Tuesday, 25 February 2014

PEMBENIHAN IKAN GURAMI (Osphronemus goramy)


I.  PENDAHULUAN
Ikan  gurami  merupakan   ikan   asli perairan Indonesia yang sudah menyebar  ke  wilayah  Asia  Tenggara  dan  Cina. Merupakan salah satu ikan labirinth dan secara   taksonomi    termasuk    famiii Osphronemidae. Ikan  gurami  adalah salah  satu   komoditas   yang   banyak dikembangkan oleh para petani hal ini dikarenakan  permintaan   pasar   cukup tinggi,  pemeliharaan  mudah  serta  harga yang relative stabil.

II.  SISTEMATIKA
Filum               : Chordata
Kelas               : Actinopterygij
Ordo                : Perciformes
Subordo          : Belontiidae
Famili              : Osphronemidae
Genus             : Osphronemus
Spesies           : Osphronemus goramy  Lac.
Secara morfologi, ikan ini memiliki garis lateral tunggal, lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah. Sirip ekor membulat Jari-jari   lemah   pertama   sirip   perut merupakan benang panjang yang berfunqsi sebagai alat peraba.
Tinggi badan 2,0 s/d 2,1 kali dari panjang standar. Pada ikan muda terdapat garis-garis tegak berwarna hitam berjumlah 8 sampai dengan 10 buah dan pada daerah pangkal ekor terdapat titik hitam bulat

III.  PEMBENIHAN
A.  Pemijahan
Ikan    gurami     dapat     memijah sepanjang tahun, namun produktifitasnya lebih   tinggi    terutama    pada    musim kemarau.   Adapun   hal   yang   perlu diperhatikan untuk pemijahan  ini adalah padat tebar induk, tata letak sarang, panen
telur dan  kualitas  air  media  pemijahan. Betina dicirikan dari  bentuk kepala  dan rahang serta adanya  bintik hitam pada kelopak  sirip.     Induk  jantan  ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah yang tebal terutama pada saat musim pemijahan dan tidak adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada.  Sedangkan induk betina ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawah tipis dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada.
Ikan gurami memiliki daging yang tebal dan rasa yang khas. Padat tebar induk adalah 1 ekor/5 m  dengan perbandingan jumlah jantan : betina adalah 1 : 3 atau 1: 4. Penebaran induk di kolam pemijahan dapat dilakukan  secara  berpasangan  (sesuai perbandingan) pada kolam yang disekat ataupun secara komunal (satu kolam diisi beberapa pasangan).  Induk betina dapat memproduksi telur 1.500 sampai dengan 2.500 butir/kg induk.
Sarang diletakkan 1 s/d 2 m dari tempat bahan sarang dengan kedalaman 10 s/d  15  cm  dari  permukaan  air.  Sarang dipasang   mendatar   sejajar   dengan permukaan air dan menghadap ke arah tempat  bahan  sarang.  Tempat  bahan sarang diletakkan di permukaan air dapat berupa anyaman kasar dari bambu atau bahan  lainnya  diatur  sedemikian  rupa sehingga  induk  ikan  mudah  mengambil sabut kelapa/ijuk untuk membuat sarang Pembuatan  sarang  dapat  berlangsung selama  1  sampai   dengan   2   minggu bergantung   pada   kondisi   induk   dan lingkungannya.
Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dapat dilakukan dengan cara meraba  dan   menggoyangkan   sarang secara perlahan  atau  dengan  menusuk sarang   menggunakan    lidi/kawat    dan menggoyangkannya. Sarang yang sudah berisi  telur  ditandai  dengan   keluarnya minyak/telur dari sarang ke permukaan air. Sarang yang sudah berisi telur diangkat Telur dipisahkan dari sarang dengan cara membuka sarang secara hati-hati. Karena mengandung    minyak,    telur    akan mengambang di permukaan air. Telur yang baik berwarna kuning bening sedangkan telur berwarna kuning keruh dipisahkan dan dibuang karena telur yang demikian tidak akan menetas.  Minyak yang timbul dapat diserap memakai kain. Kualitas media pemijahan yang baik adalah suhu 25 s/d 30° C, Nilai pH 6,5 s/d 8,0, aju pergantian air 10 s/d 15 % per hari dan ketinggian air kolam 40 s/d 60 cm.


B.  Penetasan Telur
Padat tebar telur 4 s/d 5 butir/cm2 dengan  ketinggian air 15 s/d 20 cm.  Kepadatan  dihitung  per  satuan  luas permukaan wadah sesuai dengan sifat telur yang mengambang. Untuk mempertahankan kandungan oksigen terlarut, di dalam media Penetasan perlu ditambahkan aerasi kecil tetapi harus dijaga agar telur tidak teraduk Kualitas air media  penetasan  yang  baik adalah suhu 29 s/d 30° C, nilai pH 6,7 s/d 8,6 dan bersumber dari air tanah.   Bila air sumber   mengandung    karbondioksida tinggi,  nilai  pH  rendah  atau  mengandung bahan logam (misalnya besi), sebaiknya air diendapkan dulu selama  24 jam.  Telur akan menetas setelah 36 s/d 48 jam.

C.  Pemeliharaan Larva
Setelah telur menetas, larva dapat terus dipelihara di corong penetasan/waskom sampai umur 6 hari kemudian dipindahkan ke akuarium.  Bila penetasan    dilakukan    di    akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan larva, penggantian air     hanya      perlu      dilakukan       untuk membuang  minyak  bila  minyak  yang dihasilkan ketika penetasan cukup banyak. Sedangkan bila larva sudah diberi makan, penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi air yaitu bila sudah banyak kotoran dari sisa pakan dan  Faeces.
Pemeliharaan  larva  di  akuarium dilakukan dengan padat tebar 15 s/d 20 ekor/liter. Pakan mulai diberikan pada saat larva berumur 5 s/d 6 hari berupa cacing Tubifex, Artemia, Moina atau Daphnia yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Kualitas air sebaiknya dipertahankan pada tingkat suhu 29 s/d  30° C, nilai pH 6,5 s/d 8,0 dan ketinggian air 1.5 s/d 20 cm.

D.  Pendederan I, II, III, IV dan V
Pemeliharaan      benih      pada pendederan  I sampai dengan V dapat dilakukan di akuarium atau kolam.   Di akuarium dilakukan sama seperti halnya pemelihaaran larva tetapi perlu dilakukan penjarangan. Sedangkan di kolam perlu dilakukan kegiatan persiapan kolam yang meliputi  pengolahan  tanah  dasar  kolam, pengeringan,   pengapuran,   pemupukan, pengisian air dan pengkondisian air kolam. Pengolahan  tanah  dasar  kolam  dapat berupa  pembajakan,   peneplokan   dan perbaikan pematang kolam.  Pengeringan dilakukan selama 2 s/d 5 hari (tergantung cuaca).

Tingkat Pemeliharaan Produksi Ikan Gurami

No
Standar
satuan
P1
P2
P3
P4
P5
1
Padat tebar
Ekor/m2
100
80
60
45
30
2
Ukuran benih
Cm
1
2
4
6
8
3
Prosentase pakan
% BB
20
20
10
5
4
4
Frekuensi pakan
Kali/hari
2
2
3
3
3
5
Waktu pemeliharaan
Hari
20
30
40
40
40
6
Sintasan
%
60
60
70
80
80

E.  Penyakit
Bila  teridentifikasi  ikan  terserang parasit pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian garam   500 s/d 1.000 mg/l dengan cara perendaman selama 24 jam. Sedangkan bila teridentifikasi terserang bakteri pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian oxytetracycline dengan dosis 5 s/d 10 mg/liter secara perendaman selama 24 jam.

Artikel disusun oleh: Fahrur Razi, S.ST (Penyuluh Perikanan pada Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan)

Monday, 24 February 2014

BUDIDAYA IKAN HIAS CORYDORAS


I.  PENDAHULUAN
Corydoras merupakan salah satu jenis  ikan  hias  air  tawar  yang  banyak diminati pecinta ikan hias dan mempunyai peluang ekspor. Selain digunakan sebagai ikan   hias   air   tawar,   juga    dapat dimanfaatkan   sebagai   bahan   baku pembuatan kosmetik di negara maju.
Walaupun ikan ini berasal dari Amerika Seiatan, tetapi sejak lama telah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Ikan ini    dikenal    mudah    pembudidayaannya bahkan dapat dilakukan pada skala rumah tangga,  karena  cara  budidayanya  yang relatif sederhana dibandingkan dengan ikan lain   dan   siklus   pemeliharaan   untuk mencapai ukuran pasar relatif singkat.

II.  CIRI MORFOLOGI
Bentuk tubuh pendek dan gemuk. Punggung lebih melengkung dibandingkan dengan perut. Kedua sisi ikan dilengkapi dengan lempengan seperti tuiang yang tersusun dalam dua baris, mempunyai dua pasang kumis yang terletak di rahang atas dan rahang bawah serta ukuran tubuh dapat mencapai 12 cm.
Ikan ini dapat dibudidayakan di kolam yang kandungan oksigen di dalam airnya rendah. Kondisi lingkungan yang cocok untuk jenis ikan ini adalah : pH 6 s/d 8, suhu 21,5 s/d 28° C dan hardness 2 s/d 25 ppm.

III.  PRASARANA DAN SARANA
Dalam pemeliharaan ikan corydoras diperlukan sarana berupa bahan dan alat yaitu :
  1. Induk  ikan  corydoras  betina  dan jantan.
  2. Wadah pemeliharaan berupa :
-        Bak pemeliharaan induk jantan dan   betina   secara   masal, sekaligus     sebagai     tempat pemijahan atau  akuarium yang berukuran 60 X 40 X 40 cm.
-        Bak pemeliharan larva dan benih secara masal.


  1. Pakan
-        Pakan induk berupa cacing tubifex atau  chironomous  serta  jentik nyamuk.
-        Pakan  larva  berupa  nauplii artemia
-        Pakan untuk pembesaran ikan corydoras hingga siap dipasarkan adalah cacing tubifex.

IV.  KEGIATAN OPERASIONAL
A.  Pemeliharaan Induk
Ikan    corydoras    mulai    dapat dipijahkan  minimal  pada  umur  delapan bulan. Pakan yang terbaik diberikan pada masa pemeliharaan induk adalah pakan yang banyak mengandung zat chitin seperti larva    nyamuk    yang    baik    untuk perkembangan telur.  Selain itu karena corydoras bersifat "bottom feeder" maka ikan  ini   lebih   responsif   pada   jenis makanan  seperti  cacing  tubifex  atau chironomus.
Cara      termudah      untuk membedakan jenis kelamin ikan corydoras adalah dengan melihat bentuk tubuh yang akan terlihat pada saat ikan corydoras mencapai ukuran calon induk. Ikan jantan mempunyai bentuk tubuh seperti terpedo. Bagian belakang insang meruncing hingga ke  ekor.  Tubuh  lebih  langsing   dan ukurannya lebih kecil daripada betina, dan sirip   dorsal   ikan   jantan   terlihat   lebih runcing. Tubuh ikan betina berukuran lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan dan perutnya yang tampak membundar berisi telur.

B.  Pemijahan
Pemijahan  ikan  corydoras  dapat dilakukan secara masal di bak semen, bak fibreglass    atau     akuarium    dengan perbandingan induk betina : jantan =1 : 2 atau 1 : 3. Penggantian air dilakukan setiap hari  untuk  menjaga  kualitas  air  media pemijahan.
Corydoras   mempunyai   karakter bertelur  dengan  menempelkan  telurnya pada suatu substrat seperti :  lempengan kaca, potongan pralon, ubin keramik atau batu     lempeng.     Ikan     corydoras mengeluarkan  telurnya  secara  parsial, sehingga  setiap  hari  dapat  ditemukan substrat yang ditempeli telur. Setiap induk mampu menghasilkan 200 s/d 350 butir telur.  Selanjutnya substrat yang dipasang diambil  untuk  ditetaskan  pada  wadah penetasan telur.

C.  Penetasan Telur
Telur yang menempel pada substrat selanjutnya ditetaskan di dalam akuarium. Telur akan menetas selama empat hari. Pada media pemeliharaan diberikan obat anti jamur antara lain methylene blue 0,1 ppm. Derajat penetasan telur berkisar 60 s/d 70%. Larva ikan corydoras dipelihara di akuarium tersebut sampai berumur tujuh hari  dengan  pemberian   pakan   berupa nauplii artemia.

D.  Tahap Pemeliharaan
Pemeliharaan larva dilakukan pada wadah berupa fibreglass atau bak semen. Padat penebaran  20  s/d  30  ekor/liter dengan masa pemeliharaan satu bulan. Selanjutnya dilakukan penjarangan untuk mencapai ukuran M (medium = sedang) yaitu dengan padat penebaran 10 s/d 15 ekor/liter dengan masa pemeliharaan 1 s/d 1,5 bulan dari ukuran S (Small = kecil). Untuk selanjutnya dapat dipasarkan. Derajat kelangsungan hidup yang dicapai adalah 60 s/d 70%.
Pemeliharaan   selanjutnya   lebih diarahkan  ke  pengadaan  calon  induk, karena biasanya pada ukuran L (large = besar)   permintaan   pasar   cenderung menurun.  Padat penebaran pada masa pemeliharaan dari ukuran M ke ukuran L adalah 5 ekor/liter. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan ikan sampai siap dipasarkan  berupa  cacing  tubifex  yang diberikan secara adlibitum.

E.  Pengelolaan Kesehatan Ikan
Beberapa jenis parasit yang sering menyerang ikan corydoras ini adalah : Trichodina sp., Epistylis, Glossatella sp. Dan Chillodonella sp. Sedangkan bakteri yang menyerang  biasanya  merupakan  infeksi sekunder yang terjadi akibat luka karena penanganan, atau serangan parasit yang mengakibatkan  terjadinya  luka.  Jenis bakteri yang ditemukan adalah Aeromonas hydrophilla.
Langkah    pencegahan    dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air dan kebersihan air media pemeliharaan dari kotoran  ikan   dan   sisa   pakan   yang diberikan,  serta  dengan  perlakuan  yang baik. Pengobatan yang banyak dilakukan
untuk     serangan     parasit     adalah menggunakan formalin 25 ppm, garam 500 ppm, sedangkan unt'jk penyakit bacterial menggunakan  oxytetracycline  10  ppm dengan cara perendaman.

Artikel disusun oleh: Fahrur Razi, SST (Penyuluh Perikanan pada Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan)

Friday, 21 February 2014

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN BLACK GHOST (Afteronotus albsfrons)


I.  PENDAHULUAN
Ikan   Black  Ghost  (Afteronotus albifrons, Linneaus) merupakan satah satu jenis ikan hias yang mempunyai peluang bisnis yang potensial. Ikan jenis ini belum banyak dikenal oleh masyarakat tetapi saat ini beberapa pengusaha ikan hias memproduksi benih sebagai  komoditas lokal maupun ekspor.
"Black Ghost" berasal dari sungai Amazon, Amerika Selatan merupakan ikan pendamai, yang ukurannya dapat mencapai 50 cm. Tubuhnya memanjang dan pipih dengan  warna  tubuh  hitam.  Ikan  ini digolongkan   ke   dalam   ikan   pisau (Knife fishes),  karena  secara  keseluruhan bentuk tubuhnya menyerupai pisau melebar dari bagian kepala dan badan kemudian melancip dibagian perut.
Persyaratan kualitas air media yang dikehendaki ikan Black Ghost yaitu "Soft"
(lunak)  dan  cenderung  asam,  walaupun demikian Black Ghost relatif dapat hidup pada kondisi air yang bervariasi. Black Ghost juga memilih makanan jenis tertentu, dapat  memakan  pakan  kering,  beku maupun   makanan   hidup,   walaupun demikian lebih suka jika diberi pakan cacing rambut.

II.  KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA
Sarana dan bahan yang diperlukan untuk  memproduksi  ikan  Black  Ghost adalah :
A.  Wadah Pemeliharaan dan Perlengkapan
v  Akuarium ukuran ( 40 X 40 X 80 ) cm sebagai tempat pemeliharaan  induk dan  sekaligus  tempat  pemijahan dilengkapi dengan tempat penempelan telur  berupa  baki  plastik  yang  diisi dengan batu, atau batang pohon pakis.
v  Akuarium ukuran ( 60 X 40 X 40 ) cm sebagai tempat penetasan telur.
v  Instalasi aerasi berupa blower, selang aerasi dan batu aerasi.
v  Peralatan  lain  seperti  selang  untuk mengganti air, scope net dan alat-alat pembersih akuarium (sikat, dan lain-lain).



B.  Pakan
v  Blood worm yang digunakan sebagai pakan induk.
v  Cacing rambut yang digunakan sebagai pakan  ikan  mulai  umur ± 2 minggu sampai dewasa.
v  Artemia, yang digunakan untuk pakan larva.

III.  KEGIATAN OPERASIONAL
Kegiatan    operasional    meliputi pemeliharaan  induk  dan  calon  induk, pemijahan, penetasan telur dan perawatan larva serta pendederan dan pembesaran.

A.  Pemeliharaan Induk
Perbedaan jantan dan betina ikan dewasa  terutama  dapat  dilihat  dari panjang dagunya (jarak antara ujung mulut dengan tutup insang). Pada ikan jantan, dagunya    relatif    lebih     panjang dibandingkan dengan ikan  betina.  Ikan jantan relatif lebih langsing dibandingkan dengan  ikan  betina  yang  mempunyai bentuk perut yang gendut.  Pada induk jantan  dewasa,  terdapat  cairan  putih (sperma) apabila diurut bagian perutnya. Induk Black Ghost dapat  matang  telur setelah bemmur sekitar satu tahun dengan panjang ± 15 cm.
Induk betina dan jantan dipelihara dalam  satu  wadah  berupa  akuarium berukuran ( 80 X 40 X 50 ) cm, yang dilengkapi dengan instalasi aerasi dengan pakan berupa blood worm yang diberikan dengan frekuensi 3 kali per hari secara adlibitum.  Pergantian air harus dilakukan setiap  hari  untuk  membuang. kotoran-kotoran yang terdapat di dasar akuarium dan menjaga kualitas media pemeliharaan.

B.  Pemijahan
Pemijahan dilakukan secara masal di dalam akuarium yang sekaligus sebagai tempat pemeliharaan induk. Perbandingan induk betina dan jantan adalah 2 : 1. Pada wadah pemijahan tersebut, ditempatkan baki plastik berukuran  ( 30 X 20 X 7 ) cm yang diisi dengan batu sebagai tempat penempelan telur dan pada bagian tengah baki   ditutup   dengan   baki   berlubang ( 20 X 15 X 10 ) cm untuk melindungi telur dari pemangsaan induknya sendiri. Untuk akuarium ukuran ( 80 X 60 X 50 ) cm dapat dipelihara 10 ekor induk betina dan paling sedikit 5 ekor jantan.
Lingkungan  tempat  pemeliharaan dan pemijahan ikan Black Ghost biasanya dibuat relatif gelap, dan ikan ini memijah pada  malam  hari.   Menjelang   terbit matahari, tempat penempelan telur berupa baki harus segera diambil dan dipindahkan ke tempat penetasan, untuk menghindari pemangsaan telur tersebut oleh induknya. Telur yang dipanen dari baki pemiiahan ± 200 butir/hari.

C.  Penetasan  Telur  dan  Perawatan Larva
Penetasan   telur   dilakukan   di akuarium dan akan menetas pada hari ketiga.  Makanan  berupa  nauplii  artemia mulai diberikan pada hari ke-10 setelah penetasan dan selanjutnya diberi cacing rambut secara adiibitum.

D.  Pendederan dan Pembesaran
Kegiatan   pendederan   dilakukan setelah  larva  dapat  memakan  cacing rambut, yaitu ± berumur 2 minggu, sampai ikan mencapai ukuran ± 1 inchi dengan lama  pemeliharaan  1  s/d  15  bulan sedangkan kegiatan pembesaran ikan Black Ghost dilakukan untuk mencapai ukuran komersial , yaitu 2 s/d 3 inchi. Wadah yang digunakan dapat berupa akuarium atau bak dengan padat tebar 2 s/d 5 ekor/liter.  Pakan  yang  diberikan  selama pemeliharaan adalah cacing rambut secara adlibitum. Ikan Black Ghost dengan ukuran 2 inchi dapat dicapai dalam waktu 2 bulan sedangkan ukuran 3 inchi dapat dicapai dengan menambah waktu pemeliharaan selama tiga minggu. Penyiphonan untuk membuang kotoran harus dilakukan setiap hari agar kualitas media tetap terjaga.

TEKNIK MEMPERBANYAK IKAN BETTA JANTAN


I.  PENDAHULUAN
Ikan  betta atau dengan sebutan populer ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai nilai komersial, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Sebagai ikan hias yang gemar bertarung, mempunyai  penampilan  yang  menarik yaitu mempunyai sirip yang relatif panjang dengan spektrum   warna yang bagus sedangkan  pada  ikan  betta  betina penampiLannya  kurang  menarik karena siripnya tidak panjang dan warnanya pun tidak cerah sehingga pada ikan betta, jenis kelamin  jantan    lebih  tinggi  harganya dibanding jenis kelamin betina. Dengan dasar itulah diperlukan upaya memperbanyak produksi ikan betta jantan, yang dapat dilakukan secara masal.

II.  TEKNIK PEMIJAHAN DAN PRODUKSI
Pada induk jantan yang matang gonad warna siripnya lebih cerah sedang pada induk betina perutnya membuncit dan secara  transparan,  telur  pada  saluran pengeluaran dapat terlihat. Pada prinsipnya pemijahan dilakukan secara berpasangan dalam  setiap  wadah  yang  terpisah (akuarium, ember atau dalam kotak-kotak yang ditempatkan di dalam bak). Sebelum dicampurkan,  induk  betina  dimasukkan dalam botol agar tidak mengganggu jantan dalam membuat sarang  busa.  Sarang dibuat dengan cara mengambil gelembung udara dari permukaan dan melepaskannya ke bawah permukaan daun atau tanaman air   yang mengapung di permukaan air. Proses ini berlanjut berjam-jam dengan sesekali berhenti untuk makan.
Bila sarang telah siap, induk betina dikeluarkan   dari   botol,   dicampurkan dengan  jantan  agar  dapat  memulai pemijahan. Pada saat pemijahan tubuh jantan   menyelubungi    induk    betina membentuk huruf "U" dengan ventral saling  berdekatan  selama  ±  1  menit sampai mengeluarkan telur yang segera dibuahi sperma. Telur perlahan tenggelam dan akan segera diambil oleh induk jantan dengan  mulutnya  untuk  selanjutnya diletakkan   di   sarang   busa.   Proses pemijahan berlangsung selama ± 1 jam dengan 20 s/d 25 tahap. pemijahan yang sama. Ketika aktifitas pemijahan berakhir, induk  betina  dipindahkan  dari  tempat pemijahan untuk dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk, namun sebaiknya lebih dulu dimasukkan dalam larutan methyline blue  2  mg/liter  selama  24  jam  untuk mengobati luka yang mungkin ada setelah pemijahan. Sedang induk jantan tetap pada wadah  pemijahan  untuk merawat dan menjaga  telur sampai  menetas.  Dalam setiap  kali   pemijahan  diperoleh  telur sebanyak 1.000 s/d 1.500 butir. Selanjutnya pemeliharaan larva dan pendederan serta pembesaran dapat dilakukan pada wadah berupa bak tembok dengan pakan berupa cacing    Tubifex sp. atau Chironomus sp. untuk siap dipasarkan.

III. TEKNIK MEMPERBANYAK IKAN BETTA JANTAN
Ikan betta jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan sirip-sirip yang lebih panjang dibandingkan ikan betta betina. Oleh karena itu ikan betta jantan lebih diminati konsumen dan mempunyai nilai komersial yang lebih tinggi dibandingkan yang betina. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan teknik memperbanyak produksi ikan  betta  jantan  dalam  setiap  kali pemijahan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan  adalah  dengan  pemberian hormon androgen pada masa diferensiasi kelamin.
Teknik pemberian hormon tersebut adalah dengan cara merendam telur ikan betta pada fase bintik mata ( ± 30  jam setelah  pemijahan)  ke  dalam  larutan hormon 17 Alpa Metiltestosteron dengan konsentrasi 20 mg/liter air selama 8 jam. Pembuatan larutan hormon tersebut adalah dengan cara melarutkan hormon sebanyak 20 mg ke dalam 1 ml alkohol 70% dan selanjutnya dimasukkan ke air yang akan dipakai merendam sebanyak 1 liter.
Telur hasil perendaman dimasukkan kembali ke dalam wadah yang berisi air dengan diberi larutan methyline blue untuk mencegah timbulnya jamur dalam proses
penetasan.Tahap selanjutnya sama dengan prosedur pembenihan ikan betta sampai berumur tiga bulan untuk dapat dibedakan jenis   kelaminnya.   Diharapkan   dengan pemberian hormon steroid tersebut dapat memperbanyak ikan betta jantan sampai dengan 95% dalam setiap pemijahan.

Wednesday, 19 February 2014

TEKNIK PEMBENIHAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de man)


I.      PENDAHULUAN
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de man) merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi baik untuk konsumsi dalam negeri maupu ekspor. Permintaan pasarpun semakin meningkat, sedangkan penangkapan udang galah di alam semakin sulit, sehingga perlu dikembangkan usaha budidayanya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan benih dalam dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan melakukan pembenihan.

II.  BIOLOGI
Udang galah termasuk famili Palamonidae dengan species Macrobrachium resenbergii. Badan udang terdiri dari tiga bagian  : Kepala dan dada (Cephalotorax), badan (abdomen) serta ekor (uropoda). Cephalotorax dibungkus oleh kulit keras, dibagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergerigi disebut rostrum padabagian atas sebanyak 11 s/d 13 buah dan bagian bawah 8 s/d 14 buah. Pada udang jantan pasangan kaki jalan kedua tubuh panjang dan cukup besar dapat mencapai 1,5 kali panjang badan, sedangkan pada betina relatif kecil.
Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup diair payau dan kembali ke air tawar pada stadia juwana hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorfose terjadi sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30 s/d 35 hari.  Udang galah bersifat omnivora,cendrung aktif pada malam hari.

IIIPEMBENIHAN
A.    Seleksi Induk
Beberapa persyaratan induk :
v   Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr.
v   Jumlah telur cukup banyak.
v   Badan bersih, baik dari kotoran  maupun organisme yang bersifat parasit.
v   Umur induk antara 8 s/d 20 bulan.
v  Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya.
v   Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat.

B.    Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara di kolam dengankepadatan 4 ekor/m2 , diberi pakanberupa pellet dengan kandungan protein 30 % sebanyak 5 % dari berat tubuh . Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik dikolam  maupun dibak beton dilengkapi  dengan pintu pemasokan dan pengeluaran dengan kedalaman 80 s/d 100 cm.

E.  Pemeliharaan Larva
Pemeliharan larva udang galah dilakukan pada bak bulat (conicle tank dari fiberglass). Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tersebut antara lain kualitas air dan pemberian pakan. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan bukan mulut larva. Pada hari ke 3 setelah penetasan diberi pakan nauplii “Artemia” dengan frekuensi pemberian pakan 3 jam sekali.
Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 25 s/d 50, sebelumnya kotoran dibersihkan  dengan cara disipon. Salinitas media pemeliharaan lavra dipertahankan 10 s/d 12 ppt. Setelah menjadi juwana salinitas media diturunkan secara bertahap menjadi 0 ppt kemudian kemudian juwana siap dipasarkan atau ditebar kekolam untuk dibesarkan sampai ukuran konsumsi.

II.     PENYAKIT
Penyakit merupakan salah satu factor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah. Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bacterial yang bersal dari air laut yaitu Vibrio sp. Dengan ditandai semacam stress, fluorisensi pada laeva yang mati  dan terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat.
Untuk mencekgah terjadinya serangan bacterial perlu adanya “Chlorinisasi” media dan pengeringan fasilitas selama 7 hari. Jika sudah terserang, pengobatannya menggunakan antibiotik dengan dosis 11 s/d 13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.

ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN PENYULUHAN PERIKANAN: PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA IKAN BAWAL AIR TAWAR DENGAN MEDIA KOLAM TERPAL BUNDAR PADA KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN (POKDAKAN) JUARA BERSAMA

RINGKASAN EKSEKUTIF Percontohan penyuluhan perikanan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menguji efektivitas penerapan teknologi budida...