Loading...

Kamis, 15 Mei 2014

Keripik Ikan Nila Balita (Baby Fish Chips)

Ikan balita merupakan anak-anak ikan nila yang berukuran kecil (kira-kira sebesar kelingking) yang digoreng kering sehingga bisa dimakan beserta tulang-tulangnya. Salah satunya adalah keripik ikan (Baby Fish Chips) merupakan suatu produk yang dapat digunakan sebagai usaha baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi.Pembuatan keripik ikan dapat digunakan sebagai suatu peluang wirausaha yang sangat menguntungkan. Selain sebagai lauk, ikan balita juga bisa dijadikan buah tangan.Hal ini disebabkan belum adanya keseriusan dalam mengolah sumberdaya ikan yang ada.Oleh sebab itu, diperlukan adanya suatu pengolahan yang baik sehingga mendapatkan suatu produk yang berkualitas memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Untuk meningkatkan konsumsi ikan, perlu upaya diversifikasi pengolahan ikan terutama pada produk-produk yang biasa dikonsumsi masyarakat sehingga peluang keterjangkauan dan penerimaan produk lebih besar.Salah satu produk olahan yang biasa dikonsumsi masyarakat yaitu keripik ikan.Keripik ikan ( Baby Fish Chips) adalah salah satu bentuk olahan pangan dari ikan yang dibalut oleh tepung krispi yang banyak dikonsumsi dan digemari oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan keripik ikan dapat disajikan secara cepat, mudah, renyah dan bercita-rasa tinggi, juga dapat disajikan sebagai makanan camilan dalam kehidupan sehari-hari.Keripik ikan merupakan salah satu produk makanan yang sangat digemari oleh masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penjualan produk ditujukan kepada seluruh kalangan masyarakat secara umum dan masyarakat golongan menengah keatas secara khusus yang selalu menginginkan suatu produk makanan bercita rasa lezat, renyah dan sehat yang dapat mencukupi kebutuhan akan kalsium tulang mereka.

a. Alat:
§  - Penggorengan
§  - Kompor
§  - dll

b. Bahan :
§   250 gram ikan balita (ikan nila ukuran kecil), cuci bersih
§   3 siung bawang putih, haluskan
§   Garam, merica bubuk secukupnya

c. Proses pembuatan Keripik Ikan Mas Balita (Baby Fish Chips)
Tahapan proses pengolahan:
1. Pilih bahan baku yang segar dan berkualitas
2. Ikan dicuci sampai bersih, hilangkan kotoran dalam perut
3. Beri perasan jeruk untuk mengurangi bau amis pada ikan
4. Haluskan berbagai bumbu yang telah disiapkan
5. Campurkan kedalam baskom yang telah berisi tepung beras, tepung terigu dan telur
6. Tambahkan larutan santan
7. Aduk sampai tidak menggumpal, tambahkan air jika terlalu menggumpal
8. Masukkan ikan kedalam campuran adonan tepung
9. Panaskan minyak kemudian goreng ikan hingga matang dan krispi
10. Kemas dalam wadah plastik.

SUMBER:
Permadi A. dan Dharmayanti N., 2011. Modul Pengolahan Ikan Nila. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan: Kelompok Modul Pengolahan Ikan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Pengolahan Kerupuk Kemplang Ikan Lele

Kerupuk adalah suatu makanan kecil yang bersifat kering, ringan dan porous yang terbuat dari bahan-bahan yang mengandung pati cukup tinggi yang merupakan makanan khas Indonesia dan banyak digemari oleh masyarakat luas.
Biasanya kerupuk dikonsumsi sebagai makanan selingan atau sebagai variasi dalam lauk-pauk. Kerupuk adalah sejenis makanan kecil yang mengalami pengembangan volume membentuk produk yang porous dan memiliki densitas rendah selama penggorengan sehingga memiliki kerenyahan (Siaw. et al, 1985).
Kerupuk dapat berfungsi sebagai media simpan, media distribusi dan media saji pangan dan sekaligus merupakan produk budaya pangan masyarakat Indonesia. Bila dipandang sebagai media simpan potensinya sangatlah besar karena produk kerupuk adalah produk yang memiliki daya awet yang tinggi. Kerupuk sebagai media simpan ikan, hal ini dapat dilihat dari 30% hasil tangkapan ikan segar di Jawa adalah ikan dengan produk ikan asin, surimi, dan kerupuk (Rohimah, 1997).
Dalam proses pembuatan kerupuk ikan memiliki tahapan-tahapan berupa persiapan bahan baku, pencucian, penyiangan, pengambilan daging, pencucian II, pelumatan daging, pencampuran dengan bahan dasar, pembentukan, pengukusan, pendinginan, pengeringan, dan pengemasan (SNI 2713.1.2009).
Proses produksi kerupuk lele tidaklah sulit untuk dikerjakan. Membutuhkan waktu kurang lebih dua hari untuk menghasilkan kerupuk mentah kering yang berkualitas. Lamanya waktu produksi juga ditentukan dengan proses pengeringan apakah dengan menggunakan tenaga matahari yaitu dengan dijemur atau dengan mesin pengering.
Salah satu keunggulan dari kerupuk ikan lele ini adalah mengandung kalsium yang lebih tinggi dibanding kerupuk ikan lainnya karena semua bagian dari lele digunakan sebagai bahan termasuk duri dan kepala. Kandungan kalsium yang tinggi ini sangat cocok dikonsumsi ibu hamil, balita, hingga lansia karena kandungan kalsium di dalamnya bisa mengurangi resiko terkena osteoporosis.
Kerenyahan kerupuk dapat dipengaruhi oleh volume pengembangan kerupuk, sedangkan volume pengembangan kerupuk dapat dipengaruhi oleh kadar amilopektin dan kandungan protein yang terkandung pada bahan. Kerupuk dengan kandungan amilopektin yang lebih tinggi akan memiliki pengembangan yang lebih tinggi, karena pada saat proses pemanasan akan terjadi proses gelatinasi dan akan terbentuk struktur yang elastis, kemudian dapat mengembang pada tahap penggorengan sehingga kerupuk dengan volume pengembangan yang tinggi akan memiliki tingkat kerenyahan yang tinggi (Zulfiani, 1992).

1. Alat
Alat alat yang diperlukan dalam mengolah kerupuk antara lain :blender, gilingan manual, wajan, kompor, timbangan, sodet, serokan, wadah palstik, pisau, talenan, baskom plastik, pisau, talenan, cetakan, dan sendok.

2 Bahan
Bahan yang diperlukan dalam mengolah kerupuk antara lain Ikan lele, tepung tapioka, telur, bawang putih, garam, dan minyak goreng.
3. Cara Pengolahan
Persiapan bahan baku untuk membuat kerupuk ikan lele ialah pembuatan lumatan daging. Langkah-langkah dalam pembuatan daging lumat awalnya dengan menyiangi ikan lele segar dengan membuang isi perut dan kepala hingga bersih dan dicuci dengan air bersih. Pengambilan daging ikan ialah dengan memfillet dan mengambil sisa daging yang tertinggal di antara duri ikan dengan cara mengerok menggunakan sendok.
Setelah daging terkumpul, daging dimasukkan ke dalam mesin pelumat daging. Hasil lumatan dipastikan harus benar-benar lembut, karena dapat mempengaruhi produk kerupuk yang dihasilkan. Apabila daging lumatan kurang lembut maka di masukkan kembali ke mesin pelumat agar lumatan daging yang dihasilkan benar-benar lembut. Setelah selesai proses pelumatan, daging ikan dimasukkan ke dalam wadah baskom bersih.

a. Pencampuran Bahan
Proses pencampuran dilakukan dengan cara mengaduk lumatan ikan dengan bumbu-bumbu yang sudah disiapkan. Setelah tercampur merata kemudian ditambahkan telur sesuai dengan berat adonan yang dibutuhkan, kemudian diaduk hingga merata. Proses pengadukan ini berperan sangat penting sekali. Apabila bahan yang dicampurkan tidak diaduk sampai bumbu merata akan mempengaruhi rasa produk kerupuk yang dihasilkan.
Proses pengadukan lumatan ikan dengan bumbu dilakukan dengan tujuan membuat rasa produk kerupuk ikan yang dihasilkan merata dan menjadikan produk dapat mengembang. Produk kerupuk dapat mengembang secara baik dipengaruhi oleh komposisi bahan yang digunakan.

b. Pembuatan Adonan
Proses pembuatan adonan dilakukan dengan mencampurkan antara lumatan ikan yang sudah halus dengan bumbu dan bahan-bahan lain. Adonan dibuat secara manual dengan menggunakan tangan hingga benar-benar merata dan pulen. Apabila komposisi dari bahan pembuat kerupuk ikan ini tidak benar maka akan terlihat sekali dari hasil adonan yang dibuat. Apabila terlalu banyak tepung akan mengakibatkan adonan keras dan mudah sekali patah, sedangkan bila terlalu banyak lumatan ikan akan terlalu lunak dan terasa basah. Oleh karena itu sangat diperlukan penambahan tepung dengan komposisi yang tepat.

c. Penggilasan
Proses penggilasan ialah proses pembentukan atau pencetakan kerupuk yang dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan tangan. Adonan kerupuk dibentuk menjadi silinder memanjang dengan diameter silinder adonan kurang lebih 1 cm.

d. Pemotongan
Adonan yang telah terbentuk setelah proses penggilasan, maka dilakukan proses pemotongan. Pemotongan adonan dilakukan dengan menggunakan lempeng besi. Panjang potongan adonan adalah 1 cm.
e. Perapihan Bentuk
Proses perapihan bentuk atau yang disebut dengan pengirigan ini dilakukan dengan cara menggoyang-goyangkan adonan yang telah dipotong di atas nampan secara berulang-ulang hingga terpisah antara potongan yang satu dengan potongan yang lain.
Proses pengirigan ini dilakukan dengan tujuan untuk menghaluskan permukaan adonan kerupuk yang sudah dipotong sehingga memiliki bentuk dan permukaan yang bagus dan menarik. Selain itu pengirigan juga bertujuan untuk memisahkan antara potongan yang satu dengan yang lain karena pada proses pembentukan dan pemotongan banyak yang menempel antara potongan adonan tersebut.

f. Penggorengan
Minyak yang digunakan untuk menggoreng adalah minyak sawit. Proses penggorengan dilakukan dengan suhu berkisar antara 130°C - 145°C selama kurang lebih 45 menit. Suhu selalu dijaga selama proses penggorengan, apabila terlalu panas akan mengakibatkan warna produk kerupuk yang dihasilkan kurang menarik. Kerupuk yang telah matang ditandai dengan warna kerupuk yang kuning keemasan dan tekstur mengeras tanpa kembali mengempes.
Proses penggorengan kerupuk akan terjadi tiga fase pengembangan yaitu fase plastisasi, fase mengembang dan fase tetap. Pada fase plastisasi kerupuk bersifat lentur dan belum mengembang, pada fase mengembang kerupuk mengalami perubahan bentuk dan mengembang tetapi belum tetap, kemudian fase terakhir yaitu fase tetap adalah fase dimana kerupuk tidak lagi mengalami pengembangan dan tidak kempes kembali (Zulviani, 1992).

g. Penirisan
Kerupuk yang sudah matang diangkat dengan menggunakan serok dan kemudian ditiriskan. Kerupuk yang ditiriskan ini diletakkan dalam wadah kotak penirisan selama kurang lebih tiga sampai dengan lima menit hingga kerupuk tidak terlalu panas dan tidak terbasahi oleh minyak.
Tujuan dari proses penirisan ini ialah untuk menurunkan suhu kerupuk sehingga tidak rusak teksturnya ketika dilakukan proses pengemasan. Selain itu juga bertujuan untuk meniriskan kerupuk agar tidak basah dari minyak goreng pada proses penggorengan. Kerupuk akan mudah mengalami ketengikan ketika masih banyak terkandung minyak dalam kemasan.
Proses penirisan ini sangatlah penting, karena dapat mempengaruhi aroma kerupuk yang dihasilkan ketika dalam kemasan. Kandungan lemak yang terdapat dalam minyak goreng menimbulkan ketengikan apabila mengalami proses penaikan suhu dengan mengikutsertakan oksigen yang dinamakan sebagai oksidasi (Widowati, 1987).

h. Pengemasan
Pengemasan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah pada proses pendistribusian pada penjualan, dan mempertahankan kerenyahan kerupuk sampai ke konsumen. Kualitas kemasan produk kerupuk ini sangatlah berperan penting karena kerupuk akan kehilangan kerenyahan apabila pengemasannya tidak sesuai dengan standar kemasan untuk produk kerupuk.
Pengemasan bahan pangan harus memperhatikan lima fungsi yaitu harus dapat mempertahankan produk agar tetap bersih dan memberikan perlindungan terhadap kotoran dan pencemaran lain, harus memberikan perlindungan terhadap bahan pangan dari kerusakan fisik, air, oksigen dan sinar, harus berfungsi secara benar, efisien dan ekonomis dalam proses pengepakan yaitu selama pemasukan bahan pangan ke dalam kemasan (Buckle, 1985).

SUMBER:
Siregar R.R., 2011. Modul Pengolahan Ikan Lele. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan: Kelompok Modul Pengolahan Ikan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Kamis, 17 April 2014

PEMBUATAN MEDIA PENYULUHAN PERIKANAN


A.       Persiapan Pembuatan Media Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
Beberapa pemikiran berkaitan dengan pembuatan media penyuluhan perikanan.
1.  Pemanfaatan benda sesungguhnya yang bersumber dari perikanan di pedesaan sebagai media penyuluhan perikanan.
2.  Penampilan lembaga-lembaga yang terkait dengan kegiatan penyuluhan perikanan misalnya Balai Benih ikan dan lain-lain, apabila penataan lingkungannya baik maka sekaligus dapat berfungsi sebagai percontohan/sebagai media penyuluhan perikanan.
3.  Bahwa  tidak semua media penyuluhan perikanan dapat dibuat sendiri oleh penyuluh, namun pembuatan media penyuluhan perikanan yang sederhana dan praktis untuk digunakan adalah perlu. Untuk itu Penyuluh Perikanan harus kreatif, mempunyai kemampuan dan keterampilan membuat media penyuluhan perikanan tersebut.

Beberapa petunjuk umum dalam persiapan pembuatan media penyuluhan Perikanan.
1.  Memenuhi persyaratan media penyuluhan antara lain :
a.    Adanya pesan yang jelas, menarik perhatian
b.    Mudah dimengerti, mendorong untuk menerapkannya.
2.  Keterampilan merancang antara lain:
a.      membuat gambar,
b.      sketsa,
c.       grafik,
d.      bagan, dan sebagainya.
3.  Keterampilam menata gambar dengan memperhatikan.
a.    Kesederhanaan , tonjolkan gambar/hal yang penting   saja.
b.    Keseimbangan antara gambar dan kata-kata.
c.    Keserasian/harmonis.
d.    Menonjolkan pusat perhatian
e.    Irama atau aliran gerak yang serasi.
f.     Keterampilan menyusun naskah dan membuat skenario.
g.    Naskah ilmiah semimpopuler, ilmiah populer dan tulisan populer.
h.    Skenario pembuatan slide, rekaman dan lain-lain. Sebaiknya menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.
i.      Menyediakan alat dan bahan yang diperlukan antara lain
1)      Alat gambar
2)      Alat pembuat huruf, alat dan bahan khusus menurut jenis media penyuluhan yang akan dibuat.

B.        Media Cetak
1.    Brosur
Brosur merupakan bentuk media penyuluhan tercetak dalam bentuk lembaran yang tersusun seperti bentuk buku. Jumlah halaman pada brosur sedikitnya 8 (delapan) halaman dan sebanyak-banyaknya  40 (empat puluh) halaman. Brosur berisi penyajian salah satu topik,  materi pokok disajikan secara sederhana akan tetapi lebih mendalam dari pada leaflet atau folder. Isi brosur dapat disertai dengan gambar, garafik, diagram dan foto untuk memperjelas arti yang tertulis dalam brosur.
Untuk menjadi media penyuluhan perikanan tercetak yang efektif, brosur hendaknya memenuhi syarat-syarat berikut ini :
a.    Berisi uraian yang berguna bagi sasaran didik.
Maksud membuat brosur agar dibaca sasaran didik, sebab didalam brosur tersurat pesan kepada sasaran. Agar sasaran didik mau membaca, maka isi brosur harus sesuatu yang berguna bagi sasaran didik.
b.    Tidak berseri.
Walaupun sebuah brosur dapat disusun dengan brosur berikutnya (berseri), tetapi yang disajikan tiap brosur harus merupakan sesuatu uraian yang tidak berseri (tamat).
c.    Jelas.
Sebuah brosur harus disusun sejelas-jelasnya, baik kalimat atau kata-katanya.
d.    Singkat dan padat.
Brosur yang terlalu panjang, bertele-tele tidak menarik bagi sasaran penyuluhan. Karena sasaran penyuluhan memerlukan brosur yang singkat dan padat.
e.    Ditulis secara populer, yaitu :
1)  Menggunakan kalimat/kata-kata/istilah-istilah yang mudah dimengerti
2)  Menggunakan kalimat-kalimat yang singkat tetapi jelas
3)  Menuliskan tentang perihal yang menarik dan disajikan sesuai sasaran yang dituju
4)  menghindari penggunaan istila-istilah ilimiah yang sukar dipahami.
f.     Tulisan dilengkapi gambar-gambar dan atau foto untuk mengurangi salah tafsir atau salah paham.
g.    Tulisan berisi fakta-fakta dan bahan-bahan terkini.
h.    Mempunyai daya tarik, misalnya dengan penggunaan warna.
Tahapan-tahapan penulisan dalam membuat brosur, antara lain:
a.    Menentukan kerangka isi.
Kerangka isi adalah rencana penulisannya kelak agar sisitematis. Dapat hanya berupa pokok-pokoknya saja atau dapat juga berupa rencana daftar isi. pada kerangka ini harus sudah tersusun urutannya, sesuai dengan urutan kegiatan yang sebenarnya, misalnya: tahapan pemijahan ikan yang dimulai dari seleksi induk dan diakhiri dengan penanganan telor.
b.    Pengumpulan bahan.
Seringkali kita harus mengumpulkan berbagai tulisan, baik berupa laporan buku, ataupun majalah untuk menyusun suatu brosur. Sebab satu brosur isinya harus sesuatu yang sudah benar atau pasti. Misalnya, brosur tentang budidaya ikan lele, maka hal-hal yang dikemukakan dalam brosur itu harus yang sudah benar dan bukan masih dalam percobaan atau penelitian.
c.    Mengisi kerangka.
Walaupun dirasa bahan-bahannya belum cukup, penulisan naskah harus tetap dimulai, mengisi kerangka yang telah kita siapkan.
d.    Memeriksa dan menulisnya kembali
Brosur yang telah ditulis, diperiksa kembali sampai dengan dimengerti. Apabila masih membingungkan, dapat segera diperbaiki. Pada tahap ini sudah mulai direncanakan gambar-gambar atau dibuat sketsanya.
e.    Konsultasi.
Konsultasi diperlukan apabila ada hal-hal yang masih meragukan.
f.     Judul dan halaman muka.
Judul brosur harus menarik, singkat, sederhana, lengkap dan mencerminkan isi. Sedangkan halaman muka (cover) jangan terlalu penuh, bila halaman muka ada gambar maka huruf-huruf judul tidak menutup gambar, gambar mencerminkan isi dan perhatikan rasa keindahan.
Pada pembuatan brosur, standar teknis yang perlu diperhatikan, antara lain:
a.    Bahan
1)  Kertas yang digunakan dapat disesuaikan dengan ketersediaan dan kebutuhan.
2)  Lembar cover sebaiknya lebih tebal dari kertas isi.

b.    Bentuk Dan Ukuran
1)  Berupa buku yang dijilid dengan jumlah halaman 8 – 40 halaman
2)  Ukuran yang biasa dibuat 13.5 x 18 cm ukuran plano (60 x 90 m)
c.    Sistematika dalam penyusunan brosur, meliputi:
1)   Halaman pertama : judul, penerbit
2)   Halaman kedua : daftar isi
3)   Halaman ketiga dan seterusnya : uraian isi
4)   Halaman terakhir : daftar pustaka atau sumber informasi
d.    Materi pada brosur antar lain dapat berupa:
Materi bersifat teknologi produksi, ekonomi, sosial, dan kebijakan yang berkaitan dengan perikanan dalam bentuk uraian yang tuntas, yang dilengkapi gambar, foto, data atau diagram dengan mencantumkan sumbernya.
e.    Huruf dan kalimat dalam pembuatan brosur sebagai berikut:
1)  Ukuran huruf maksimal 12 point menggunakan huruf yang sederhana
2)  Dalam satu kalimat tidak boleh lebih dari 13 kata
f.     Identitas
Pada kulit muka ditulis judul, nama penerbit, dan tahun penerbitannya

2.    Peta Singkap (Flip Chart)
Peta singkap adalah lembaran-lembaran kertas berisi gambar dan tulisan yang disusun secara berurutan, bagian atasnya disatukan sehingga mudah disingkap.
a.    Tujuan
Menjelaskan suatu proses atau rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan perikanan secara sistematis.
b.    Sasaran
Sekelompok pelaku utama kelautan dan perikanan dengan jumlah tidak lebih dari 30 (tiga puluh) orang.
c.    Keunggulan
1)  Dapat menjelaskan kepada hadirin, tanpa membelakangi
2)  Bisa membangun cerita melalui gambar
3)  Bisa menampilkan proses/kegiatan secara terpisah-pisah
4)  Mudah digunakan tanpa bantuan peralatan lain
d.    Kelemahan
1)      Efektivitas penyajian tergantung dari kemampuan penyaji berimprovisasi
2)      Penjelasan-penjelasan yang ada di belakang gambar
3)      Biaya relatif mahal dibanding media penyuluhan cetak lainnya seperti folder dan leaflet
4)      Tidak dapat digunakan untuk belajar mandiri

e.    Standar Teknis
                       1)    Bahan
Kertas disesuaikan dengan ketersediaan dan kebutuhan.
                       2)    Ukuran
Ukuran kertas minimal A3 (29.7 x 42 cm) atau double folio. Semakin besar ukuran kertas maka semakin baik.
                       3)    Isi Pesan
Tiap lembar peta singkap berisi satu ide
f.     Penggunaan
1)      Digunakan pada waktu penyelenggaraan kursus dan pertemuan lainnya baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan
2)      Menggunakan standar yang dirancang khusus untuk berdirinya peta singkap
3)      Penyaji berada di belakang gambar untuk membaca keterangan gambar

g.    Prosedur Pembuatan Peta Singkap
1)      Mulailah dengan satu gagasan yang dapat berupa satu tahapan dari proses satu sajian gambar dari objek tertentu.
2)      Perhatikan hal-hal yang menonjol dari gagasan anda, pisahkan menjadi bagian-bagian dimana satu bagian memuat satu ide/gagasan.
3)      Siapkan kertas atau kartu untuk menyusun bagian dari peta singkap
4)      Gambarkan setiap bagian-bagian tadi dengan memberi jenis huruf, ukuran gambar dan warna yang akan digunakan
5)      Perbesar gambar sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan. Susunlah menurut urutan-urutan dari materi yang akan disajikan.


3.  Kartu Kilat (Flier Cards)
Kartu kilat adalah kartu-kartu yang disusun secara berurutan, masing-masing berisikan gambar. Dalam penggunaannya kartu tersebut diperlihatkan satu persatu. Kartu kilat digunakan dalam penyelenggaraan kursus, latihan dan pada penyelenggaraan Temu Lapang. Kartu kilat dibuat dari kertas tebal sebagai tempat menempelkan gambar/ilustrasi, ilustrasi dan tulisan sebaiknya menggunakan spidol atau cat air.
a.    Tujuan:
1)   Memusatkan perhatian sasasan pada topik pembicaraan
2)   Membuat penyaji/penyuluh bisa mengontrol penyampaian materi yang diberikan.
b.    Isi:
1)   Setiap seri kartu kilat berisi satu materi secara tuntas
2)   Setiap kartu kilat berisi gambar dan keterangan dan tidak diberi nomor untuk memudahkan penukaran bila urutan berubah.
3)   Halaman muka berisi foto dan halaman belakang berisi keterangan gambar, tahun pembuatan dan penerbit.
c.    Prosedur pembuatan Kartu Kilat
1)   Tentukan satu topik  dengan satu gagasan .
2)   Siapkan kertas untuk merancang gambar atau tulisan yang akan ditempel pada karton yang telah disiapkan ,
3)   Urutkanlah gambar-gambar dengan susunan yang telah diberi nomor urut untuk memudahkan dalam pemakaian atau penggunaan

4.  Poster
Poster adalah lembaran kertas yang berisikan pesan penyuluhan perikanan dalam bentuk gambar dan tulisan.
a.    Tujuan
Untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan, agar tumbuh perhatian dan minat pada sasaran.
b.    Sasaran
Pelaku utama perikanan dan keluarganya, serta masyarakat umum.

c.    Keunggulan
1)      Visualnya mampu menyampaikan pesan secara cepat dan langsung
2)      Mampu menjangkau sasaran lebih banyak
3)      Dapat ditempel di tempat yang strategi di mana saja
4)      Mudah dan cepat dimengerti, termasuk oleh mereka yang buta huruf
d.    Kelemahan
1)      Untuk memperolah informasi yang lebih mendalam, memerlukan media penyuluhan lain
2)      Tidak dapat menjamin tumbuhnya satu pengertian yang sama di antara sasaran
3)      Mudah rusak, robek dan hilang
e.    Standar Teknis
1)      Bahan
a)      Kertas dengan ketebalan lebih dari 100 gram dan tidak mudah robek
b)      Untuk keperluan terbatas, poster dapat juga dibuat pada karton, papan, kain atau bahan lainnya
2)      Ukuran
Minimal double folio (29.7 x 42 cm) sampai ukuran plano               (70 x 90 cm).
3)      Huruf
a)    Jangan menggunakan huruf hias, jenis huruf dalam satu kalimat harus sama
b)    Penekanan pesan dapat dilakukan dengan penebalan dan pembesaran huruf 
4)      Materi
a)    Berisi satu pesan
b)    Berupa pemberitahuan, ajakan, peringatan
5)      Isi Pesan
a)    Gambar lebih besar dari tulisan
b)    Gambar terlihat jelas dari jarak 5 (lima) meter
c)    Menggunakan susunan kata yang menarik dan sederhana agar mudah dimengerti
d)    Pesan utama tidak lebih dari 7 (tujuh) kata
6)      Identitas, Terdiri Dari :
a)      Produksi, tahun produksi
b)      Logo (bila ada)
7)      Penggunaan
Ditempelkan pada tempat strategis yang mudah dilihat dan dilalui   sasaran
8)      Prosedur Pembuatan Poster
a)      Tetapkan judul sesuai dengan tujuan yang akan dicapai
b)      Kumpulkan bahan materi
c)      Buat konsep
d)      Tentukan bahan poster dan ukuran poster
e)      Buat Layout sesuai konsep
f)       Gambarlah draf poster sesuai dengan rencana layout/tata ruang/penataan dengan memeperhatikan keseimbangan  bentuk /pola yang akan digunakan,

5.  Folder/Leaflet
Folder adalah lembaran kertas yang dilipat dua atau tiga lipatan yang berisi pesan penyuluhan dalam bentuk tulisan gambar (foto atau ilustrasi),
Sedangkan Leaflet adalah lembaran kertas lepas tidak dilipat yang berisi pesan penyuluhan perikanan dalam bentuk tulisan dan gambar (foto ilustrasi).
1)  Tujuan
Folder dan leaflet mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk menyampaikan informasi atau penjelasan ringkas yang berkaitan dengan kegiatan kelautan dan perikanan.
2)  Sasaran
                       1)    Pelaku utama perikanan dan keluarganya, baik perorangan maupun kelompok
                       2)    Penyuluh dan petugas perikanan
3)  Keunggulan
                       1)    Bisa dibaca berulang kali
                       2)    Ringkas dan mudah dimengerti
                       3)    Bisa digunakan untuk belajar mandiri
                       4)    Mudah dibawa kemana-mana
                       5)    Biaya relatif murah
4)    Kelemahan
                       1)    Informasi yang disampaikan kurang mendalam
                       2)    Sasaran terbatas pada orang-orang yang bisa membaca
                       3)    Untuk memperdalam materi perlu bantuan media penyuluhan lain
5)    Standar Teknis
                       1)    Bahan
Kertas dengan ketebalan minimal 80 gram
                       2)    Ukuran
·         Folder: Kertas folio dilipat 3 dengan lebar lipatan 11 cm dan kertas kuarto/A4 dilipat 2 dengan lebar 14 cm
·         Leaflet: dengan ukuran kertas folio atau kuarto/A4
6)    Materi
Teknologi produksi ekonomi, sosial, dan kebijakan yang berkaitan dengan perikanan.
7)    Isi
a)      Ringkas, berisi garis besar topik yang dibicarakan
b)      Kalimat pendek dan bersifat instruksional
c)      Bahasa mudah dimengerti
d)      Hindari gambar-gambar/istilah-istilah/simbol-simbol yang terlalu rinci dan rumit yang sukar dimengerti
e)      Huruf minimal berukuran 10 point
f)       Jarak spasi antar baris dapat lebih dari satu
8)    Penggunaan
                    1)    Diberikan secara langsung kepada pelaku utama pada pertemuan atau acara tertentu
                    2)    Diberikan kepada penyuluh sebagai bahan pendamping kelompok kelautan dan perikanan
9)    Prosedur Pembuatan Leaflet/Folder :
a)      Tentukan Judul/topik
b)      Buat kerangka/bagan berdasarkan materi yang dipilih
c)      Buat  konsep dasar
d)      Buat Layout sesuai usuran yang ditentukan
e)      Periksa kembali konsep dan lakukan revisi jika perlu
f)       Uji coba untuk mengetahui sejauhmana dapat memberikan informasi

6.  Foto
Foto merupakan salah satu media yang dapat memvisualisasikan lebih konkrit, lebih realistic dan lebih akurat. Secara khusus foto berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang tidak mudah dilupakan.
a.    Keunggulan Foto
Foto memiliki beberapa keunggulan diantaranya ;
1)      Dapat memperjelas suatu pesan sehingga menghilangkan kesalahfahaman.
2)      Dapat membatasi ruang dan waktu
3)      Informasi konkrit dan realistis disbanding dengan media verbal
b.    Bentuk
Foto sebagai media pembelajaran dibagi menjadi 2 bentuk ;
1)      Foto  Album
Foto Album merupakan suatu rangkaian/cerita foto-foto yang isinya berurutan sehingga menggambarkan suatu kejadian atau kegiatan misalnya; Album kegiatan Temu Wicara, atau serial foto teknik benbenihan lele dengan hipopisa., dll.
2)      Foto dokumen lepasan
Foto-foto dalam bentuk dokumen lepasan merupakan foto-foto yang berdiri sendiri dan tidak disimpan dalam bentuk album. Namun dapat menggambarkan suatu pokok informasi atau pesan. Yang menjadi titik perhatian.  Foto-foto ini biasanya digunakan untuk bahan pameran, bahan display/foto besar, bahan mengisi majalah, bahan pelengkap dalam bukuatau brosur.dan sebagainya.

c.    Persyaratan Foto:
Foto yang mengandung titik pokok informasi atau pesan dada beberapa syarat yang perlu dipenuhi diantanya ;
                    1)    Ada pesan yang hendak disampaikan.
Apabila foto berisi sekumpulan orang –orang yang yang tampil sambil melihat kamera maka foto itu untuk diri sendiri dan kurang berate bagi orang lain. Namun apabila foto sekumpulan orang atau pelaku utama sedang berdiskusi berarti memperlihatkan adanya pesan yang hendak disampaikan.
                    2)    Tampilan gambar kegiatan, kejadian yang sederhana
Tonjolkan hal-hal yang perlu saja misalnya foto alat penggiling/pembuat pakan ikan terlihat jelas bentuk dan perbandingan ukurannya, jangan memperlihatkan alat berlatar belakang keindahan pemandangan disekelilingnya,itu akan membiaskan perhatian.
3)      Dekati atau focus pada objek yang akan difoto
Memotret harus focus pada objek yang akan diinformasikan, jangan terlalu banyak objek yang dimasukan hal ini akan mengaburkan/membias pesan yang disampaikan.
4)      Kualitas Foto
Kualitas foto yag baik  ditentukan antara lain oleh;
a)      Ketajaman Gambar, sehingga apa yang akan ditonjolkan jelas, gunakanlah pengatur jarak yang tepat.
b)      Gambar terang, gunakan diapragma dan kecepatan yang sesuai/shuatter speed.
c)      Atur tata ruang sebaikbaiknya.letakan objek pada titik yang menjadi perhatian.
d)      Komposisi
Supaya foto bagus dan menari, harus memperhatikan komposisi, yang dimaksud komposisi adalah penempatan dan penyusunan bagian-bagian sebuah gambar untuk membentuk kesesuaian dan sebuah bidang tertentu, sehingga enak dan indah dipandang.
Keterangan; untukmendalami teknik fotografi memerlukan latihan materi khusus dengan modul pengembangan teknik Fotografi.

C.        Media penyuluhan Tertayang
1.  Bahan Tayang (Lembar Transparan dan/atau Presentasi)
Lembar transparan adalah lembaran plastik transparan (tembus pandang) yang berisi pesan/informasi (teks, ilustrasi, gambar) yang disorotkan (diproyeksikan) dengan menggunakan overhead projector (OHP), sedangkan presentasi adalah pesan/informasi yang disusun dalam format power point.
a.    Tujuan
                       1)    Untuk memberi urutan yang jelas dan lengkap terhadap isi pesan penyuluhan yang disampaikan secara lisan
                       2)    Untuk memusatkan perhatian hadirin pada topik pembicaraan tertentu
b.      Sasaran
Kelompok sedang (10 - 40 orang) baik pelaku utama, penyuluh atau anggota masyarakat. 
c.       Keunggulan
                       1)    Dapat bertatap muka dengan hadirin selama proses penyampaian pesan
                       2)    Dapat menggantikan papan tulis dan memiliki kelengkapan yang akan memberikan efek visual yang baik
                       3)    Dapat memproyeksikan dan membesarkan pesan/gambar dengan jelas
                       4)    Dapat menyampaikan pesan secara lengkap

d.      Kelemahan
                       1)    Keefektifan bahan tayang sangat tergantung pada penyaji (keterampilan penyaji dan penjelasan lisan)
                       2)    Bahan tayang tidak dapat digunakan untuk belajar secara mandiri karena di desain untuk berdampingan dengan presentasi lisan
                       3)    Bahan tayang hanya bisa digunakan dalam ruangan dan membutuhkan listrik untuk dapat disajikan
                       4)    Diperlukan penataan layar dengan sudut kemiringan tertentu untuk mendapatkan gambar yang baik



e.      Standar Teknis
                       1)    Bahan
Khusus untuk Lembar Transparan terbuat dari Injet Transparancy film, lembar film fotografi, plastik asetat bening atau bahan transparan lainnya
                       2)    Desain
a)    Setiap lembar bahan tayang hanya memuat satu ide, jika informasi yang akan ditulis terlalu banyak, gunakan beberapa lembar bahan tayang. Hal ini lebih baik daripada menggunakan satu lembar bahan tayang yang rumit.
b)    Butir-butir yang ditulis dalam satu lembar bahan tayang tidak lebih dari 6 (enam) pesan. Jika memang harus lebih, gunakan lembar bahan tayang secara tertutup dan bukalah butir demi butir setiap kali dibutuhkan
c)    Tulisan dalam lembaran bahan tayang tidak lebih dari sepuluh baris kalimat. Setiap baris terdiri atas enam atau tujuh kata.
                       3)    Huruf Dan Tulisan
a)    Ukuran huruf untuk teks tidak kurang dari 6 mm (14 point) dan judul tidak kurang dari 9 mm (24 point) agar dapat dibaca dari jarak ± 3 m
b)    Spasi 1 sampai 1,5
c)    Gunakan huruf sederhana untuk memudahkan pembaca
                       4)    Gambar
a)      Memuat gambar sunyi, tanpa gambar background yang tidak perlu
b)      Garis dibuat tebal sehingga dapat dilihat dengan jelas
f.     Penggunaan
                       1)    Digunakan di depan kelompok sasaran (audience) dengan penyaji menghadap audience sehingga terjadi kontak mata secara langsung
                       2)    Jangan menghalangi penglihatan pada layar
                       3)    Gunakan penunjuk seperti pensil dan semacamnya untuk mengarahkan perhatian pada suatu fokus tertentu. Jangan menunjuk pada layar kecuali kalau menggunakan pointer laser.
                       4)    Jangan berjalan di depan proyektor/LCD karena menghalangi pandangan
g.    Prosedur  Pembuatan:
                       1)    Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
                       2)    Rencanakan materi yang akan dibuat pada bahan tayang
a)      Buat konsep materi yang akan dibuat  dikertas
b)      Tulis/gambarkan materi yang telah dikonsep di atas bahan tayang
c)      Bahan tayang siap  digunakan.

2.    PembuatanFilm VCD/DVD atau bahan siaran TV
a.      Prosedur pembuatan FilmVCD/DVD atau bahan siaran TV
                                   1)      Pengumpulan bahan informasi
                                   2)      Penetapan topik/judul  sesuai dengan tujuan dan materi yang akan informasikan.
                                   3)      Penentuan bentuk film
a)      Dokumenter                                   
b)      Semi dokumenter                                         
c)      Wawancara atau berita kegiatan                                                   
d)      Fragmen.
4)      Pembuatan sinopsis dan skenario
b.      Hunting lokasi
c.       pembagian tugas dan tanggung jawab tim
                       1)    produser                  
                       2)    sutradara     
                       3)    Editor              
                       4)    Kameramen
                       5)    penulis skenario
                       6)    pemeran/pemain, dsb.
d.      Peliputan
e.      Editing
f.        Reproduksi, Siap Tayang.


3.    Pembuatan Naskah/Skenario/Visual Skript
Naskah audio visual berbeda dengan naskah media penyuluhan lainnya dimana memiliki format naskah yang berbeda. Namun pada dasarnya memiliki maksud yang sama sebagai penuntun dalam memproduksi suatu media penyuluhan artinya selain naskah itu penuntun didalam mengambil gambar dan merakam suara. Selain itu naskah juga berisi urutan gambar dan grafis yang perlu di ambil oleh kamera serta suara dan bunyi yang direkam.
Naskah audio visual atau skrip secara sederhana dapat di artikan suatu teks tertulis dari keseluruhan idea atau gagasan dan rincian isi yang terkandung  dalam media penyuluhan audio visual yang di buat. Naskah audio visual ini sebenarnya tidak untuk dibaca melainkan untuk didengarkan dan di lihat, karena itu perlu pemahaman dasar menghasilkan suatu naskah yang baik.
a.      Kegunaan naskah
Naskah sebagai rencana produksi suatu media penyuluhan audio visual nantinya dapat di gunakan oleh kerabat kerja dan teknisi suatu kegiatan produksi media penyuluhan.
Naskah memiliki 4 kegunaan, yaitu :
1)    Memberikan gambaran tentang gagasan atau pesan yang hendak di sampaikan dan secar detail termuat dalam media penyuluhan audio visual.
2)    Memungkinkan pengkajian isi untuk mengecek akurasi informasi atau pesan yang disampaikan.
3)    Mengorganisasikan isi dalam urutan yang tapat untuk memudahkan visualisasi dan memastikan bahwa instruksi-instruksi telah di sertakan.
4)    Menyediakan narasi untuk penyajian audio visual

a)      Menulis naskah
Pada penulisan naskah film bingkai, video dan film, lembaran naskah dibagi 2 sama lebarnya. Pada kolom sebelah kiri di cantumkan urutan gambar yang harus di ambil kamera serta penjelasan tentang sudut pengambilan gambar baik dalam klose up, medium shoot, long shoot, pan kanan, dst. Sedangkan kolom kanan di tuliskan narasi atau percakapan yang harus dibaca oleh para pelaku atau narator, Musik dan suara yang harus direkam.
Setelah menetapkan topik, tujuan, perlakuan dan synopsis serta kerangka isi (outline), selanjutnya kesuatu pekerjaan kreatif yaitu menulis naskah atau sekrip. Tiga langkah dalam menulis naskah :
(1)  Fokuskan pada pesan atau ide yang akan dikomunikasikan.
(2)  Visualisasikan ide dan kembangkan citra atau gambaran tentang hal itu dalam pikiran anda.
(3)  Tuliskan deskripsi atau gambaran dari ide yang hendak divisualisasikan sehingga tersusun menjadi serangkain informasi yang masing-masing berhubungan dengan citra visual tertentu. Setiap informasi tersebut diartikan sebagai frame. Frame-frame tersebut ditata dengan membuat story board. Kemudian unit informasi diatur berurutan sesuai dengan kerangka naskah. Pada naskah atau strip dasar tersebut kemudian dilakukan pengembangan draft yang dihasilkan menjadi suatu naskah yang baik.
Secara ideal naskah memiliki bagian-bagian penting yaitu :
(1)   Pendahuluan.
Pada bagian pendahuluan dimulai dengan sesuatu yang menarik sasaran. Untuk itu pengetahuan tenteng sasaran sangatlah penting sehingga akan tahu apa yang mereka minati dan apa yang menarik baginya. Kemudian perkenalkan topik atau materi yang akan dikemukakan.
Hindari pendahuluan yang bertele-tele. Nyatakan apa yang ingin didiskusikan dan diinformasikan hal tersebut menjadi kebutuhan dan perhatian sasaran.
(2)   Tubuh utama (isi).
Tubuh utama (isi) merupakan bagian penting dari suatu naskah. Karena ia merupakan bagian yang terpenting dari penyajian suatu audio visual. Untuk itu harus menulis bagian ini secara efektif untuk mengemas keseluruhan pesan/informasi.
(3)   Penutup.
Bagian ini merupakan dari seluruh penyajian. Penutup yang kuat akan membantu sasaran untuk mengingat pesan yang disampaikan. Untuk itu penutup sebaiknya diakhiri dengan saran tindakan. Inilah saatnya mengatakan kepada sasaran apa yang sebaiknya dilakukan dengan pengetahuan yang diperolehnya. Selain itu penutup sebaiknya membantu sasaran untuk menyimpan informasi dalam urutan yang tepat. Ia juga dapat membantu memahami secara lebih baik dan mengingatkan pesan/informasi lebih lama.
Agar dapat mengemas seluruh pesan/informasi dalam suatu naskah yang menarik dan efektif, dan baiknya mengikuti petunjuk berikut ini :
·         Gunakan kata-kata yang akrab.
Hindari memberi kesan kepada sasaran dengan kata-kata yang tidak lazim seperti kata-kata baru atau sulit yang tidak dipahami sasaran.
·         Tulisan untuk didengar
Ingat naskah adalah untuk didengar bukan dibaca. Untuk itu usahakan tidak bersifat formal.
·         Gunakan kata-kata yang pendek.








            Contoh
            SULUH MINA BAHARI
SIARAN TV/FILM DVD/VCD PENYULUHAN PERIKANAN


Judul Film                                           :  Kreasi Pengolahan Bandeng Cabut Duri

Durasi                                                 :       menit

Sasaran Penonton                             : Pelaku Utama dan Pelaku Usaha  
  Perikanan Serta Masyarakat Pedesaan
  dan Pesisir.

Produksi                                             : Pusat Pengembangan Penyuluhan KP

Penulis/Skenario                               : Sofyan Rivai

Sinopsis                                              :          

Permintaan kebutuhan produk hasil perikanan dewasa  ini semakin meningkat yang ditandai dengan semakin berkembangnya pasar dan banyaknya rumah makan yang menu lauk pauknya berbahan utama ikan, hal ini berdampak terhadap persaingan terhadap penjualan produk pengolahan hasil perikanan.  Tindakan untuk mempertahankan agar tidak terjadi kelesuan permintaan konsumen dan meningkatkan nilai tambah serta daya tarik untuk mengkonsumsi produk perikanan, ini menuntut para pengolah hasil perikanan untuk meningkatkan daya kreasinya dalam mengolah dan mengemas hasil perikanan.  Bandeng Tanpa Duri yang juga disebut bandeng cabut duri ini adalah salah satu produk pengolahan hasil perikanan berbahan ikan bandeng dengan kreasi keterampilan pengolahan mencabut seluruh  duri yang terdapat pada daging ikan bandeng sebelum dilakukan pengolahan lanjutan.


VISUAL SKRIPT

NO
Visual
Skript
Keterangan

Title
SULUH MINA BAHARI
MCU,CU
1.
Logo dan Title
Departemen Kelautan Dan Perikanan
                Mempersembahkan


LS, MCU, CU
2
Produksi :
Pusat Pengembangan Penyuluhan    BPSDM KP
CU
3.
Judul .,
Kreasi Pengolahan Bandeng Cabut Duri
LS,MCU,CU
4.
Potensi dan pemasaran hasil perikanan.
Dengan meningkatnya permintaan kebutuhan produk hasil perikanan dewasa ini ditandai dengan semakin berkembangnya pasar dan banyaknya rumah makan yang menu lauk pauknya berbahan utama ikan, hal ini berdampak terhadap persaingan penjualan produk pengolahan hasil perikanan.  Tindakan untuk mempertahankan agar tidak terjadi kelesuan permintaan konsumen dan meningkatkan nilai tambah serta daya tarik untuk mengkonsumsi produk perikanan, hal ini menuntut pengolah hasil perikanan untuk meningkatkan daya kreasinya dalam mengolah dan mengemas hasil perikanan.  Bandeng tanpa duri yang juga disebut bandeng cabut duri ini adalah salah satu produk pengolahan hasil perikanan berbahan ikan bandeng dengan kreasi keterampilan pengolahan mencabut seluruh  duri yang terdapat pada daging ikan bandeng sebelum dilakukan pengolahan lanjutan. Cara pengolahannya sebagai berikut ;


LS, MS,  MCU, CU,









4.
 Bahan dan peralatan
Pertama siapkan bahan dan peralatan yakni ; sebagai bahan terdiri dari ikan bandeng Es, air bersih dan kantong plastik. Sedangkan peralatan yang digunakan diantaranya ; Pisau, Talenan, pinset, sarung tangan, wadah, timbangan dan meja kerja.


MCU, CU
5.
Proses pembelahan ikan.
Untuk memudahkan proses pencabutan duri ikan, maka  sebelumnya ikan dibelah dengan cara menyayat bagian punggung ikan dengan pisau, arah penyayatan dimulai dari  bagian ekor mengarah kebagian punggung dan kepala sampai membelah bagian belakang. Selanjutnya isi perut dan insangnya dibuang.


MS,MCU, CU
6.
Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran yang melekat pada ikan.
MCU, CU
7.
Proses teknik pengolahan/pencabutan duri ikan bandeng.
Proses pembuangan dan pencabutan duri ikan dimulai dari ;
Ø  Buanglah tulang punggung ikan mulai dari bagian ekor hingga kebagian kepala dengan mengunakan pisau.
Ø  Cabutlah tulang/duri besar yang berada dipermukaan dinding perut ikan, jumlah tulang/duri besar sebanyak 16 pasang atau 32 buah.
Ø  Kemudian buatlah irisan memanjang pada guratan daging punggung bagian tengah dan bagian perut dengan menggunakan pisau, irisan dilakukan dengan hati-hati agar duri-duri tidak terputus. Selanjutnya pencabutan duri dengan cara memasukan pinset kedalam irisan tersebut. Kemudian pencabutan duri dilakukan satu persatu. Pada daging bagian punggung terdapat duri sebanyak 42 pasang atau 84 buah duri bercabang dan disepanjang lateral line terdapat 12 pasang (24) buah duri bercabang. Sedangkan pada daging bagian perit terdapat 12 pasang duri bercabang atau 24 buah. Selama proses pencabutan duri, suhu ikan harus dipertahankan tetap dingin. agar keadaan ikan tetap segar.
Ø  Rendemen atau berat ikan yang sudah diambil durinya sebesar 70 % sampai dengan 80 %.



MS, MCU, CU
8.
Pengemasan atau Pengolahan lanjutan.
Agar mempunyai daya awet yang lebih lama maka ikan bandeng yang sudah dicabut durinya agar segera dimasukan pada boox atau lemari pendingin/priezer. Ikan dapat dipasarkan dalam bentuk segar atau dilakukan pengolahan lanjutan dalam bentuk masakan siap saji. Misalnya dapat digoreng, dipepes, ikan kua bandeng dan dimasak dengan berbagai bentuk kreasi masakan lainnya.



MS, MCU, CU
9.

Selain Bandeng Cabut duri pada seri ini dikembangkan juga  industri ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan pendapatan pelaku utama dan membuka lapangan kerja  dipedesaan. Yakni ;
MCU, CP,
9.
Title
JUDUL BARU
INDUSTRI EKONOMI KREATIF (Pengolahan ikan pindang cue)

MCU, CU
10.

Kreasi pengolahan ikan pindang Cue bertujuan tidak hanya untuk memperpanjang daya awet produk perikanan tetapi juga juga dapat mengembangkan kreasi teknik pengolahan lanjutan sebagai masakan bentuk masakan yang lebih menarik dengan aroma dan rasa yang berpariasi.  Selain itu juga dapat mengembangkan kreasi pengemasan yang menarik. murah, mudah mendapatkan bahan kemasan disekitar lokasi pengolakan.

11.

Secara umum teknik pengolahan ikan pindang cue adalah sebagai berikut.
Ø  Ikan segar hasil tangkapan disiangi dan dicuci dengan air bersih, kemudian ditiriskan.
Ø  Selanjutnya ikan direndam dalam larutan air garam dingin atau yang diberi es selama 15 menit yang bertujuan untuk membersihkan sisa darah dan kotoran yang masih melekat pada ikan.
Ø  Ikan diangkat dan disusun dalam naya atau besek, tiap susun dapat dilapisi dengan daun pisang atau lainnya
Ø  Beberapa buah naya atau besek yang sudah diisi ikan digabung menjadi satu kesatuan ikatan. Untuk disusun dan dimasukan kedalam perebusan yang berisi larutan garam jenuh yang mendidih. Lama perebusan sangat berpariasi tergantung pada ukuran besar keculnya ikan dan permintaan pasar. Biasanya ada yang 15 menit, 30 menit dan 60 menit.
Ø  Selesai perebusan naya atai besek dan ikan disiram dengan air panas, gunanya untuk membersihkan dari kristal garam  atau kotoran yang terbawa dari air perebusan.
Ø  Kemudian naya atau besek yang berisi ikan didinginkan.
Ø  Selanjutnya siap dipasarkan.


12.
Title
Kerabat Kerja dan Sampai Jumpa.
CU

D.       Media penyuluhan Terdengar/ Audio kaset
Audio kaset/rekaman atau bahan siaran radio adalah media penyuluhan audio yang hanya mengandalkan bunyi dan suara untuk menyampaikan informasi dan pesan. Program audio akan sangat efektif bila dengan menggunakan bunyi dan suara yang dapat merangsang pendengar untuk menggunakan daya imajinasinya sehingga ia dapat menvisualkan pesan-pesan yang ingin disampaikan.
Audio kasset/rekaman biasa digunakan untuk siaran melalui Stasion Radio atau untuk Tipe Recorder yang dapat didengar secara perseorangan atau diperdengarkan sebagai bahan diskusi dalam kelompok.
1.    Bentuk naskah/siaran diantaranya :
a.  Dialog
b.  Wawancara/berita kegiatan
c.   Fragmen/Sandiwara radio
d.  Feature
e.  Majalah udara, dll
2.    Tahapan pembuatan
a.  tentukan Judul/topik
b.  kumpulkan bahan materi yang akan disusun
c.   buat  Lay out/kerangka
d.  buatlah draf konsep
e.  Periksa kembali konsep dan lakukan revisi jika perlu
f.    Uji coba atau minta masukan dari beberapa orang untuk mengetahui sejauhmana dapat memberikan informasi baik dari segi teknis pesan maupun tata naskah.
3.    Teknis Penulisan Naskah
Pada setiap pennulisan naskah berbeda-beda tergantung pada jenis media penyuluhan. Tiap-tiap jenis media penyuluhan mempunyai bentuk yang berbeda/khas,  namun pada dasarnya memiliki cara dan maksud yang sama. Pada naskah audio ( radio dan kaset ) lembar naskah terbagi dalam 2 kolom. Pada kolom sebelah kiri yang merupakan seperempat bagian kolom yang dituliskan pelaku, nama lagu dan suara-suara yang direkam.
Contoh format naskah Siaran Radio Dialog
No.
Pelaku / Jenis Suara
                            Teks / Suara
1.
Musik
In – Up – Down – Out
2.
Warno
Hem, dingin benar hari ini. Sebaiknya minum kopi hangat
Bu ..................... Bune ...................................
3.
Inem
(istri Warno)
(Off Mike). Ada apa pak ?
(Fade In)     Teriak-teriak, kayak memanggil orang tuli saja
4.
Warno
Udaranya sangat dingin. Saya ingin minum kopi yang hangat. Tolong buatkan bune !
5.
Inem
Kan sudah saya sediakan di atas meja.
6.
Warno
Oh, iya ?
7.
Fx
Tutup Gelas Bergeser dari Gelas
Suara Orang Minum Kopi Panas
8.
Warno
Wah, panas sekali kopinya.
9.
Inem
Tadi minta panas, dikasih panas kepanasan. Jadi serba salah
10.
Warno
Bu, Pak Penyuluh (Pak Asep) katanya mau datang jan berapa ?
11.
Inem
Kemarin katanya mau datang jam 08.00
12.
Dan seterusnya

   
Sumber:
Rivai S dan Fitriyanti D.N, 2010. Modul Media Penyuluhan Perikanan. Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.