Loading...

Kamis, 05 Maret 2015

MEMAHAMI TEKNIK MERANGKUM STRATEGI PENGELOLAAN DALAM MODEL KONSEPTUAL STRATEGI PENGELOLAAN

Model konseptual adalah suatu diagram alur untuk rencana pengelolaan dengan tujuan, masukan, keluaran dan hasil tertentu, dan terhubung dengan kaitan sebab akibat. Diagram ini menyajikan gambaran visual mengenai hasil yang akan didapatkan dari program dan bagaimana cara mendapatkan hasil tersebut. Proses-proses perencanaan seperti ini disebut juga “model logis”.

Komponen-komponen dalam model konseptual rencana pengelolaan mencakup pengaruh luar KKP (eksternal) dan pengaruh dari dalam KKP (internal).  Pengaruh eksternal di antaranya adalah:
(1)   Hasil jangka panjang:  Menjelaskan perubahan akhir yang diharapkan atau tujuan program terhadap isu-isu. Dapat berupa konsekuensi sosial, ekonomi, lingkungan atau individu.
(2)   Hasil jangka menengah: Menjelaskan perubahan yang diharapkan dari lingkungan atau perilaku audiensi berdasarkan kelanjutan dari program atau sejumlah proyek.
(3)   Hasil jangka pendek:  Menjelaskan perubahan segera yang diharapkan dari program atau proyek (misalnya, reaksi atau kemampuan dari audiensi, perubahan lingkungan).
Sedangkan pengaruh internal di antaranya adalah:
(1)   Keluaran: Produk-produk fisik yang dihasilkan dari strategi yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
(2)   Strategi:  Waktu yang Anda habiskan untuk mencapai hasil yang diinginkan, menghasilkan keluaran yang diperlukan atau mendapatkan sumber daya.
(3)   Sumber daya:  Waktu, uang, sumber daya manusia, ruang kantor, peralatan, ATK, persediaan, manajemen, dukungan mitra, dll. yang diperlukan untuk menyelesaikan program.
Beberapa manfaat dari pembuatan model konseptualini di antaranya adalah:
(1)   Menunjukkan bagaimana seluruh komponen bersatu bersama.
(2)   Membantu individu melihat bagaimana mereka berkontribusi terhadap misi KKP.
(3)   Membantu menghubungkan bagaimana sumber daya yang digunakan dengan dampak dari penggunaannya.
(4)   Membantu mengidentifikasi indikator yang sesuai atau keefektifan kinerja, dan
(5)   Menyediakan dasar untuk perencanaan, evaluasi dan keputusan pengelolaan.

Jebakan ketika menggunakan model konseptual di antaranya adalah: 
(1)   Pengelola menjadi terlalu khawatir dengan kata-kata yang digunakan.
(2)   Pengelolamelupakan kaitan-kaitan yang merangkai sebuah proses yang logis.
(3)   Proses penyusunan rencanadicampur-adukan dengan proses evaluasi.
(4)   Proses pembuatan model konsep ini tidak sepenuhnya linear, karena bisa saja ada perbedaan skala cakupan  kewenangan untuk setiap tingkat organisasi dan seterusnya.
(5)   Proses penyusunan rencana dikacaukan oleh kegiatan lain yang tidak memberikan hasil apa-apa, dan akhirnya
(6) Proses perencanaan ini  bukanlah obat mujarab atau satu-satunya solusi akhir.

SUMBER:
PUSLATKP, 2014. MODUL A.033101.005.01 Menyusun Strategi Pengelolaan pada Pelatihan Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan,  Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Didownload dari http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/dokumen/modul-pelatihan.

Rabu, 04 Maret 2015

MEMAHAMI KONSEP PERBAIKAN KESELARASAN DI ANTARA STRATEGI PENGELOLAAN DAN RENCANA ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

1. Alasan melakukan analisis keselarasan di antara strategi dan rencana zonasi KKP

Proses pengembangan rencana manajemen harus mempertimbangkan pembentukan zona untuk mengontrol penggunaan dan akses serta untuk mengatasi konflik. Beberapa KKP cukup sederhana dan hanya memiliki zona satu, sementara KKP lainnya ada yg mengikuti model cagar biosfer dalam zona konsentris. Berbagai zona dibuat untuk mengelola kegiatan seperti berperahu, penelitian, pariwisata dan akses umum. Dalam semua kasus, salah satu langkah pertama dalam proses zonasi adalah mengkaji pengaturan wewenang KKP untuk memastikan bahwa Anda memiliki wewenang untuk mengendalikan dan mengatur kegiatan yang dilakukan oleh manusia di dalam KKP.
Mengembangkan zona yang efektif dan dapat dipatuhi serta disepakati oleh semua kalangan adalah gabungan ilmu pengetahuan dan seni. Ilmu pengetahuan tentang zonasi dan peraturan berkaitan dengan lokasi dan luas zona serta dengan penggunaan bahasa yang tepat diperlukan untuk membantu tercapainya tujuan KKP. Zonasi dan peraturan harus, pertama dan terutama, didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang kondisi biologi, sosial, ekonomi dan budaya daerah tersebut. Langkah kedua dalam proses pengembangan peraturan dan zonasi bertujuan untuk mempelajari karakter lokasi. Bisa saja selama tahap karakterisasi lokasi, tim perencana sudah dapat membuat peta biologi, fisik, manusia, dan nilai-nilai KKP. Gunakanlah peta tersebut sebagai rujukan ketika menentukan lokasi dan luasan setiap zona peruntukan.
Seni dari pembuatan zonasi dan peraturan adalah proses bekerja bersama para pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi zonasi dan peraturan yang saling menguntungkan dan dapat dilaksanakan. Proses pengembangan zonasi dan peraturan dapat sangat rumit karena mempertimbangkan masukan dan pendapat dari berbagai pemangku kepentingan. Masukan dari mereka harus dipertimbangkan sesuai dengan tujuan yang telah dikembangkan untuk area tersebut.

2.         Cara melakukan analisis keselarasan di antara strategi pengelolaan dan rencana zonasi KKP

LANGKAH 1:Meninjau peraturan mengenai kewenangan KKP untuk memastikan bahwa KKP memiliki kewenangan dalam mengontrol dan mengatur kegiatan manusia di dalam KKP.
LANGKAH 2:Meninjau karakterisasi kawasan Anda untuk membangun pemahaman umum dan yang telah disepakati oleh tim perencanaan pengelolaan mengenai lokasi dan pengaturan secara biologi, fisik, pemanfaatan oleh manusia dan nilai-nilai (ekonomi dan intrinsik) KKP.
LANGKAH 3:Meninjau tujuan akhir dan tujuan rencana pengelolaan yang telah ditetapkan oleh tim perencanaan, karena Anda akan menggunakan zonasi dan peraturan sebagai alat pengelolaan untuk memenuhi tujuan akhir dan tujuan tertentu.
LANGKAH 4:Meninjau strategi pengelolaan prioritas yang baru diselesaikan oleh tim perencanaan untuk menentukan kemungkinan terdapat kesenjangan dalam memenuhi tujuan pengelolaan.
LANGKAH 5:Dengan menggunakan peta Anda sebagai rujukan, tentukan bagaimana zonasi dan peraturan dapat digunakan untuk membantu mencapai tujuan pengelolaan.

3.   Tujuan evaluasi terhadap usulan strategi pengelolaan

Tujuan dari mengevaluasi strategi pengelolaan adalah untuk menentukan apakah strategi yang diusulkan sudah sesuai untuk mengatasi dampak yang dialami oleh sumber daya sasaran. Dari evaluasi ini akan diketahui strategi mana saja yang akan dicantumkan dalam rencana pengelolalan dan strategi lain yang diperlukan.  Tahap ini merupakan pengenalan menuju langkah selanjutnya yaitu, memprioritaskan strategi pengelolaan.
Karena Anda bekerja biasanya dengan sumber daya staf dan keuangan yang terbatas, Anda tidak dapat memilih segala kegiatan atau strategi yang tidak secara maksimum mengurangi tekanan pada sumber daya yang akan dilindungi.  Dengan menggunakan serangkaian pertanyaan, Anda akan dapat menentukan apakah suatu kegiatan atau strategi yang diajukan akan bermanfaat bagi sumber daya sasaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gunakan model konseptual untuk menginformasikan keluaran dan hasil dari setiap strategi pengelolaan. Jika ditemukan bahwa sebagian besar jawaban tidak cukup kuat untuk mendukung kelayakan suatu strategi, lakukan penyesuaian yang tepat terhadap strategi pengelolaan tersebut.


SUMBER:
PUSLATKP, 2014. MODUL A.033101.005.01 Menyusun Strategi Pengelolaan pada Pelatihan Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan,  Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Didownload dari http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/dokumen/modul-pelatihan.

Selasa, 03 Maret 2015

MEMAHAMI TEKNIK PENENTUAN STRATEGI PENGELOLAAN YANG REALISTIS PADA KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN (KKP)

1.  Alasan memilih strategi pengelolaan kawasan konservasi perairan

Setelah mengetahui  kekuatan dan kelemahan kawasan, peluang dan tantangan/hambatan yang dihadapi maka Anda dapat menyusun strategi-strategi  untuk mencapai tujuan.  Pada tahap proses perencanaan ini, tim perencana pengelolaan harus siap untuk menyusun berbagai strategi atau kegiatan yang akan dicantumkan dalam rencana pengelolaan. Seperti halnya dengan tahapan perencanaan lainnya, tidak semua langkah yang tercakup dalam pelatihan ini diperlukan pada setiap proses perencanaan KKP, dan urutannya dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan spesifik kawasan atau kebutuhan tim perencana. Sebagai bagian dari pengembangan rencana pengelolaan yang efektif, sedapat mungkin Anda juga ingin memahami seluruh implikasi dan dampak dari setiap strategi yang diusulkan. Untuk memastikan tujuan itu, tahapan dalam proses perencanaan ini mencakup serangkaian pengujian:
1)      menentukan apakah kegiatan yang diusulkan langsung atau tidak langsung akan menangani ancaman pada sumber daya sasaran;
2)      menempatkan strategi pengelolaan ke dalam sebuah model untuk melihat apakah mereka dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Analisis SWOT yang baru dilakukan merupakan salah satu pengujian. Namun demikian, dalam dua hari ke depan Anda akan meneruskan mengevaluasi strategi pengelolaan yang diusulkan.
Ciri-ciri rencana pengelolaan yang baik:
1)      Jelas: mudah dibaca, tidak ada istilah teknis (jargon), dan disajikan dengan baik
2)      Ringkas dan komprehensif: tidak lebih panjang daripada yang betul-betul diperlukan tetapi dengan informasi yang cukup untuk melengkapi fungsinya.
3)      Akurat: tanpa kesalahan besar dan dengan penjelasan yang baik untuk semua keputusan.
4)      Logis: berdasarkan penilaian kawasan yang menyeluruh, termasuk alasan yang jelas untuk seluruh tujuan dan kegiatan (misalnya, berdasarkan informasi biologi dan sosial terbaik yang tersedia).
5)      Dapat diterima: bagi semua yang memiliki minat dan keterkaitan emosional dengan kawasan.
6)      Praktis: Dengan tujuan yang jelas dan metoda yang realistis untuk mencapainya, menghasilkan keluaran yang diinginkan dan dapat dipantau.
7)      Fokus: Efektif sebagai alat pengelolaan kawasan, memenuhi kebutuhan para manajer dan memenuhi sisi hukum atau kewajiban lainnya.
Pengujian ini akan membantu tim perencana memilih strategi yang paling sesuai untuk mengatasi berbagai ancaman terhadap sumber daya sasaran sekaligus memastikan tidak ada konsekuensi di masa depan yang berpotensi untuk menghambat keberhasilan pelaksanaan rencana tersebut—dampak negatif bidang ekonomi atau sosial yang tidak disengaja terhadap masyarakat lokal, contohnya. Juga karena sebagian besar KKP memiliki sumber daya keuangan dan manusia yang terbatas, maka setiap strategi dalam rencana pengelolaan harus merupakan investasi yang baik bagi sumber daya yang terbatas tersebut dengan imbalan maksimum dan melindungi sumber daya sasaran.
Seperti dengan semua tahap dalam perencanaan pengelolaan, tim perencana memainkan peranan yang penting. Pada titik ini, Anda juga mungkin ingin memilih tim penyusun, yang nantinya akan menulis rencana pengelolaan. Dua sampai tiga orang dari tim penyusun mungkin akan atau mungkin tidak akan menjadi bagian dari tim perencana. Jika mereka tidak menjadi bagian dari tim perencana, libatkan mereka dalam proses sebagai pengamat atau berkomunikasi dengan mereka secara teratur mengenai kemajuan dengan perencanaan pengelolaan.

2. Berbagai pertimbangan dalam mengembangkan strategi pengelolaan

Bagi siapa pun yang belum pernah bekerja untuk rencana pengelolaan KKP atau yang sedang berupaya memperbaiki rencana pengelolaan yang ada, sebuah daftar pilihan strategi pengelolaan telah disediakan berdasarkan lima kategori strategi pengelolaan yang umum untuk dipertimbangkan.  Kelima kategori pengelolaan tersebut adalah:
(1)   Mempengaruhi perilaku: menerapkan pendidikan dan penyadartahuan untuk membantu pengguna memahami dampak dari perilaku mereka, serta bagaimana membuat pilihan untuk memodifikasi perilaku mereka dalam mengurangi dampak terhadap sumber daya sasaran.
(2)   Memodifikasi perilaku: menerapkan sistem penjatahan (membatasi penggunaan suatu area), alokasi (mendistribusi penggunaan terbatas bagi kelompok yang bersaing) atau zonasi (penggunaan tertentu di area tertentu) untuk mengontrol di mana dan kapan suatu penggunaan tertentu terjadi.
(3)   Mengendalikan perilaku: menerapkan berbagai peraturan dan larangan untuk mengendalikan perilaku tertentu yang tidak sesuai dengan perlindungan sumber daya sasaran. 
(4)   Mencegah perilaku: menerapkan penegakan hukum secara interpretif atau strategi penegakan hukum untuk menghalangi atau menanggapi perilaku yang tidak tepat dan mendorong pengguna untuk bertindak dengan cara yang bertanggung jawab, serta membuat larangan tegas yang melawan dan konsekuensi terhadap perilaku yang tidak diinginkan.
(5)   Memahami dampak dari perilaku: menerapkan pengamatan atau pemantauan dan penelitian untuk memahami dampak dari kegiatan manusia menggunakan sumber daya sasaran.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, strategi rencana pengelolaan harus langsung menangani akar penyebab (dan perilaku manusia yang berkaitan) yang membuat ancaman terhadap sumber daya sasaran yang dilindungi oleh KKP Anda. Dengan demikian, kita biasanya mengambil strategi pengelolaan dalam enam kategori besar :
(1)   Pengelolaan kawasan: Untuk mengarahkan, menyalurkan pemanfaatan dan menjaga kondisi lingkungan.
(2)   Pertimbangan dan pengalokasian: Untuk mengatur intensitas kegiatan manusia dengan membatasi penggunaan ruang sekaligus mengalokasikanpemanfaatan sumber daya secara terbatas kepada kelompok-kelompok pemanfaat yang saling berkompetisi.
(3)   Peraturan: Untuk mengendalikan pengunjung pada suatu area dengan menentukan kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada area tersebut.
(4)   Pencegahan dan penegakan: Untuk mengendalikan dan menghilangkan perilaku pelanggaran dengan mendorong kelompok pengguna agar bertindak secara bertanggung jawab dengan membuat peraturan dan sanksi yang tegas atas perilaku yang tidak diinginkan.
(5)   Pendidikan untuk pengguna: Untuk mempengaruhi perilaku pengguna sekaligus membangun rasa tanggung jawab dan kepemilikan.
(6)   Gunakan berbagai pola dan dampak: Untuk memahami dampak saat ini dan mengantisipasi dampak yang akan dialami sumber daya sasaranakibat kegiatan manusia. Memahami pola-pola fenomena yang terjadi sebagai pengetahuan akan adanya perubahan dari waktu ke waktu serta keberhasilan (atau kegagalan) dari strategi pengelolaan.
Anda tidak perlu menganggap daftar kategori pengelolaan di atas ini sebagai daftar yang pasti. Daftar di bawah hanyalah jenis strategi pengelolaan yang paling umum digunakan di dalam KKP, sesungguhnya Anda bebas untuk menggunakan pemikiran Anda sendiri.

SUMBER:
PUSLATKP, 2014. MODUL A.033101.005.01 Menyusun Strategi Pengelolaan pada Pelatihan Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan,  Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Didownload dari http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/dokumen/modul-pelatihan.

Senin, 02 Maret 2015

MEMAHAMI TEKNIK IDENTIFIKASI KEKUATAN DAN KELEMAHAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN (KKP)

1. Alasan penting melakukan analisis kekuatan dan kelemahan KKP

Strategi pengelolaan yang realistis penting sekali dikembangkan. Pada titik ini, kita telah membuat suatu rangkaian pengujian untuk memastikan bahwa tim perencana akan dapat membuat rencana pengelolaan yang realistis dan dapat diterapkan. Tahap ini merupakan kesempatan kepada tim perencana untuk meninjau atau mengkaji berbagai kekuatan dan kelemahan KKP, pengaturannya, kemitraan serta mekanisme dukungan lembaga dalam menentukan strategi mana yang realistis berdasarkan kapasitas yang dimiliki KKP.

Kiat memilih strategi pengelolaan
Sebelum Anda melibatkan tim perencana dalam memilih strategi pengelolaan, tentukan dan buat kesepakatan PENUH mengenai bagaimana Anda akan mengevaluasi, membuat prioritas dan menganalisis usulan strategi tersebut. JANGAN menangguhkannya sampai setelah Anda memilih strategi Anda!

Sekali lagi analisis SWOT direkomendasikan, walaupun analisis ini bukan satu-satunya alat yang dapat digunakan. SWOTakan menunjukkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Tujuan dan pertimbangan pengelolaan dari strategi pengelolaan yang mungkin ingin Anda usulkan juga terdapat dalam diagram SWOT. Anda juga dapat menggunakan analisis SWOT setelah memilih strategi pengelolaan, untuk mengevaluasi mereka terhadap kapasitas kawasan (sumber daya manusia, keuangan, keahlian, kemitraan, dukungan masyarakat, dll.) dalam melaksanakan strategi ini.

Semua strategi dan tujuan harus dianalisis sebagai satu kesatuan. Melalui SWOT, seharusnya Anda pun dapat mengidentifikasi suatu pola yang menunjukkan peluang keberhasilan dan kegagalan. Tahap ini merupakan saat yang tepat untuk berdiskusi dengan tim perencana mengenai strategi dan pendekatan pengelolaan yang paling sesuai untuk kawasan, serta strategi mana yang mungkin tidak dapat mencapai keberhasilan.  Jangan membuang strategi-strategi tertentu karena di kemudian hari mungkin akanmenjadi strategi yang lebih baik jika disertai dengan strategi tambahan.
Tim perencana akan membuat keputusan penting mengenai strategi yang akan dicantumkan dalam rencana pengelolaan. Bila suatu proses pengambilan keputusan belum sempat dibuat oleh tim perencana, maka sekarang merupakan saat yang baik untuk mendiskusikan pilihan-pilihan Anda.


2.  Beberapa pertanyaan untuk menganalisis SWOT
Beberapa contoh pertanyaan yang diajukan dalam analisis SWOT:

I  N  T  E  R  N  A  L

Kekuatan
1)      Aspek lingkungan mana yang Anda kelola dengan baik?
2)      Apakah kekuatan staf Anda?
3)      Apakah kekhususan dan keunikan kawasan Anda?
4)      Apa saja asset Anda (pendanaan, peralatan, orang, data)?



Kelemahan
1)      Apakah sulit untuk melakukan zonasi di kawasan Anda?
2)      Adakah kekurangan kapasitas pengelolaan (keahlian) di kawasan Anda?
3)      Apakah pendanaan Anda berkelanjutan?
4)      Apa saja hal-hal rawan di dalam kawasan Anda?

Peluang
1)      Apakah masyarakat mendukung KKP Anda?
2)      Adakah peluang untuk bermitra dan bekerja sama?
3)      Apakah baru-baru ini ada kejadian, pengembangan atau pengaruh yang mungkin memberikan kontribusi terhadap upaya konservasi di kawasan Anda?


Ancaman
1)      Apakah di kawasan Anda terdapat ancaman terhadap sumber daya alam?
2)      Adakah ancaman terhadap mata pencaharian, atau kelangsungan hidup perekonomian pada masyarakat lokal?
3)      Adakah peristiwa alam yang berdampak pada sumber daya alam di kawasan Anda?
E  K  S  T  E  R  N  A  L



Gunakan hasil-hasil SWOT untuk lebih memahami KKP Anda dan selesaikan enam pertanyaan di bawah tentang cara terbaik untuk mengembangkan suatu rencana yang mencerminkan kekuatan dan kelemahan KKP Anda.
Hasil SWOT Anda . . .. . . dapat menolong Anda menjawab 6 pertanyaan perencanaan berikut ini:
Yang diidentifikasi dari kekuatan . . .
(1)   Perlukah Anda mempertahankan pekerjaan kita ke depan?
(2)   Perlukah Anda membangun (meningkatkan) atau memperkuat kawasan?
Yang diidentifikasi dari peluang . . .
(3)   Perlukah Anda menekankan atau mengoptimalkan ketika membangun rencana pengelolaan Anda?
Yang diidentifikasi dari kelemahan .
(4)   Akankah Anda mengatasinya sebelum melaksanakan rencana pengelolaan Anda yang baru?
(5)   mengharuskan Anda memilih kegiatan pengelolaan tertentu?
Yang diidentifikasi dari ancaman
(6)   mengharuskan Anda mengambil strategi untuk mengatasi dampak dari ancaman tersebut?



SUMBER:
PUSLATKP, 2014. MODUL A.033101.005.01 Menyusun Strategi Pengelolaan pada Pelatihan Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan,  Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Didownload dari http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/dokumen/modul-pelatihan.

Jumat, 27 Februari 2015

PENGERINGAN IKAN



Pengeringan merupakan cara pengawetan ikan dengan mengurangi kadar air pada tubuh ikan sebanyak mungkin. Tubuh ikan mengandung 56-80% air, jika kandungan air ini dikurangi, maka metabolisme bakteri terganggu dan akhirnya mati. Pada kadar air 40% bakteri sudah tidak dapat aktif, bahkan sebagian mati, namun sporanya masih tetap hidup. Spora ini akan tumbuh dan aktif kembali jika kadar air meningkat. Oleh karena itu, ikan hampir selalu digarami sebelum dilakukan pengeringan.
Kecepatan pengeringan ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a.     Kecepatan udara, makin cepat udara di atas ikan, makin cepat ikan menjadi kering.
b.    Suhu udara, makin tinggi suhu, makin cepat ikan menjadi kering
c.     Kelembaban udara, makin lembab udara, makin lambat ikan
menjadi kering
d.    Ukuran dan tebal ikan, makin tebal ikan, makin lambat kering.
e.    Makin luas permukaan ikan, makin cepat ikan menjadi kering.
f.      Arah aliran udara terhadap ikan, makin kecil sudutnya, makin
cepat ikan menjadi kering.
g.     Sifat ikan, ikan berlemak lebih sulit dikeringkan
Cara pengeringan terbagi dua golongan yaitu pengeringan alami dan buatan. Pada pengeringan alami, ikan dijemur di atas rak-rak yang dipasang agak miring (+15°) ke arah datangnya angin, dan diletakkan di bawah sinar matahari tempat angin bebas bertiup. Lamanya penjemuran 8 jam/hari selama 3 hari di daerah dengan intensitas sinar matahari tinggi. Pekerjaan penjemuran harus disertai pembalikkan 2-3 kali setiap hari. Untuk mengukur tingkat kekeringan ikan, dengan cara menekan tubuh ikan menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan. Pada ikan kering tekanan jari tidak akan menimbulkan bekas. Cara lain dengan melipat tubuh ikan. Ikan kering tidak akan patah jika tubuhnya dilipatkan.
Pengeringan buatan dilakukan secara mekanis. Keuntungan pengeringan secara mekanis antara lain suhu, kelembaban dan kecepatan angin dapat diatur. Selain itu sanitasi dan hihiene lebih mudah dikendalikan. Namun cara ini belum memasyarakat sebab biaya alat mekanis relatif lebih mahal jika dibandingkan pengeringan alami. Alat pengering mekanis antara lain: oven, alat pengering berbentuk kotak (cabinet-type dryer), alat pengering berbentuk lorong (tunnel dryer), alat pengering bersuhu rendah (cold dryer), alat pengering dengan sinar infra merah, alat pengering beku hampa (vacuum freeze drying).


Gambar 1. Alat pengering surya bentuk kotak


Gambar 2. Alat pengering surya bentuk rumah

Gambar 3. Alat pengering lorong (tunnel dryer)

Gambar 4. Alat pengering bersuhu rendah

Gambar 5. Alat pengering beku-hampa

SUMBER:
Masyamsir, 2001.  Modul Penanganan Hasil Perikanan. Departemen Pendidikan Nasional, Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan SMK, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Jakarta.

REFERENSI:
Afrianto, E. dan Evi Liviawati. 1991. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 123 hal.
Burgess, G.H.O., C.L. Cutting, J.A. Lovern dan J.J. Waterman. 1965. Fish Handling and Processing. Her majesty’s Stationary Office. Edinburg. 390 hal.
Djariah AS. 1995. Ikan Asin. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 56 hal.
Murniyati AS dan Sunarman. 2000. Pendinginan, Pembekuan dan Pengawetan Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 220 hal.
Nitibaskara, R. 1981. Laporan Studi Pengembangan Industri Kecil Pengolahan Ikan. Laporan Fakultas Perikanan IPB. Bogor. 98 hal.
Purwaningsih S. 2000. Teknologi Pembekuan Udang. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. 73 hal.
Rahardi F, Regina Kristiawati dan Nazaruddin. 2001. Agribisnis Perikanan. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. 63 hal.
Soekarto, S.T. 1990. Dasar-dasar Pengawasan dan Standarisasi Mutu Pangan. Penerbit IPB Press.  Bogor. 357 hal.
Zaitsev, V., I. Kizevetter, L. Lagunov, T. Makarova, L. Munder dan V. Podsevalow. 1969 Fish Curing and Processing. Terjemahan A. De Marindol. M.R. Publisher, Moskow.