein yang terkandung pada bahan. Kerupuk dengan kandungan amilopektin yang lebih tinggi akan memiliki pengembangan yang lebih tinggi, karena pada saat proses pemanasan akan terjadi proses gelatinasi dan akan terbentuk struktur yang elastis, kemudian dapat mengembang pada tahap penggorengan sehingga kerupuk dengan volume pengembangan yang tinggi akan memiliki tingkat kerenyahan yang tinggi (Zulfiani, 1992).

1. Alat
Alat alat yang diperlukan dalam mengolah kerupuk antara lain :blender, gilingan manual, wajan, kompor, timbangan, sodet, serokan, wadah palstik, pisau, talenan, baskom plastik, pisau, talenan, cetakan, dan sendok.

2 Bahan
Bahan yang diperlukan dalam mengolah kerupuk antara lain Ikan lele, tepung tapioka, telur, bawang putih, garam, dan minyak goreng.
3. Cara Pengolahan
Persiapan bahan baku untuk membuat kerupuk ikan lele ialah pembuatan lumatan daging. Langkah-langkah dalam pembuatan daging lumat awalnya dengan menyiangi ikan lele segar dengan membuang isi perut dan kepala hingga bersih dan dicuci dengan air bersih. Pengambilan daging ikan ialah dengan memfillet dan mengambil sisa daging yang tertinggal di antara duri ikan dengan cara mengerok menggunakan sendok.
Setelah daging terkumpul, daging dimasukkan ke dalam mesin pelumat daging. Hasil lumatan dipastikan harus benar-benar lembut, karena dapat mempengaruhi produk kerupuk yang dihasilkan. Apabila daging lumatan kurang lembut maka di masukkan kembali ke mesin pelumat agar lumatan daging yang dihasilkan benar-benar lembut. Setelah selesai proses pelumatan, daging ikan dimasukkan ke dalam wadah baskom bersih.

a. Pencampuran Bahan
Proses pencampuran dilakukan dengan cara mengaduk lumatan ikan dengan bumbu-bumbu yang sudah disiapkan. Setelah tercampur merata kemudian ditambahkan telur sesuai dengan berat adonan yang dibutuhkan, kemudian diaduk hingga merata. Proses pengadukan ini berperan sangat penting sekali. Apabila bahan yang dicampurkan tidak diaduk sampai bumbu merata akan mempengaruhi rasa produk kerupuk yang dihasilkan.
Proses pengadukan lumatan ikan dengan bumbu dilakukan dengan tujuan membuat rasa produk kerupuk ikan yang dihasilkan merata dan menjadikan produk dapat mengembang. Produk kerupuk dapat mengembang secara baik dipengaruhi oleh komposisi bahan yang digunakan.

b. Pembuatan Adonan
Proses pembuatan adonan dilakukan dengan mencampurkan antara lumatan ikan yang sudah halus dengan bumbu dan bahan-bahan lain. Adonan dibuat secara manual dengan menggunakan tangan hingga benar-benar merata dan pulen. Apabila komposisi dari bahan pembuat kerupuk ikan ini tidak benar maka akan terlihat sekali dari hasil adonan yang dibuat. Apabila terlalu banyak tepung akan mengakibatkan adonan keras dan mudah sekali patah, sedangkan bila terlalu banyak lumatan ikan akan terlalu lunak dan terasa basah. Oleh karena itu sangat diperlukan penambahan tepung dengan komposisi yang tepat.

c. Penggilasan
Proses penggilasan ialah proses pembentukan atau pencetakan kerupuk yang dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan tangan. Adonan kerupuk dibentuk menjadi silinder memanjang dengan diameter silinder adonan kurang lebih 1 cm.

d. Pemotongan
Adonan yang telah terbentuk setelah proses penggilasan, maka dilakukan proses pemotongan. Pemotongan adonan dilakukan dengan menggunakan lempeng besi. Panjang potongan adonan adalah 1 cm.
e. Perapihan Bentuk
Proses perapihan bentuk atau yang disebut dengan pengirigan ini dilakukan dengan cara menggoyang-goyangkan adonan yang telah dipotong di atas nampan secara berulang-ulang hingga terpisah antara potongan yang satu dengan potongan yang lain.
Proses pengirigan ini dilakukan dengan tujuan untuk menghaluskan permukaan adonan kerupuk yang sudah dipotong sehingga memiliki bentuk dan permukaan yang bagus dan menarik. Selain itu pengirigan juga bertujuan untuk memisahkan antara potongan yang satu dengan yang lain karena pada proses pembentukan dan pemotongan banyak yang menempel antara potongan adonan tersebut.

f. Penggorengan
Minyak yang digunakan untuk menggoreng adalah minyak sawit. Proses penggorengan dilakukan dengan suhu berkisar antara 130°C - 145°C selama kurang lebih 45 menit. Suhu selalu dijaga selama proses penggorengan, apabila terlalu panas akan mengakibatkan warna produk kerupuk yang dihasilkan kurang menarik. Kerupuk yang telah matang ditandai dengan warna kerupuk yang kuning keemasan dan tekstur mengeras tanpa kembali mengempes.
Proses penggorengan kerupuk akan terjadi tiga fase pengembangan yaitu fase plastisasi, fase mengembang dan fase tetap. Pada fase plastisasi kerupuk bersifat lentur dan belum mengembang, pada fase mengembang kerupuk mengalami perubahan bentuk dan mengembang tetapi belum tetap, kemudian fase terakhir yaitu fase tetap adalah fase dimana kerupuk tidak lagi mengalami pengembangan dan tidak kempes kembali (Zulviani, 1992).

g. Penirisan
Kerupuk yang sudah matang diangkat dengan menggunakan serok dan kemudian ditiriskan. Kerupuk yang ditiriskan ini diletakkan dalam wadah kotak penirisan selama kurang lebih tiga sampai dengan lima menit hingga kerupuk tidak terlalu panas dan tidak terbasahi oleh minyak.
Tujuan dari proses penirisan ini ialah untuk menurunkan suhu kerupuk sehingga tidak rusak teksturnya ketika dilakukan proses pengemasan. Selain itu juga bertujuan untuk meniriskan kerupuk agar tidak basah dari minyak goreng pada proses penggorengan. Kerupuk akan mudah mengalami ketengikan ketika masih banyak terkandung minyak dalam kemasan.
Proses penirisan ini sangatlah penting, karena dapat mempengaruhi aroma kerupuk yang dihasilkan ketika dalam kemasan. Kandungan lemak yang terdapat dalam minyak goreng menimbulkan ketengikan apabila mengalami proses penaikan suhu dengan mengikutsertakan oksigen yang dinamakan sebagai oksidasi (Widowati, 1987).

h. Pengemasan
Pengemasan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah pada proses pendistribusian pada penjualan, dan mempertahankan kerenyahan kerupuk sampai ke konsumen. Kualitas kemasan produk kerupuk ini sangatlah berperan penting karena kerupuk akan kehilangan kerenyahan apabila pengemasannya tidak sesuai dengan standar kemasan untuk produk kerupuk.
Pengemasan bahan pangan harus memperhatikan lima fungsi yaitu harus dapat mempertahankan produk agar tetap bersih dan memberikan perlindungan terhadap kotoran dan pencemaran lain, harus memberikan perlindungan terhadap bahan pangan dari kerusakan fisik, air, oksigen dan sinar, harus berfungsi secara benar, efisien dan ekonomis dalam proses pengepakan yaitu selama pemasukan bahan pangan ke dalam kemasan (Buckle, 1985).

SUMBER:
Siregar R.R., 2011. Modul Pengolahan Ikan Lele. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan: Kelompok Modul Pengolahan Ikan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Rabu, 23 April 2014

PEMILIHAN METODE PENYULUHAN


A.       Dasar-Dasar Pertimbangan Pemilihan Metode Penyuluhan Perikanan
Dengan beragamnya metode penyuluha, maka seorang penyuluh harus mampu memilih metode yang tepat, sesuai dengan tujuan perubahan perilaku yang diinginkan, kemampuan sasaran penyuluhan, materi yang akan disampaikan, situasi belajar (sosial dan fisik) serta sarana dan fasilitas yang  tersedia.  Sehingga kegiatan penyuluhan menjadi efektif dan efisien, dimana  pada umumnya apabila :
1.  Semakin sedikit jumlah sasaran dalam suatu kegiatan penyuluhan, maka semakin efektif  penyampaian pesan.
2.  Semakin banyak sasaran dalam suatu kegiatan penyuluhan maka semakin efisien kegiatan dilihat  dari segi biaya dan waktu yang digunakan.
3.  Semakin banyak indera yang digunakan oleh sasaran untuk menangkap pesan dalam suatu kegiatan penyuluhan/belajar, semakin efektif pesan yang dapat diserap.

B.        Langkah-Langkah Pemilihan Metode Penyuluhan Perikana
1.  Memahami  situasi dan kondisi.
a.    Sasaran
1)  Golongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah masing-masing kelompok/golongan masyarakat pelaku utama.
2)  Adat kebiasaan, norma-norma dan pola kepemimpinan.
3)  Bentuk-bentuk usaha di bidang perikanan oleh sasaran.
4)  Kesiapan kerjasama dan loyalitas pelaku utama.
b.    Penyuluh dan kelengkapannya
1)  Kemampuan penyuluh, jumlah penyuluh, pengetahuan dan keterampilan penyuluh.
2)  Materi penyuluhan/pesan.
3)  Sarana dan prasarana penyuluhan.
4)  Biaya yang tersedia. 
c.    Keadaan daerah dan kebijaksanaan pemerintah
1)  Musim/iklim.
2)  Keadaan lapangan (topografi), jenis tanah, sistem pengairan.
3)  Perhubungan jalan, listrik dan telepon
4)  Kebijaksanaan pemerintah pusat, daerah dan setempat.
2.  Menetapkan alternatif metode penyuluhan perikanan
Pemilihan metode penyuluhan perikanan secara umum adalah sebagai berikut:
a.  Metode–metode dengan pendekatan massal dipergunakan untuk menarik perhatian, menumbuhkan minat dan keinginan serta memberikan informasi selanjutnya.
b.  Metode-metode dengan pendekatan kelompok biasanya dipergunakan untuk dapat memberikan informasi yang lebih rinci tentang suatu teknologi. Metode tersebut ditujukan untuk dapat membantu seseorang dari tahap menginginkan ke tahap mencoba atau bahkan sampai tahap menerapkan.
c.   Metode-metode dengan pendekatan perorangan, biasanya sangat berguna dalam tahap mencoba hingga menerapkan, karena adanya hubungan tatap muka antara penyuluh dan sasaran yang lebih akrab. Perlu diperhatikan oleh penyuluh, bahwa metode pendekatan perorangan itu dilakukan apabila sasaran sudah hampir sampai ke tahap mencoba dan bersedia mencoba yang tentunya memerlukan bimbingan untuk memantapkan keputusannya.
d.  Faktor lain yang memegang peranan dalam pemilihan metode adalah masa kerja penyuluh di suatu tempat. Penyuluh yang belum lama bekerja di suatu daerah perlu mengenal terlebih dahulu situasi dan kondisi wilayah  kerjanya.
e.  Dalam taraf permulaan ini metode penyuluhan yang terbaik adaah pendekatan
perorangan. Apabila kemampuannya dalam pengenalan sasaran dan keadaan wilayah kerja sudah difahami, namun metode penyuluhan yang efektif dan efisien dalam menjangkau sasaran yang lebih besar adalah pendekatan kelompok atau massal.
3.  Menetapkan metode penyuluhan perikanan
Setelah penyuluh perikanan menetapkan alternatif metode penyuluhan, barulah ia pikirkan dengan matang-matang apakah metode-metode itu dapat dilaksanakan dan cocok dengan lapangan dan sasaran
Bagi penyuluh perikanan yang sudah lama atau sudah berpengalaman di daerah itu, tentu tahapan ini akan mudah baginya dan langsung dapat memilih metode yang cocok. Dalam melaksanakan demonstrasi misalnya ia harus menentukan lokasi demonstrasi dan siapa diantara sasaran yang bersedia menjadi demonstratornya.
Dalam mencapai suatu tujuan perlu dilaksanakan pemecahannya dengan kombinasi metode tertentu. Pertimbangan-pertimbangan tentang musim, keadaan usaha di bidang perikanan, permasalahan di lapangan, fasilitas, sasaran penyuluhan yang telah dikemukakan terdahulu, sangat diperlukan dalam menetapkan kombinasi metode penyuluhan perikanan. Pertimbangan-pertimbangan ini akan menghasilkan pemilihan satu atau lebih metode penyuluhan. Apabila lebih dari satu metode penyuluhan yang terpilih, maka pelaksanaan penyuluhan dapat dilakukan sebagai berikut:
a.    Pengulangan
b.    Urutan
c.    Kombinasi
4.  Memantapkan keputusan metode yang akan dipilih
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemantapan pemilih metode penyuluhan adalah :
               a.   Metode penyuluhan terpilih harus dapat mengembangkan swakarsa dan swadaya pelaku utama/pelaku usaha;
               b.   Metode penyuluhan terpilih harus dapat memungkinkan disampaikannya materi yang sesuai, cukup dalam jumlah dan mutu, tepat sasaran dan waktu, mudah diterima dan dimengerti, penggunaan fasilitas dan media secara tepat dan berhasil guna.
               c.   Metode yang digunakan lebih efesien dan efektif bagi penyuluh
               d.   Harus dapat memungkinkan kelanjutan pelaksanaannya
               e.   Harus memungkinkan turut sertanya orang lain secara aktif
                f.   Biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan metode penyuluhan terpilih relatif lebih kecil.


C.        Jenis-Jenis Metode
1.    Metode berdasarkan Pendekatan Perorangan/Individual
Pendekatan Perorangan dilakukan khususnya untuk mencapai sasaran penyuluhan potensial dan strategis yang diperkirakan akan mendorong atau bahkan menghambat berlang­sungnya kegiatan penyuluhan. Pendekatan terhadap pihak-pihak strategis bertujuan untuk mencari  pengakuan tentang pentingnya inovasi yang  akan disampaikan lewat program yang diintroduksikan oleh penyuluh. Biasanya, jika pihak-pihak strategis ini dapat diyakinkan tentang kemanfaatan inovasi tersebut maka penduduk lainnya juga akan cepat terpengaruh.
Keunggulan pendekatan perorangan adalah relatif cepat terjadinya perubahan perilaku sasaran penyuluhan setelah mencoba menerapkan inovasi. Alasannya karena individu sangat strategis biasanya akan menerima suatu inovasi jika dia benar-benar sudah yakin pada inovasi itu dan terutama pada pembawa inovasi tersebut, yaitu penyuluh.
Kelemahan pendekatan perorangan yaitu memerlukan banyak tenaga dan waktu dari penyuluh untuk mendatangi satu persatu individu strategis tersebut. Karena itu, penentuan individu selaku "sasaran strategis" harus selektif.  Selektifitas ini akan dapat dilakukan dengan baik jika penyuluh dapat mengidentifikasi dengan cermat dan tepat individu-individu strategis yang ada dimasyarakat. 
Adapun metode penyuluhan berdasarkan pendekatan perorangan adalah sebagai berikut:

Kunjungan/Anjang Sana
Kunjungan dapat dilakukan di rumah, tempat usaha dan kantor. Kunjungan rumah adalah kunjungan yang dilakukan oleh penyuluh dengan tujuan menjalin hubungan  baik sehingga tercipta rasa percaya dan keakraban antara penyuluh dan sasaran penyuluh.
Kunjungan tempat usaha/lapangan adalah kunjungan yang dilakukan penyuluh ke tempat usaha/kerja sasaran penyuluhan. Kunjungan kantor adalah pertemuan antara sasaran penyuluhan dengan instansi-instansi tertentu. Tujuannya adalah untuk berkonsultasi tentang sesuatu hal.
Metode penyuluhan ini memiliki tujuan : 1) Berkenalan dengan sasaran penyuluhan,  2) Menumbuhkan kepercayaan, 3) Membicarakan masalah pribadi dan masyarakat, 4) Menemukan problem yang belum disadari, 5) Mengajarkan keterampilan, 6) Memberi dan menerima informasi.
Manfaat dan hambatan dari teknik ini adalah masalah-masalah yang muncul dapat dipecahkan secara langsung, hubungan persahabatan dan kepercayaan mudah dibina, teknik ini relatif mahal dan memakan banyak waktu dan tenaga, dan jumlah sasaran penyuluhan yang dapat dikunjungi terbatas.
Teknik pelaksanaan metode kunjungan/anjangsana adalah : 1) Kunjungan dilakukan secara berencana dengan pembicaraan secara terencana serta berkala; 2) tentukan waktu kunjungan sehingga tidak mengganggu kesibukan pelaku utama/pelaku usaha; 3) Siapkanlah bahan-bahan informasi seperti brosur atau selebaran lain bila dibutuhkan; 4) Bersikap ramah, bersahabat dan kekeluargaan, jangan bersikap menggurui dan terlalu resmi; 5) Materi kunjungan dapat berkaitan dengan materi lain; 6) Bicarakan terlebih dahulu hal-hal yang menarik perhatian; 7) Memberi kesempatan kepada pelaku utama/pelaku usaha untuk berbicara; 8) Pergunakan gaya yang menarik dan bahasa yang mudah dimengerti oleh pelaku utama/pelaku usaha; 9) Tumbuhkan rasa seolah-olah pelaku utama/pelaku usaha sebagai pembawa ide; dan 10) Catatlah hasil kunjungan, masalah-masalah yang sudah dibicarakan, masalah-masalah yang belum terpecahkan, janji-janji atau pesan-pesan pelaku utama/pelaku usaha.

2.    Metode Berdasarkan Pendekatan Kelompok
Metode berdasarkan pendekatan kelompok adalah metode penyuluhan yang sasarannya berupa kelompok masyarakat tertentu dan telah terorganisir baik formal maupun informal. Dalam metode pendekatan kelompok; penyuluh berhubungan langsung dengan sasaran secara kelompok. Menurut Kartasaputra (1994) dalam buku Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta
Metode pendekatan cukup efektif, dikarenakan sasaran yang disuluh dibimbing dan diarahkan secara kelompok untuk melakukan sesuatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja sama. Dalam pendekatan kelompok banyak manfaat yang diambil, disamping dari transfer teknologi informasi juga terjadinya tukar pendapat dan pengalaman antar sasaran penyuluhan dalam kelompok yang bersangkutan.
Pendekatan kelompok lebih cepat dan praktis dibanding pendekatan perserorangan. Persoalannya hanyalah bagaimana menentukan kelompok strategis yang akan dijadikan sasaran penyuluhan. Kelompok bidang perikanan (Pokdakan, LEEP, Pokmaswas, kelompok usaha bersama (KUB)) adalah satu dari sekian banyak kelompok sosial  di masyarakat  yang dapat dijadikan kelompok sasaran strategis.   namun kelompok-kelompok lainnya pun tetap harus didekati, khususnya  dalam  upaya mempersamakan pengertian dan pandangan tentang arti, hakekat, dan program serta fungsi program sebagai sarana untuk menebarkan inovasi (informasi baru) ke masyarakat. 
Adapun metode berdasarkan pendekatan kelompok diantaranya:
a.  Demonstrasi
1)  Demonstrasi Cara
Demonstrasi Cara adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan untuk memperlihatkan secara nyata tentang cara penerapan teknologi perikanan yang telah terbukti menguntungkan bagi pelaku utama/pelaku usaha perikanan. Tujuan dari demonstrasi cara adalah untuk meyakinkan orang bahwa suatu cara kerja tertentu yang dianjurkan itu bermanfaat dan mudah dilakukan. Contoh dari demonstrasi cara adalah demonstrasi pembuatan konstruksi kolam dan tambak, demonstrasi cara penebaran benih, lokasi demonstrasi biasanya berada di daerah yang mudah dikunjungi pelaku utama/pelaku usaha.
Teknik pelaksanaan dari metode ini adalah : a) Siapkan materi yang akan disampaikan, materi yang dapat didemonstrasikan antaralin seperti demonstrasi kawin suntik, penebaran benih, pembuatan kolam, dan lain sebagainya.; b) Tempat, alat dan bahan untk demonstrasi dipersiapkan sebelumnya dan diperiksa supaya tidak gagal pada waktunya; c) Beritakan mengenai tempat, waktu dan maksud demonstrasi seluas mungkin, dapat melalui ketua kelompok, papan pengumuman; d) Tempat diatur sebaik mungkin sehingga semua hadirin dapat melihat, bertanya dan berdiskusi;       e) Berikan kesempatan pada hadirin untuk mencoba sendiri; f) Barikan bahan-bahan penunjang yang bersangkutan dengan demonstrasi; g) Setelah selesai demosntrasi mintakan komentar dari para ketua kelompok berkenaan dengan penerapan cara baru seperti yang didemonstrasikan.
Manfaat dan hambatan dari metode ini adalah : 1) Efektif untuk mengajarkan keterampilan, 2) Menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri, 3) Merangsang kegiatan, 4) Mempunyai efek publisitas, 5) Tidak semua materi dapat didemostrasi carakan, 6) Memerlukan banyak persiapan dan perlengkapan disamping membutuhkan penyuluh yang benar-benar terampil dan menguasai masalah, 7) Bila demonstrasi berjalan buruk, akanmerugikan programa penyuluhan secara keseluruhan.
Kegiatan demonstrasi cara dapat dilaksanakan di semua tingkatan mulai di tingkat kelompok pelaku utama, tingkat Desa, tingkat Kecamatan, tingkat Kabupaten, tingkat Provinsi sampai di tingkat Nasional.
2)  Demonstrasi Hasil
Demonstrasi hasil adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan untuk memperlihatkan secara nyata tentang hasil penerapan teknologi perikanan yang telah terbukti menguntungkan bagi pelaku utama/pelaku usaha perikanan atu teknologi lainnya yang sudah spesifik lokasi. Tujuan dari demonstrasi hasil adalah untuk menunjukkan nilai cara baru yang dianjurkan dan untuk memperlihatkan bahwa anjuran-anjuran itu cocok bagi tempat tersebut serta menguntungkan.
Teknik pelaksanaan dari kegiatan ini adalah : a) materi yang dapat didemonstrasi-hasilkan dalam program perikanan adalah demonstrasi di bidang perikanan tentang manfaat penggunaan alat perikanan modern dan demonstrasi usaha di bidang perikanan; b) Demonstrasi hasil dilakukan oleh kelompok,dan atau seorang pelaku utama/pelaku usaha demonstrator dengan bimbingan penyuluh perikanan; c) Buatlah tanda-tanda yang jelas, mengenai apa yang didemostrasikan dan batas-batas daerah demostrasi;    d) Batasi ruang lingkup demonstrasi hanya untuk meyakinkan kebenaran dan kemantapan hasil suatu teknologi baru, jadi tidak untuk menemukan hal-hal yang baru; e) Susun kalender kerja demosntrasi; f) Bantu demonstrasi dengan pencatatan peristiwa-peristiwa seperlunya; g) Kunjungi demonstrasi secara teratur, untuk bimbingan dan pengawasan; h) Buatlah petak dasar (check plot) untuk perbandingan, jika memungkinkan; i) Susunlah catatan, bukti dan kesimpulan tentang demosntrasi tersebut; j) Umumkan secara meluas hasil demosntrasi tersebut; k) Bicarakan hasil demontrasi ini dalam pertemuan-pertemuan; dan l) Bila demosntrasi gagal, supaya dianalisa sebab-sebabnya.
Manfaat dan hambatannya adalah : a) Mempercepat proses adopsi dikalangan pelaku utama/pelaku usaha, b) Memperoleh keterangan dan data yang nyata, c) Memberi pengalaman kepada petugas/penyluh lapangan, mengenai kebenaran cara-cara yang dianjurkannya, sehingga memperbesar keyakinan kan tugasnya, d) Memerlukan persiapan, pelaksanaan dan pengawasan yang teliti, disamping relatif memerlukan biaya besar, dan          e) Memerlukan ketelitian dalam memilih demonstrator, disamping bimbingan yang terus menerus.
Kegiatan demonstrasi hasil dapat dilaksanakan di semua tingkatan mulai tingkat kelompok pelaku utama, tingkat Desa, tingkat Kecamatan, tingkat Kabupaten, tingkat Provinsi sampai di tingkat Nasional.
3)  Wisata
Wisata terbagi menjadi dua, yaitu widyawisata dan karyawisata. Widyawisata adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan perjalanan bersama yang dilakukan oleh kelompok pelaku utama/pelaku usaha perikanan untuk belajar dengan melihat suatu penerapan teknologi dalam keadaan yang sesungguhnya dengan prinsip adalah belajar dengan melihat. Sedangkan karyawisata adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan perjalanan bersama yang dilakukan oleh pelaku utama/pelaku usaha perikanan untuk mempraktekkan hasil suatu pengajaran atau melakukan suatu karya yang bermanfaat di tempat yang dituju.
Tujuan metode wisata adalah : a) meyakinkan para pelaku utama/pelaku usaha dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat sendiri hasil suatu teknologi baru, demosntrasi suatu keterampilan, alat baru dan sebagainya; dan b) membantu pelaku utama/pelaku usaha mengenal masalah, menimbulkan perhatian, minat, dan memotivasi untuk melakukan suatu kegiatan.
Teknik pelaksanaan metode wisata : a) Menentukan tempat yang akan dikunjungi serta apa yang akan dilihat dan dipelajari, contoh untuk kegiatan usaha perikanan dapat dipilih obyek-obyek antara lain balai benih ikan, P4S dan sebagainya; b) Hubungi pejabat/petugas dari tempat yang akan dikunjungi dan beritahukan rencana kunjungan; c) Tentukan susunan peserta dan pemimpinnya; d) Rundingkan dengan para peserta hal-ikhwal yang bersangkutan dengan perjalanan; e) Berikan sedikit gambaran tentang tempat-tempat/obyek yang akan dikunjungi; f) Selalu mengusahakan kepentingan kelompok;  g) Berikan kesempatan kepada peserta untuk melihat, mendengar, dan bertukar pikiran; h) bantu mereka dalam membuat catatan-catatan yang diperlukan; i) Atur agar acara kunjungan tidak terlalu padat atau membosankan; j) Perhatikan dan usahakan agar ada rekreasi, kesenangan perjalanan dan kegembiraan kelompok; k) Pilih kelompok yang serba sama (homogen) untuk kunjunganyang bersifat khusus dan kelompok yang mewakili segala golongan untuk kunjungan yang bersifat umum;            l) Kepada setiap tempat kunjungan, para peserta diberikan kesempatan untuk juga menguraikan hasil usaha mereka sendiri; m) Kelompok supaya tidak terlalu besar; dan n) Ongkos untuk makan, rekreasi dan kepentingan umum ditanggung oleh semua peserta.
Manfaat dan hambatan dari metode ini adalah memberi ilham dan merangsang pelaku utama/usaha untuk melakukan suatu kegiatan, menumbuhkan keakraban di antara sesama pelaku utama/pelaku usaha, memperluas pandangan pelaku utama/pelaku usaha, menumbuhkan sikap kepemimpinan, metode ini relatif mahal, seringkali sulit untuk memenuhi keinginan semua peserta, bila acara terlalu padat atau salah memilih obyek, akan menimbulkan frustasi dan seringkali menghadapi hambatan prasarana dan akomodasi.
Kegiatan pendekatan kelompok melalui wisata dapat di laksanakan di semua tingkatan mulai tingkat kelompok pelaku utama, tingkat Desa, tingkat Kecamatan, tingkat Kabupaten, tingkat Provinsi sampai di tingkat Nasional.

4)  Kursus
Kursus adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan proses belajar mengajar terstruktur yang khusus diperuntukkan bagi pelaku utama/pelaku usaha perikanan, yang diselenggarakan secara sistematis dan teratur serta dalam jangka waktu tertentu. Kursus dapat dilaksanakan di ruangan tertutup (kelas) atau di lapangan dalam satuan periode waktu tertentu tergantung materi yang diberikan dan tujuan yang ingin dicapai.
Tujuannya adalah menambah pengetahuan, meningkatkan keterampilan, menumbuhkan sikap positif dan mengembangkan kepemimpinan.
Manfaat dan hambatan dari metode ini adalah sangat efektif untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan praktis secara mendalam dan sistematis, mendorong tumbuhnya kepemimpinan perikanan, mempercepat proses adopsi teknologi, lulusan dapat dimanfaatkan sebagai kader untuk mendorong pelaksanaan kelompok perikanan, metode ini relatif mahal dan memerlukan persiapan serta pelaksanaan yang cermat, kurangnya sarana dan alat pembantu pengajaran sering mengganggu tercapainya tujuan, dan menjangkau relatif sedikit pelaku utama/pelaku usaha.
Teknik pelaksanaan dari metode ini terdiri dari dua bagian, yaitu:
a)  Persiapan
(1)   Meneliti keadaan pelaku utama/pelaku usaha seperti tradisi, kebiasaan, norma, pendidikan, pengalaman, dan lain-lain.
(2)   Menganalisa masalah, usaha dibidang perikanan yang dihadapi pelaku utama/pelaku usaha, sikap terhadap kegiatan perikanan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.
(3)   Menyiapkan rencana kursus, pencakupan waktu, tempat, bahan pelajaran, alat-alat pembantu pengajaran, pengajaran, dan biaya.
(4)   Konsultasi dengan ketua kelompok dan pejabat daerah.
b)  Pelaksanaan
(1)   Mengorganisir peserta melalui ketua kelompok dan atas persetujuan pejabat pemerintah daerah, dimana jumlah peserta antara 20-30 orang.
(2)   Lamanya kursus tergantung dari volume materi yang akan disampaikan.
(3)   Materi yang diberikan hendaknya praktis dan langsung dapat memberikan solusi bagi masalah yang sedang dihadapi.
(4)   Gunakan alat peraga dan contoh nyata.Sebaiknya metode ini juga digabung dengan metode lainnya seperti demonstrasi, karyawista, dan sebagainya.
(5)   Setelah kursus selesai berikanlah surat tanda tamat kursus atau sertifikat dan berikan penghargaan bagi yang berprestasi.
(6)   Lakukan evaluasi dan bimbingan. Evaluasi dapat dilakukan selama kursus atau di akhir kursus, ini bertujuan untuk melihat efektivitas adanya kursus.
(7)   Bimbingan lanjutan diberikan oleh para petugas/penyuluh lapangan setelah kursus berakhir, yaitu dapat dengan melalui kunjungan dan sebagainya
Kursus dapat dilaksanakan baik oleh pemeintah,swasta, maupun swadaya masyarakat.

5)  Temu KIPRAH (Komunikasi, Informasi dan Praktek Pemecahan Masalah)
Temu KIPRAH adalah suatu pertemuan pejabat fungsional Departemen Kelautan dan Perikanan (peneliti/litkayasa, perekayasa, widyaiswara, instruktur, guru dan dosen), pemangku kepentingan dengan kelompok pelaku utama dan pelaku usaha yang didampingi oleh penyuluh perikanan untuk mengidentifikasi, merumuskan dan memecahkan masalah penerapan teknologi perikanan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha untuk meningkatkan produksi yang dilakukan secara partisipatif melalui praktek langsung di lahan usaha.
Tujuan dari Temu KIPRAH adalah mengidentifikasi masalah dalam penerapan teknologi perikanan, merumuskan alternatif pemecahan masalah dalam proses produksi atau teknik penangkapan ikan, memilih inovasi teknologi untuk memecahkan masalah, dan mengaplikasikan teknologi terpilih.
Dalam teknik pelaksanaan penyuluhan dengan menggunakan metode Temu KIPRAH ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu persiapan, pelaksanaan dan Monitoring Evaluasi.
Untuk persiapan dibagi menjadi beberapa tahap yaitu :
a)      Tahapan Persiapan Temu KIPRAH
Tahapan ini meliputi kegiatan mengidentifikasi dan merumuskan masalah, menganalisis alternatif pemecahan masalah yang sesuai dengan kondisi lapangan, dan mengkomunikasikan masalah utama dan penyebab utama masalah kepada sumber teknologi.
b)      Penetapan Tim Temu KIPRAH
Penetapan tim Temu KIPRAH dilakukan oleh pimpinan instansi yang membidangi kelautan dan perikanan. Tugas timTemu KIPRAH adalah : (1) menetapkan tim Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk menggali permasalahan teknologi perikanan di pelaku utama, (2) menetapkan satu komoditas dominan yang akan dipraktekkan, (3) menentukan calon lokasi pelaksanaan, (4) menetapkan lokasi definitif, (5) menetapkan peserta, (6) menetapkan masalah proses produksi/teknik penangkapan ikan, (7) menetapkan tim ahli dari sumber teknologi, (8) menyediakan bahan dan peralatan praktek sesuai dengan rekomendasi dari tim ahli, dan (9) membuat laporan penyelenggaraan kegiatan.
c)      Penetapan Lokasi dan Topik/Komoditas
Kriteria umum penetapan lokasi berdasarkan pada permasalah proses produksi dan teknik penengkapan ikan dominan, jumlah pelaku utama untuk pembudidaya 15-20 orang dan untuk penangkapan dan pengolahan minimal 10 orang, komoditas utama/alat tangkap dominan, dan penyebaran lokasi usaha.
Untuk Temu KIPRAH ditetapkan sebaiknya pada satu lokasi dengan satu komoditas, dan tempat pertemuan harus berdekatan dengan tempat praktek untuk memudahkan mobilitas peserta.
(1)   Identifikasi dan perumusan dan penyebab masalah
Identifikasi masalah perikanan di tingkat kelompok pelaku utama dilakukan metode PRA sederhana. Hasil identifikasi didiskusikan dengan dinas kelautan dan perikanan kabupaten/kota, penyuluh serta kelompok pelaku utama. Perumusan masalah difokuskan pada proses produksi/teknik perikanan yang dominan didasarkan pada data lapangan dan data sekunder secara partisipatif.
(2)   Penetapan Peserta
Peserta kegiatan Temu KIPRAH adalah pelaku utama sebanyak 20-30 orang, pemanggilan peserta sebaiknya 2-4 minggu sebelum pelaksanaan.
(3)   Penyiapan Teknologi dan Tim Ahli
Teknologi yang ditetapkan harus sudah matang dan secara teknis lebih baik dari teknologi yang sudah diterapkan pelaku utama serta lebih efisien secara ekonomis, akan lebih baik bila teknologi merupakan hasil rakitan yang sudah diujiadaptasikan atau hasil penelitian yang sudah direkomendasikan. Tim Ahli ditetapkan berdasarkan komponen teknologi yang telah ditetapkan, satu komponen teknologi didampingi satu ahli dibidangnya.Tim ahli adalah pejabat fungsional KKP (peneliti, perekayasa, widyaiswara, instruktur, dosen, dan guru).
Penyiapan Lembaran Informasi, Bahan Praktek dan Alat Bantu Pembelajaran Lembaran informasi masing-masing komponen teknologi dibuat secara terpisah, lembaran informasi dibuat dalam bentuk ”Modul Diseminasi”, maksimal 10 lembar. Bahan praktek disiapkan untuk setiap penerapan komponen teknologi yang akan dipraktekkan, dapat menggunakan alat bantu pembelajaran yang dapat memperjelas dan membantu kecepatan penyampaian informasi sehingga materi yang disampaikan mudah dipahami oleh peserta.

Pada tahap pelaksanaan terbagi menjadi beberapa kegiatan, yaitu :
(a)   Waktu dan Tempat
Waktu kegiatan utama Temu KIPRAH dilaksanakan dengan alokasi waktu untuk identifikasi data lapangan dan perumusan masalah 1-2 hari, praktek pemecahan masalah 2-5 hari, dan pelaksanaan percontohan di lokasi masing-masing  kebutuhan waktunya tergantung dari materi yang diberikan. Tempat dilaksanakannya Temu KIPRAh pada lokasi usaha pelaku utama.
(b)   Rincian Kegiatan
Rincian kegiatan pada pelaksanaan Temu KIPRAH meliputi pengantar rumusan masalah dalam penerapan teknologi yang ditemui di lapangan oleh perwakilan pelaku utama didampingi penyuluh perikanan, uji petik keterampilan awal pelaku utama oleh tim ahli, pengantar dan pelaksanaan praktek pemecahan masalah dari tim ahli, diskusi pemecahan masalah, uji petik keterampilan akhir dari pelaku utama oleh tim ahli, dan mempraktekkan cara pemecahan masalah di lapangan.
(c)    Penyusunan Rencana Tindak Lanjut
Pada tahap akhir pelaksanaan dilakukan penyusunan rencana tindak lanjut, rinciannya adalah sebagai berikut :
·         Menyusun perencanaan penerapan teknologi perikanan di unit produksi/teknik penangkapan ikan yang didampingi oleh penyuluh perikanan,
·         Melaksanakan percontohan diunit produksi/penangkapan ikan yang didampingi oleh penyuluh perikanan,
·         Melakukan evaluasi hasil percontohan yang dilakukan oleh pelaku utama didampingi oleh penyuluh perikanan,
·         Melaporkan hasil praktek penerapan teknologi perikanan ke dinas/instansi terkait.
Pada tahap monitoring dan evaluasi, dilakukan kegiatan monitoring untuk melihat tingkat penetrasi teknologi perikanan yang diintroduksikan pada saat kegiatan. Monitoring dilakukan pada tahapan pelaksanaan praktek pemecahan masalah dan pada penerapan teknologi di unit produksi para pelaku utama. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan tujuan mengetahui keberhasilan pelaksanaan Temu KIPRAH dalam memecahkan masalah yang dihadapi, dan untuk mengetahui penerapan teknologi di unit produksi para pelaku utama.
6)  Temu Usaha
Temu usaha adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan pertemuan antar pelaku utama/pelaku usaha perikanan dengan pengusaha di bidang perikanan dalam rangka informasi usaha, promosi usaha, transaksi usaha, perluasan pasar dan kemitraan usaha. Selain itu dapat pula diartikan satu pertemuan antara pelaku utama, pelaku usaha dan pengusaha perikanan untuk membangun kesepakatan di dalam menetapkan persyaratan-persyaratan produk perikanan yang diperjualbelikan, sehingga tercapai sebuah transaksi jual beli. Sebagai metode penyuluhan, temu usahaberguna untuk menumbuhkan kegiatan usaha perikanan yang berorientasi pasar.
Tujuan metode penyuluhan temu usaha adalah memfasilitasi adanya pertemuan bagi pemangku kepentingan usaha perikanan untuk bertukar informasi sebagai dasar menjalin kerja sama dalam pengembangan usaha perikanan, menjalin kerjasama antar pemangku kepentingan dengan mengoptimalkan perna masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya, dan mendorong terjadinya transaksi jual beli dalam ikatan perjanjian yang saling menguntungkan.
Teknik pelaksanaan adalah :
a)      Perencanaan
Dalam perencanaan  dilakukan : (1) penetapan materi, (2) penetapan peserta, (3) penetapan lokasi dan waktu, (4) fasilitator, (5) perumusan rencana evaluasi, dan (6) pembiayaan
b)      Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan terlebih dahulu dilakukan:  (1) persiapan pelaksana yang terdiri dari menetapkan tim pelaksana, menetapkan fasilitator, penyiapan penyelenggaraan, (2) tahapan pelaksanaan, dan (3) rencana tindak lanjut
c)      Evaluasi dan Bimbingan Lanjutan
Dalam evaluasi dan bimbingan lanjutan dilakukan evaluasi dan bimbingan lanjutan.
Manfaat dari metode ini adalah diketahuinya persyaratan kualitas produk perikanan yang mempunyai nilai tawar yang layak, bertambah luasnya wawasan dan jaringan pemasaran produk perikanan oleh pelaku utama, diketahuinya sumber-sumber produk perikanan yang dibutuhkan pelaku usaha/pengusaha, dan menyederhanakan rantai pemasaran.

7)  Temu Lapang
Temu Lapang adalah suatu teknik penyuluhan perikanan untuk memfasilitasi terselenggaranya diseminasi teknologi dari balai riset/balai pengembangan teknologi perikanan kepada pelaku utama dan pelaku lapang perikanan yang dilaksanakan di tempat usaha, atau dapat pula diartikan kegiatan lanjutan dari demonstrasi, karena pada prinsipnya temu lapang dilakasanakan untuk menginformasikan hasil dari demonstrasi.
Tujuan dari metode Temu Lapang ini adalah menginformasikan inovasi teknologi kelautan dan perikanan hasil penelitian yang telah direkomendasikan; menginformasikan teknologi spesifik lokasi hasil percontohan yang telah direkomendasikan; mendapatkan umpan balik mengenai penerapan inovasi teknologi yang dihasilkan sebagai bahan penyempurnaan teknologi yang diterapkan; menjalin hubungan kerja yang sinergis dan harmonis antara peneliti, penyuluh dan pelaku utama perikanan; dan meningkatkan peran penyuluh dan peneliti sebagai mediator dan fasilitator.
Manfaat dari metode ini adalah diketahuinya inovasi teknologi (hasil penelitian dan hasil percontohan yang telah direkomendasikan), adanya informasi untuk penyempurnaan teknologi yang direkomendasikan, kemudahan untuk mendapatkan informasi teknologi dan umpan balik, dan kinerja kegiatan perikanan menjadi efektif.
Dalam pelaksanaannya metode ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi dan bimbingan lanjutan.

a)   Perencanaan
Dalam perencanaan terdapat berapa kegiatan yaitu :
(1)   Penetapan Materi, materi temu lapang difokuskan pada teknologi perikanan yang terekomendasi, dan apabila dilakukan di lokasi pelaku utama maka materi disajikan dalam bentuk contoh nyata.
(2)   Penetapan peserta, peserta temu lapang ditetapkan oleh tim pelaksana berdasarkan permasalahan dan kebutuhan teknologi.
(3)   Penetapan lokasi dan waktu, lokasi dan waktu ditetapkan oleh tim pelaksana berdasarkan kebutuhan teknologi peserta dan kesepakatan dengan sumber teknologi.
(4)   Pentapan fasilitator, fasilitator ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan fasilitator dalam berkomunikasi.
(5)   Perumusan rencana evaluasi, perumusan rencana evaluasi dilakukan untuk memudahkan dalam kegiatan evaluasi.
(6)   Pembiayaan, biaya kegiatan temu lapang disesuaikan dengan besar-kecilnya skala kegiatan dan jenis teknologi yang akan disampaikan.
b)   Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan terdiri dari kegiatan:
(1)   Persiapan pelaksanaan
(a)   Penetapan tim pelaksana
Tim pelaksana Temu Lapang ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota yang membidangi kelautan dan perikanan untuk memudahkan dalam pelaksanaan kegiatan. Tim pelaksana terdiri dari unsur dinas yang membidangi kelautan dan perikanan, penyuluh perikanan atau sumber teknologi.
(b)   Penetapan fasilitator
(c)    Penetapan materi



(2)   Persiapan penyelenggaraan
Dalam tahap ini kesiapan materi yang akan disampaikan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan, demikian juga kesiapan tim pelaksana dan fasilitator. Sehingga perlu disipakan sebaik-baiknya, yaitu tim pelaksana harus menginvetarisir dan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan teknolgi pelaku utama, tim pelaksana melakukan penjajakan dengan peneliti mengenai materi yang akan disampaikan, tim pelaksana menyiapkan fasilitas dan sarana serta hasil kerja teknologi yang akan disampaikan dan tim pelaksana menyiapakan tempat kegiatan akan diselenggarakan.
(a) Pelaksanaan
Pada tahapan ini dilakukan pendaftaran peserta, pembukaan acara, penjelasan dan praktek dari peneliti atau sumber teknologi mengenai teknologi yang akan didiseminasikan, diskusi bersama antara peneliti dan pelaku utama serta penyuluh mengenai teknologi yang disampaikan.
(b) Rencana tindak lanjut
Tim pelaksana melakukan monitoring kegiatan dan melakukan pembinaan lanjutan bersama fasilitator dalam membantu kelancaran penerapan teknologi di tingkat pelaku utama.
(c) Monitoring Evaluasi dan Bimbingan Lanjutan
(1)   Monitoring
Monitoring dilakukan untuk melihat tingkat penerapan teknologi kelautan dan perikanan yang diintroduksikan dan untuk melihat dampak dari kegiatan yang dilakukan. Monitroing dilakukan secara berkala, minimal 3 bulan sekali. Monitoring cukup dilakukan 3 kali.
(2)   Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada tahapan perencanaan, penyelenggaraan temu lapang dan rencana tindak lanjut. Evaluasi penyelenggaraan pada seluruh komponen kegaiatn dilakukan untuk melihat efektivas, efisiensi, dampak dan umpan balik dari Temu Lapang.
(3)   Bimbingan lanjutan
Bimbingan lanjutan perlu dilakukan dalam rangka memperlancar penerapan teknologi baru yang dilakukan pelaku utama.

8)  Temu Karya
Temu karya adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan pertemuan antar pelaku utama/pelaku usaha untuk bertukar informasi dan pengalaman, saling belajar, saling mengajarkan keterampilan dan pengetahuan dalam berkarya atau hasil karyanya untuk dijadikan sebagai bahan alternatif pilihan bagi pelaku utama/pelaku usaha perikanan dalam mengembangkan karyanya.
(Keterangan; untuk tahapan kegiatan yang bersifat pertemuan/Temu pada dasarnya sama yang dapat membedakan diantaranya, tujuan, nara sumber, fasilitator dan lokasi atau tempat pelaksanaan, biasanya dilaksanakan mulai dari Tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan di Pusat).

9)    Temu Pakar
Temu pakar adalah teknik penyuluhan perikanan berupa pertemuan antar pelaku utama/pelaku usaha perikanan dengan para pakar di bidang perikanan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh pelaku utama/pelaku usaha perikanan, menghimpunan informasi teknologi baru, dan pencarian berbagai alternatif kegiatan usaha perikanan yang lebih menguntungkan.

10) Temu Wicara
Temu wicara adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan pertemuan antara pelaku utama/pelaku usaha dengan pemerintah untuk mengkomunikasikan program, dan atau bertukar informasi mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan perikanan, serta mengkomunikasikan kebutuhan dan peran serta pelaku utama/pelaku usaha dalam pembangunan perikanan.

11) Mimbar Sarasehan
Mimbar Sarasehan adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan pertemuan sebagai forum konsultasi antara gabungan kelompok perikanan atau asosiasi kelompok perikanan dengan pihak pemerintah yang diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan untuk membicarakan, memusyawarahkan dan menyepakati pemecahan berbagai permasalahan pembangunan perikanan.

12) Gelar Teknologi Perikanan
Gelar Teknologi Perikanan adalah suatu kegiatan untuk memperagakan teknologi perikanan unggulan hasil Kaji terap/uji coba yang sudah matang di lahan usaha pelaku utama/pelaku usaha dan dilaksanakan oleh kelompok perikanan dan/atau anggotanya, dengan bimbingan teknis oleh penyuluh perikanan. Gelar teknologi perikanan dapat pula diartikan sebagai kegiatan mengaplikasikan teknologi informasi perikanan dilahan pelaku utama/pelaku usaha perikanan.
Menurut  jumlah  sasaran penyuluhan yang akan dicapai,  kegiatan penyuluhan dapat dilakukan dengan tiga cara pendekatan yaitu: perorangan, kelompok, dan massal.
Tahapan pelaksanaan Gelar Teknologi dibagi terdiri dari :
a)      Penetapan Tim, Tim pelaksana dalam gelar Teknologi adalah, Peneliti, Penyuluh dan pelaku utama terpilih sebagai kooperator.
b)      Penetapan Materi, materi gelar teknologi  harus teknologi perikanan yang terekomendasi, sehingga materi disajikan dalam bentuk contoh nyata.
c)      Penetapan pelaku utama kooperator, oleh Penyuluh dan peneliti sebaiknya dipilih dari pengurus atau anggota kelompok yang memiliki kriteria terbaik dan bersedia untuk bekerja sama.
d)      Penetapan lokasi dan waktu, ditetapkan oleh tim pelaksana berdasarkan kebutuhan pelaku utama dan kesepakatan Tim pelaksana.
e)      Pelaksanaan gelar teknologi dilakukan oleh Tim dimana secara teknis pelaksanaan dan materi teknologi sebelumnya sudah dibahas atau dipelajari dan disepakati bersama oleh Tim pelaksana. Serta selama pelaksanaan Kooperator terus didampingi oleh penyuluh perikanan dan peneliti.
f)       Monitoring dan Evaluasi, penting dilaksanakan  untuk melihat tingkat keberhasilan penerapan teknologi dan penyelenggaraan pada seluruh komponen kegaiatn dilakukan untuk melihat efektivas, efisiensi, dampak dan umpan balik dari gelar teknologi.

Sumber:
Hudoyo M.W., 2010. Modul Metode dan Teknik Penyuluhan Perikanan. Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.