Friday, 14 March 2014

BUKU TABUNGAN DAN IURAN KELOMPOK


A.   PENTINGNYA BUKU ADMINISTRASI KELOMPOK
Buku administrasi kelompok adalah buku pencatatan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan dan perkembangan kelompok.Kesan pertama yang terlihat pada suatu  kelompok pelaku utama  yang baik adalah pengelolaan admnistrasi yang tertib dan benar. Sehingga kemampuan kelompok dalam melaksanakan administrasi dengan baik perlu dibina terus sampai mereka terbiasa melakukannya.
Kegunaan adminstrasi kelompok antara lain adalah:
1.    Sebagai alat kontrol
2.    Sebagai alat dokumentasi
3.    Sebagai alat/bahan pengambilan keputusan
4.    Sebagai alat monitirong/evaluasi kelompok
5.    Sebagai alat memupuk kepercayaan anggota
6.    Sebagai alat ukur keberadaan kegiatan kelompok
7.    Sebagai alat ukur pengembangan kelas kelompok

B.    BUKU TABUNGAN/IURAN KELOMPOK
Buku  Tabungan/Iuran Kelompokadalah catatan pemasukan kas kelompok yang berasal dari iuran wajib, iuran sukarela, tabungan wajib dan tabungan sukarela anggota masing-masing anggota kelompok. Manfaat Buku Tabungan/IuranKelompok adalah:(1) mendata keluar masuk dan saldo keadaan keuangan kelompok; (2) mengetahui jumlah iuran dan tabungan setiap bulan dan setiap tahunnya; dan (3)memudahkan pelacakan status iuran dan tabungan anggota kelompok .
Format Buku Tabungan/Iuran Kelompok:
Bulan              : ..................
NO.
NAMA ANGGOTA KELOMPOK
TABUNGAN
IURAN BULANAN
IURAN …………………….
PARAF PENCATAT
TANGGAL
BANYAKNYA (Rp.)
TANGGAL
BANYAKNYA (Rp.)
TANGGAL
BANYAKNYA (Rp.)
 1.








 2.








 3.








 4.








 5.








 6.








 7.








 8.








 9.








10.








Catatan: setiap lembaran dalam buku ini menggambarkan tabungan dan iuran bulanan.

REFERENSI:
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: KEP.14/MEN/2012 tentang Pedoman Umum Penumbuhan dan Pengembangan Kelembagaan Pelaku Utama Perikanan.
Razi F., 2011. Membangun Kelembagaan Pelaku Utama Perikanan yang Dinamis dan Mandiri. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan BPSDMKP, Jakarta.
Santosa S., 2004. Dinamika Kelompok Edisi Revisi. Penerbit: Bumi Aksara, Jakarta.

Tim Pusbangluh, 2008. Modul Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Penyuluhan Perikanan. Pusat Pengembangan Penyuluhan BPSDMKP, Jakarta.

PEMILIHAN KEMASAN PRODUK PERIKANAN



Ikan merupakan salah satu bahan makanan berprotein tinggi, ikan mempunyai peranan yang sangat dominan, karena secara nasional baik produksi maupun konsumsi hasil perikanan sangat tinggi. Tetapi ikan adalah bahan pangan yang mudah rusak, sehingga sering terjadi kemunduran mutu produk dan harga jual. Tingginya tingkat konsumsi ikan di Indonesia, yang diiringi dengan besarnya produksi budidaya ikan, perlu diimbangi dengan pengolahan dan pengemasan produk perikanan.
Pengemasan bertujuan untuk melindungi produk, penyimpanan, informasi dan promosi produk serta pelayanan kepada konsumen. Pengemasan produk perikanan ini sejalan dengan factor kunci dalam konsep industrialisasi perikanan yaitu peningkatan nilai tambah (value added), efesiensi dan daya saing (bargaining position), dimana ke-tiga factor tersebut akan mampu mendorong terciptanya iklim usaha yang positif sebagai upaya dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, hal yang wajib disampaikan dalam kemasan pangan antara lain :
1.     Ijin edar
2.     Merek dagang
3.     Nama produk
4.     Daftar bahan yang digunakan atau komposisi
5.     Berat/isi
6.     Nama dan alamat yang memproduksi
7.     Tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa
8.     Keterangan tentang halal
Secara umum di Indonesia, beberapa keterangan lain yang sebaiknyaadadalamkemasan :
ü Petunjuk penyimpanan
ü Petunjuk penggunaan
ü Nilai gizi
ü Pernyataan khusus (susu, babi, makanan bayi, pemanis buatan, pengganti asi, bahan tambahan, bahan iradiasi)
ü Klaim diusahakan sedekat mungkin dengan fakta untuk menjaga integritas brand
ü Barcode
Kemasan sebagai bahan pelindung dan pembatas terhadap lingkungan dapat membantu melindungi mutu produk selama distribusi, menambah ketertarikan konsumen terhadap produk (tampilan fisik), dan mempermudah pemberian informasi mengenai produk. Kemasan yang langsung berhubungan dengan produk disebut sebagai kemasan primer.
Ada berbagai jenis kemasan yaitu dari kertas (termasuk karton), plastik, metal seperti aluminium atau stainless steel, komposit (campuran), dan foil berupa lapisan tipis baik dari metal seperti aluminium atau plastik. Dari berbagai jenis kemasan tersebut plastik semakin mendominasi karena dapat dibentuk dalam berbagai ukuran dan bentuk sesuai kebutuhan, ringan, kuat sekaligus fleksibel.
Kemasan primer untuk produk ikan ditentukan oleh jenis produk yang hendak dikemas. Kemasan untuk ikan curah berbeda dengan ikan di tingkat eceran. Untuk ikan segar curah, kemasan berupa wadah yang terbuat dari plastik Polyetilen (HDPE) densitas tinggi memberikan berbagai kemudahan yaitu kuat sekaligus ringan, mudah dibersihkan dan tahan terhadap bahan-bahan kimia. HDPE dapat dipakai untuk mengemas beragam bobot ikan beserta es untuk pendingin untuk jarak distribusi yang cukup jauh. Untuk ikan bentuk fillet yang dikemas dalam wadah PE, harus disusun dengan tumpukan tipis dan diberi pembatas plastik. Kemasan dari plastik polystiren sulit dibersihkan dan dipakai ulang, sedangkan stirofoam memiliki kelemahan tidak kuat dan mudah pecah.

Referensi:
http://www.kkp.go.id

Thursday, 13 March 2014

TEKNIK PEMBESARAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de man)


I.      PENDAHULUAN

Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de man) adalah komoditas perikanan air tawar yang merupakan salah satukekayaan perairan Indonesia. Selain mempunyai ukuran terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainnya juga mempunyai nilai ekonomis penting karena sangat digemari konsumen  baik di dalam maupun di luar negeri terutama di Jepang  dan beberpa negara Eropa.
Oleh karena itu Derektorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan mencanangkan pada tahun 2003 udang galah ini menjadi salah satu andalan komoditas ekspor.

II.    PEMBESARAN
A.    Sarana dan Fasilitas
Jenis tanah yang cocok untuk pemeliharaan udang galah adalah tanah yang sedikit berlumpur dan tidak porous. Luas kolam yang digunakan dapat bervariasi antara 0,2 s/d 1,0 Ha. Sebaiknya berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman kolam antara 0,5 s/d 1,0 m.n Dasar kolam harus rata dan dibuat kemalir (caren) secara diagonal dari saluran pemasukan sampai kesaluran pembuangan, hal ini memudahkan untuk pemanenan. Kualitas air yang masuk ke kolam arus baik dan bebas dari polusi.

B.    Pengelolaan kolam
Sebelum ditanami udang galah kolam sebaiknya dipersiapkan  terlebih dahulu secara baik dengan cara :
v  Kolam dikeringkan dam di cangkul untuk mengemburkan dan biarkan selama 3 s/d 5 hari.
v  Untuk memberantas hama dan penyakit dasar kolam diberi kapur dengan dosis 50 s/d 100 gr/m2, Kapur dicampur dengan air kemudian disebarkan secara merata keseluruhan permukaan dasar kolam dan biarkan selam 2 s/d 3 hari.
v  Kolam diisi air sampai mencapai kedalaman yang sudah ditentukan kemudian diberi pupuk organic berupa kotoran ayam sebanyak  500 gr/m2 maksudnya untuk menumbuhkan pakan alami.

C.  Teknik Pemeliharaan
Benih udang yang siap dipeliharan di kolam  adalah benih udang stadia juwana atau tokolan. Pemeliharaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

§  Monokultur
Pemeliharaan secara monokultur adalah pemeliharaan udang dikolam tampa dicampur dengan ikan lain. Padat penebaran sebanyak 5 s/d 10 ekor/m2 bila pemberian pakan tidak intensif dan 20 s/d 30 ekor/m2 dengan pemberian paka secara intensif.
§  Polikultur
Pemeliharaan secara polikultur  adalah pemeliharaan udang di kolam disatukan  dengan ikan lainnya. Adapun yang dapat dibudidayakan dengan udang adalah ikan mola, ikan tawes, ikan nilem, dan ikan “big head”. Padat penebaran udang galah  sebanyak 1 s/d 5 ekor/m2 sedangkan padat penebaran ikan 5 s/d 10 ekor/m2 ukuran 5 - 8 cm. Selama pemeliharan dapat dilakukan pemupukan  susulan setiap 2 s/d 3 minggu  berupa Urea 3s/d5 kg dan TSP 5s/d10 kg/Ha kolam.

D.    Pemberian Pakan
Selain makan alami selama pemeliharaan udang galah perlu diberikan pakan tambahan berupa pellet udang dengan kadar protein 25 s/d 30 % karena makan alami yang tersedia tergantung pada tingkat kesuburan perairan kolam. Pada pemeliharaan secara monokultur jumlah pakan tambahan  yang diberikan mulai 20 % menurun sampai 5 % dari berat badan total populasi, dengan frekuensi pemberian 4 s/d 5 kali sehari, sedangkan pada pemeliharaan secara polikultur  jumlah pakan tambahan yang diberikan  mulai 6 % menurun sampai 3 % dari berat badan total populasi dengan frekuensi  pemberian 4 s/d 5 kali sehari.




E.  Pemanenan
Pemanen udang galah dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

§  Panen total
Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara total sehingga produksi total dapat segera diketahui . Kerugian system ini adalah udang yang masih kecil  ikut dipanen serta membuang air yang sudah kaya  dengan organisme dan mineral.

§  Pemanenan Selektif
Panen selektif dilakukan dengan menggunakan jarring tampa harus mengeringkan kolam, yang tertangkap hanya udang ukuran tertentu saja. Pemanenan selanjutnya  tergantung kepada tingkat pertumbuhan udang. Kerugian sistim ini adalah banyak membutuhkan tenaga dan bila ada ikan predator tidak dapat dibersihkan dari kolam.

F.  Predator dan Penyakit
a.    Predator
Predator pada pemeliharaan udang galah di kolam  adalah beberapa jenis ikan seprti catfish (lele local) dan Snakehead, burung dan ular. Kepiting merupakan pengganggu juga karena hewan tersebut melubangi pematang kolam. Untuk mencegah masuknya hewan predator, pada saluran pemasukan air dipasang saringan dan disekeliling pematang dipasang  net setinggi 60 cm.
b.    Penyakit
Penyakit yang banyak menyerang udang galah adalah “Black spot” yaitu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri dan kemudian diikuti oleh timbulnya jamur, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian dan menurunnya mutu udang. Untuk mencegah penyakit yang diakibatkan oleh bakteri ini digunakan obat antibaktrial yang diberikan secara oral melalui pakan.

G.  Kualitas Air
Timbulnya penyakit pada udang biasanya disebabkan oleh kualitas air pada kolam kurang baik . Hal ini biasanya diakibatkan oleh padat penebaran yang terlalu banyak , rendahnya kandungan oksigen, pengaruh suhu serta tingginya derajat keasaman (pH) sehingga dapat menimbulkan banyaknya kematian.
Air yang dipakai dalam pembesaran udang galah di kolam sebaiknya bebas dari polusi dengan kandungan oksigen  lebih dari 7 mg/l, suhu optimum 27 s/d 300C, derajat keasaman (pH) 7,0 s/d 8,5 dan kesadahan total  antara 40 s/d 150 mg/l.

Artikel disusun oleh: Fahrur Razi, S.ST (Penyuluh Perikanan pada Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan)

ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN PENYULUHAN PERIKANAN: PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA IKAN BAWAL AIR TAWAR DENGAN MEDIA KOLAM TERPAL BUNDAR PADA KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN (POKDAKAN) JUARA BERSAMA

RINGKASAN EKSEKUTIF Percontohan penyuluhan perikanan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menguji efektivitas penerapan teknologi budida...